
Hari ini adalah hari Rabu yang sangat cerah. Matahari tersenyum dengan indahnya di atas langit sana. Udara yang tidak terlalu terik dan sangat sejuk, Pepohonan di belakang Mansion keluarga Chevron yang menjulang tinggi dan juga rindang. Dedaunannya yang menari-nari diterpa angin.
Disinilah Jo, di bawah pohon besar yang rindang dengan angin yang berhenbus perlahan. Karl yang berdiri disamping Jo juga hanya bisa menatap Jo. Beberapa waktu lalu saat Karl ingin duduk di kursi sebrang Jo, Jo bilang
"Kau merusak pemandanganku.."
Dengan nada yang sangat dingin dan tatapannya yang tajam. Karena hal itu Karl tidak berani duduk, yah walaupun Karl sudah terbiasa berdiri di samping Arnold saat rapat yang tidak 1 - 2 jam selesai itu. Tapi tetap saja di hati kecil Karl, dia ingin duduk santai dan menikmati udara yang sejuk dan nikmat ini. Karl hanya bisa menghela nafas ringan setelahnya.
Jo duduk di kursi sambil mengerjakan beberapa berkas yang ada di meja di depannya. Sejak rapat hari itu, Jo mulai sibuk dengan mengurus beberapa berkas yang diberikan Arnold, juga rapat rapat kecil atau sekedar melakukan observasi ke lapangan. Dan tentu saja berkas yang dikerjakan oleh Jo juga tidak sebanyak yang di berikan oleh Arnold kemarin
Sejujurnya Jo juga sangat bersyukur karena berkas yang dia kerjakan tidak sebanyak kemarin. Jadi Jo bisa mengerjakannya dengan santai.
Tap tap tap
Suara langkah kaki mendekat ke arah Jo, Jo yang sedang membaca berkas itu kemudian mendongak kearah datangnya suara langkah kaki itu. Jo melihat dengan samar, kakaknya yaitu Salzano sedang berjalan kearahnya dengan gagahnya.
Jo membulatkan matanya dan tersenyum tipis melihat kakanya itu.
"Yo.. selamat pagi Jo" ucap Salzano sambil melambaikan tangannya pada Jo
"Ah ya selamat pagi juga kak" jawab Jo
"Ah.. Ini masih pagi dan kau sudah serajin itu mengerjakan berkas-berkas dari ayah" ucap Salzano sambil mengambil berkas dan membacanya sekilas
"Apa kakak sedang mengejekku?" ucap Jo sambil memutar kedua bola matanya kesal
"Eh itu pujian loh..." ucap Salzano sambil mengedipkan matanya ke Jo.
Jo hanya bisa menghela nafas panjang dan kemudian kembali fokus ke berkas yang ada dihadapannya. Salzano melihat Jo dengan mata yang teduh. Lalu kemudian menoleh kearah pelayan yang berdiri agak jauh dari mereka.
"Tolong bawakan beberapa camilan dan juga 2 jus lemon untukku dan Jo"
Jo kembali menatap kakaknya yang duduk di kursi depannya itu sambil menghela nafas ringan. Mendengar perkataan Salzano, pelayan yang sedari tadi berdiri dengan diam, menggangguk dan kemudian berjalan pergi menjauh dari Salzano dan juga untuk menjalankan perintah Salzano.
"Sepertinya kakak sedang sangat senggang ya?" ucap Jo sambil kembali fokus membaca berkas yang ada di tangannya itu.
"Hmm~" Salzano tidak memperdulikan Jo maupun menjawab pertanyaan Jo tapi malah Salzano bersenandung sambil memainkan ponselnya
"Tidak, aku sibuk mengurus perusahaan yang di serahkan ayah padaku" ucap salam sambil menunjukkan gambar sebuah perusahaan yang ada di layar ponselnya ke hadapan Jo.
Jo kemudian menatap apa yang ada di layar ponsel milik Salzano tersebut, Jo kemudian menaikkan salah satu alisnya karena entah kenapa perusahaan itu terlihat sangat familiar untuknya.
Kemudian berdiri dan seperti mencari sesuatu ditumpukan berkas yang sudah dia kerjakan sebelumnya. Salzano hanya menatap Jo sambil kebingungan
"Apa yang sedang kau cari?"
"....." tapi Jo sepertinya enggan menjawab dan terus mencari sesuatu di antara tumpukan berkas-berkas tersebut.
