The Mafia's Twins

The Mafia's Twins
Bab 18. Rapat pertama



Matahari sudah tepat berada di atas, cahaya yang di pancarkan oleh matahari mulai terik dan udaranya berangsur memanas. Jo yang masih mengerjakan tumpukan dokumen di tengah heningnya ruangan itu mulai bosan dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Sambil memejamkan matanya sejenak, Jo memutar kursinya ke arah jendela yang ada di belakangnya.


Jo kemudian membuka matanya dan menatap pemandangan di luar jendela itu sambil beberapa kali mengambil nafas panjang.


"Membosankan" gumam Jo sambil terus menatap keluar jendela dengan matanya yang indah itu.


Setelah beberapa saat melamun sambil menatap keluar jendela. Jo segera bangkit dari kursinya dan regangkan otot-otot ditubuhnya


"Huah... Benar-benar melelahkan... Pantas saja tua bangka itu malas bekerja..." ucap Jo sambil melakukan peregangan pada kedua lengannya itu.


Tok tok tok


Kemudian terdengar suara ketukan dari pintu ruang belajar Jo, dan hal itu membuat Jo refleks menatap kearah pintu.


"Ya?"


"Tuan muda 20 menit lagi akan ada rapat, Tuan besar menyuruh Tuan muda segera bersiap"


Mendengar perkataan Karl yang ada di sisi lain dari pintu ruang belajar itu, Jo hanya bisa terdiam sambil memejamkan matanya sesaat.


Tua bangka itu benar-benar....


Kemudian Jo mengambil nafas panjang lalu berkata


"Ya... Aku akan ada di Aula 15 menit lagi"


"Baik Tuan Muda."


Kemudian dari luar Jo mendengar langkah kaki Karl semakin menjauh dari ruang belajarnya. Jo kemudian kembali menoleh dan menatap ke jendela luar.


"Hah~"


Setelah itu Jo mulai membereskan semua berkas yang ada di mejanya dan berjalan menuju pintu ruang belajar. Setelah keluar dari ruang belajar Jo. Setelah Jo menutup kembali pintu ruangannya, Jo berbalik dan mulai berjalan kearah kamarnya untuk berganti pakaian formal. Sepanjang lorong Mansion, saat pelayan berpapasan dengan Jo, mereka harus memberi salam dari saat mereka melihat Jo dari kejauhan sampai Jo berjalan menajuh dari mereka.


Sementara Jo hanya berjalan seperti biasa dan seolah dia tidak melihat siapapun di lorong. Setelah sampai di kamarnya, Jo segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan bersih-bersih, Setelah itu, Jo keluar menggunakan kimono putihnya dan berjalan ke arah ruang pakaian.


Jo kemudian membuka lemari yang penuh dengan setelan jas mewah dengan berbagai merk terkenal. Kemudian Jo mengambil setelan jas berwarna biru dongker, lalu membuka laci yang penuh dengan dasi ber merk untuk mengambil dasi berwarna hitam polos. Kemudian Jo mulai memakai setelan jas dan memasang dasinya. Tak lupa Jo mengambil sepatu formal berwarna hitam.


Setelah selesai, Jo segera berjalan ke arah cermin full body miliknya itu. Di pantulan cermin itu terlihat Jo yang sangat gagah dan keren saat memakai jas, ditambah lagi matanya yang coklat itu serta hidungnya yang mancung. Jo terlihat seperti seorang pangeran berkuda besi yang siap membunuh semua musuhnya.


Jo merapikan sedikit rambutnya dnegan gel rambut dan memakaikan jam tangan ke pergelangan tangannya. Kemudian Jo berjalan pergi menuju pintu kamar dan keluar dari kamar. Saat membuka pintu, Jo kebingungan karena Karl sudah ada di depan pintu dan berpose layaknya ingin mengetuk pintu.


"Ah... Tuan muda.. Saya tadi hendak----"


Tapi sebelum Karl menyelesaikan kata-katanya pun, Jo segera berjalan dan karena Karl ada di tengah-tengah, pundak Karl sedikit tersenggol oleh Jo yang membuat Karl melangkah mundur.


"Tak usah basa basi"


Karl segera mengikuti Jo dari belakang dan menatap Jo dengan sedikit perasaan sedih


Tuan muda dulu tidak seperti ini... Dia adalah bocah yang ceria dan lucu...


Karl kemudian menghela nafas tanpa berbicara sepatah katapun dengan Jo. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong dan menuruni tangga untuk sampai ke Aula Utama Mansion. Terlihat Arnold yang sedang menghisap cerutu dan mengenakan jas berwarna putih itu sedang duduk di sofa.


