
Suara angin bak sebuah melodi indah mengiringi Jeanne yang sedang melukis seperti sebuah berkah yang diturunkan dari langit
Goresan demi goresan cat tertoreh pada kanvas yang putih bersih itu. Sedikit demi sedikit gambar mulai terlihat jelas. Tapi bukan gambar pemandangan yang terlukis di kanvas itu melainkan sebuah lukisan Jo yang sedang membaca dokumen yang sedang memakai setelan berwarna putih seperti seorang pangeran dari negri dongeng keluar dari buku..
Jeanne fokus melanjutkan lukisannya tanpa terganggu oleh keadaan sekitarnya. Si pelayan yang sedari tadi di sebelah Jeanne pun terkagum melihat lukisan Jeanne yang setengah jadi tapi sangat indah itu. tapi dia tetap diam saja karena takut mengganggu nonanya yang fokus melukis tersebut.
Setelah beberapa saat akhirnya lukisan tersebut pun selesai. Jeanne memegang pinggiran dari kanvas tersebut dan mengangkat lukisan tersebut tinggi-tinggi
Jeanne tak berhenti terkagum melihat lukisannya yang seperti sudah sebuah foto tersebut. Pelayan yang di sisi Jeannepun bertepuk tangan untuk mengapresiasi nonanya tersebut.
"Gambar yang sangat bagus nona"
Dengan seketika Jeanne pun menoleh sambil tersenyum dengan wajahnya yang merona bak sebuah tomat merah ranum itu.
"Terimakasih... "
Kemudian Jeanne kembali menoleh menatap lukisan tersebut dan berjalan ke depan balkon kamarnya. Jeanne kemudian terlihat seperti membandingkan lukisannya dengan Jo yang masih duduk di halaman belakang sana.
"Tapi kakak disana jauh lebih tampan hehehe" ucap Jeanne sambil tertawa pelan.
Si pelayan terlihat sangat gemas melihat tingkah nonanya tersebut. Tapi si pelayan berusaha menutupi perasaannya dan kemudian membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu
"Iya tuan muda Jo sangat tampan... Tapi lukisannya belum kering jadi kita harus mengeringkannya dulu" ucap si pelayan sambil berusaha mengambil lukisan yang ada di tangan Jeanne
Jeanne yang tersadar dengan kebenaran yang dikatakan oleh si pelayan tersebut kemudian memberikan lukisan tersebut kepada si pelayan agar bisa dikeringkan dengan sempurna.
Segera setelah menerima lukisan tersebut, si pelayan berjalan keluar dari kamar Jeanne. Kemudian Jeanne berjalan mengikuti si pelayan yang membawa lukisan milik Jeanne tersebut.
Jeanne dan si pelayan berjalan menyusuri koridor lalu sampailah mereka di sebuah ruangan seni milik keluarga Chevron. Mereka berdua memasuki ruangan tersebut dan menaruh lukisan Jeanne di dekat jendela ruangan tersebut.
Jeanne kemudian merapikan beberapa bagian di lukisan tersebut menggunakan sebuah alat yang hanya terdapat di ruangan seni tersebut.
"Selesai...." ucap Jeanne sambil mengelap keringat yang ada di pelipisnya.
Si pelayan kemudian melirik wajah Jeanne. Dan tanpa pelayan itu kira dan juga Jeanne pun tidak sadar, wajah Jeanne dipenuhi dengan cat yang berwarna-warni.
Hal itu membuat si pelayan menahan tawanya, kemudian Jeanne menoleh ke arah pelayan tersebut dengan kebingungan dan menaikkan salah satu alisnya
"ada apa?"
Melihat ekspresi lucu Jeanne yang kebingungan itu, si pelayan berdehem pelan sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menahan tawanya dan akhirnya berbicara
"Nona harus mencuci muka nona... Itu penuh dengan cat"
Mendengar jawaban si pelayan tersebut dan melihat dari ekspresi si pelayan tersebut yang sedari tadi seperti menahan tawa, Jeannepun memegang wajahnya dengan jarinya kemudian melihat jari yang tadi memegang wajahnya. Dan benar saja ada beberapa warna yang menempel di jarinya.