"Ah, ini dia" ucap Jo sambil memegang sebuah berkas yang berwarna biru dongker. kemudian Jo mulai membuka dan membaca isi dokumen tersebut
Salzano yang penasaran segera berdiri dan berjalan ke arah belakang Jo, kemudian Salzano membungkukkan badannya dan berusaha membaca dokumen tersebut
"Perusahan Mineral Waterfall hampir bangkrut karena presdir dari PT. Waterfall menggelapkan dana 12 Triliun" ucap Salzano
Jo menghela nafas panjang kemudian memukulkan pelan berkas tersebut ke wajah Salzano.
"Hey hey bocah... Aku ini kakakmu" ucap Salzano sambil mengacak-acak gemas rambut Jo sambil mengambil berkas tadi dan kembali duduk ke kursi di depan Jo
"Kalau begitu bersikaplah seperti seorang kakak yang patut kuhormati"
Mendengar ucapan Jo, punggung Salzano terasa ditusuk oleh panah besar dan kepalanya di timpa batu besar
Anak kecil ini....
Salzano hanya bisa mendengus sebal mendengar perkataan Jo sambil terus membaca berkas yang di hadapannya. Jo yang melihat kakaknya menyerngitkan keningnya tersebut tertawa kecil.
"Tidak ada apa-apa, tapi bagaimana kalau kita bertaruh kak?"
Salzano menaikkan salah satu alisnya dan kemudian menjawab
"Memangnya kau punya apa bocah"
"Aku punya sebuah lukisan antik hadiah dari salah satu perusahaan cabang.. Bagaimana dengan itu"
Karl yang mendengar percakapan Jo dan Salzano hanya bisa mendengarkan dengan seksama.
"Lalu kau mau apa?" tanya Salzano
"Mobil kakak"
Mendengar perkataan Jo, Salzano langsung menggebrak meja dan berdiri karena terkejut.
"Hey hey hey itu tidak adil"
"Aku tambahkan dengan motorku, bagaimana?"
Mendengar penawaran Jo yang menarik itu, Salzano tersenyum cerah sambil mengulurkan tangannya.
"Hah... Inikah sikap kakakku" gumam Jo sambil tersenyum dan bersalaman dengan Salzano
Kemudian Jo kembali mengambil berkas milik PT.Waterfall itu dan membuka berkas di bagian terakhir. Jo kemudian mengambil sebuah map coklat berukuran sedang dan menunjukkannya ke arah Salzano.
"Ini akan kuambil karena ini pendapat dan ideku"
Mendengar perkataan Jo, Salzano kemudian menyunggingkan senyum jahat di wajah.
"Baiklah bocah tengik aku akan menerima taruhan mu itu hahaha"
Kemudian beberapa pelayan datang sambil membawa sebuah troli yang penuh kue dan cemilan tak lupa ada teko teh berukuran sedang disana.
Salzano kemudian menatap kedua pelayan tersebut kebingungan begitu pula Jo.
"Bukankah aku hanya menyuruh membawakan cemilan dan Jus?"
Kedua pelayan tersebut menunduk memberi salam lalu salah satu dari pelayanan tersebut mulai membuka mulutnya untuk berbicara
"Nyonya menyuruh kami membawa ini tuan muda"
Mendengar perkataan tersebut sarjana kemudian tersenyum dan memberi isyarat dengan tangannya agar kedua pelayan tersebut segera menyajikan makanan dan teh di atas meja.
Karl yang melihat hal tersebut segera membereskan beberapa berkas yang sudah selesai Jo kerjakan dan membawa berkas tersebut ke ruangan Arnold.
Hanya bisa melihat Karl membawa pergi berkas yang sudah selesai ia kerjakan tanpa sepatah kata apapun.
Setelah kedua pelayan tersebut selesai menyajikan cemilan dan juga tehnya, Jo dan Salzano segera meminum tehnya.
"Hah~ Teh ini membuatku rileks" ucap Salzano sambil memejamkan matanya dan menikmati teh tersebut. Sedangkan Jo hanya diam.
"Oh ya, Jo..." ucap Salzano sambil menatap Jo lurus.
"Ya?"
"Aku ada suatu permintaan"
"Aku bukan jin yang bisa mengabulkan permintaan" ucap Jo sambil menyeruput tehnya
"Dasar bocah tengik, dengarkan dulu kakak mu berbicara"