Seketika Jeanne pun mengetuk kepalanya pelan dengan tangannya sambil tersenyum seperti orang bodoh
"Ah iya... Ayo kita keluar" ucap Jeanne sambil berjalan ke arah pintu untuk keluar dari ruangan tersebut.
Setelah itu Jeanne pun kembali ke kamarnya, kemudian mandi dan bersih-bersih. Si pelayan tersebut juga membersihkan semua alat melukis Jeanne dan mengembalikan semua alat tersebut ke ruangan seni tadi.
Setelah mandi dan ganti baju serta meminum obat miliknya, Jeanne segera berlari kecil keluar kamar dan melintasi lorong-lorong Mansion tersebut untuk mencapai keruangan seni tadi. Sambil berlari melintasi lorong-lorong tersebut Jeanne bergumam
"Kalau lukisan itu sudah kering aku akan menghadiahkan itu ke kak Jo"
Tapi alangkah terkejutnya Jeanne, ketika melihat pintu ruangan seni terbuka begitu saja. Sebuah pikiran buruk melintas di kepala Jeanne. Dengan segera Jeanne yang mempercepat larinya dan segera masuk ke ruangan
Setelah masuk di ruangan, Jeanne terkejut melihat sebuah siluet sedang memegang lukisannya. Tapi tidak mengetahui siapa itu karena dia berdiri tepat di depan jendela yang silau itu
Dengan ragu Jeanne membuka mulutnya dan berbicara
"Ka.. Kakak?"
Seketika orang tersebut menoleh mendengar namanya dipanggil. Orang tersebut menoleh ke arah Jeanne tapi orang tersebut tidak langsung berjalan menghampiri Jeanne dan hanya diam.
Karena tak ada jawaban, Jeanne pun mendekat untuk melihat siapa orang yang ada di hadapannya tersebut. Jeanne merasa setiap langkah dia mendekat ke orang tersebut jantungnya seakan berhenti.
Ketika Jeanne ingin melangkah lebih dekat lagi, orang tersebut mulai berjalan mendekat ke arah Jeanne. Semakin dekat orang tersebut ke arah Jeanne, semakin jelas wajah orang tersebut.
Seketika Jeanne pun menghela nafas lega, melihat orang yang ada di depannya tersebut adalah Salzano. Salzano yang terlihat gemas melihat ekspresi panik Jeanne pun mengusap lembut kepala Jeanne.
"Apa setakut itu kamu pada kakak?"
Jeanne hanya menggeleng sambil tersenyum kaku. Kemudian Jeanne menatap lukisan yang ada di tangan kiri Salzano. Salzano mengikuti arah tatapan Jeanne. Kemudian Salzano menepuk pundak Jeanne lembut sambil tersenyum.
"Kenapa kamu hanya melukis bocah tengik ini? Kakakmu yang imut ini tidak di lukis juga?" ucap Salzano sambil berpose imut dengan kedua jari yang dibentuk hati kecil.
Jeanne merasa geli dengan tingkah kakaknya tersebut kemudian tertawa.
"Aku juga akan melukis kakak nanti!" ucap Jeanne sambil tersenyum ceria.
Salzano melihat adiknya tersebut dengan mata bahagia, walaupun Jeanne sakit dia tetap seceria ini. Salzano pun memberikan lukisan tersebut kepada Jeanne dan Jeanne pun menerima lukisan tersebut sambil memeluknya di dadanya.
"Lain kali simpan yang benar atau bocah tengik itu akan menghancurkannya"
Mendengar perkataan Salzano tersebut, Jeanne langsung mengangguk dengan cepat tanda paham akan perkataan tersebut.
Kemudian mereka berdua berjalan beriringan keluar dari ruangan seni tersebut dan kemudian berpisah karena arah kamar mereka berbeda.
Jeanne yang sedang bahagia itu berlari ke arah kamarnya sambil memeluk lukisan tersebut. Setelah masuk kamarnya, Jeanne segera mencari-cari posisi yang pas untuk menaruh lukisan pertamanya tersebut.
Akhirnya Jeanne menaruh lukisan Jo tersebut di sebelah boneka kesayangannya sambil tersenyum.
Tapi Jeanne sama sekali tidak tau kalau mulai besok sebuah neraka di dunia akan hadir dan senantiasa menemaninya sampai dia mati