Jo menghela nafas kemudian berjalan mendekat kearah Arnold. Arnold yang mendengar langkah kaki mendekat itupun segera menoleh ke sumber suara


"Dan kau akan cepat mati kalau kau menghisap cerutu itu, dan satu lagi... Tuan putri kesayanganmu juga akan mati karena paru-parunya rusak--"


Brakkk


Arnold seketika bangkit sambil menendang meja di depannya. Arnold segera membuang cerutunya dan mencengkram kerah Jo sambil menatapnya dengan mata penuh amarah.


"Kau bocah tengik"


Jo yang melihat ayahnya marah itu bukannya malah ketakutan tapi malah tersenyum remeh. Karl dengan sigap segera melerai mereka. Arnold yang melihat senyuman Jo yang terlihat meremehkannya itu segera melempar Jo menjauh sampai terjatuh ke lantai


"Kau benar-benar tidak punya sopan santun"


"Hah~ Ya... orang tuaku tidak mengajarinya"


Arnold yang mendengar itu sangat geram dan menghampiri Jo, Tapi kemudian Karl berdiri tepat diantara mereka berdua.


"Sebentar lagi semua petinggi akan hadir di rumah kaca, sebagai tuan rumah yang baik, tuan harus ada di sana"


Mendengar perkataan itu, Arnold segera melemaskan bahunya dan berjalan menjauh dari Jo yang sedang terduduk di lantai itu. Melihat tuannya yang berjalan menjauh itu, Karl segera berbalik dan mengulurkan tangannya kepada Jo. Tapi Jo hanya menatap tangan Karl dna kemudian bangkit dengan usahanya sendiri dan kemudian mulai berjalan ke arah rumah kaca. Karl terdiam sambil menatap punggung kecil itu


"Tuan muda kenapa anda terus membuat Tuan besar emosi" gumam Karl sambil berjalan mengikuti Jo.


Mereka telah sampai di rumah kaca, terlihat banyak pelayan sedang menata tempat duduk dan segala keperluan untuk rapat ini. Sebenarnya rumah kaca ini adalah milik Felly, karena Felly suka merawat tanaman dan bunga. Jadi rumah kaca ini terlihat asri.


Jo kemudian melangkah dan berjalan kearah kursi dan duduk dengan tenang disana. Arnold yang melihat Jo hanya bisa menghela nafas panjang.


"Benar-benar anak itu..."


"Sepertinya tuan harus lebih sabar lagi menghadapi tuan muda"


Setelah percakapan singkat itu, Arnold dan Karl segera berjalan kearah dekat pintu masuk untuk menyambut para tamu undangan. Tak berselang lama, kursi yang tersedia sudah terisi penuh.oleh para petinggi ataupun pemegang saham.


Setelah itu seluruh tamu undangan hadir, Arnold segera berdiri dan memberi kata sambutan, Lalu setelah kata sambutan itu, rapatpun di mulai. Mulai dari laporan maupun presentasi satu persatu di tampilkan. Sedangkan Jo hanya diam sambil menyimak semua informasi itu.


Ugh... Rasanya kepalaku mau meledak mencerna semua informasi itu secara bersamaan


Dia melihat ayahnya yang begitu gagah dengan matanya yang seperti elang itu. Semua penjelasan yang diucapkan sangat sistematis, terperinci dan mudah dipahami. Kemudian Jo memalingkan wajahnya.


Tak terasa rapat tersebut selesai dengan baik, Arnold dan Karl sedang berbincang dengan tamu lainnya, sedangkan Jo berdiri agak jauh dari mereka sambil meminum jus mangganya. Setelah jus itu selesai Jo minum, Jo menaruh gelas itu di meja dan berjalan pergi dari rumah kaca tersebut.


"Ugh... Benar-benar panas sekali memakai ini.." ucap Jo sambil melepas jasnya dan mengacak-acak rambutnya. Jo kemudian melepas dasi yang terikat rapi itu kemudian memberikan jas dan dasi itu pada salah satu pelayan yang berdiri di lorong.


Brukk...


Jo menjatuhkan dirinya di sofa sambil memejamkan matanya sejenak. Tanpa Jo sadari Jo akhirnya tertidur di sofa. Disaat Jo tertidur dengan pulasnya, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya, adan orang itu adalah Jeanne.


Jeanne melihat Jo dengan sedikit khawatir karena keringat yang membasahi kening dan juga wajah Jo. Dengan hati-hati Jeanne mendekat sambil mengambil tisu yang ada di meja dan perlahan-lahan dengan rasa takut dan gugupnya Jeanne mulai mengelap keringat Jo.


Saat tersentuh oleh Jeanne, Jo pun tidak bergeming. Hal itu membuat Jeanne sedikit lega dan secara lembut mengusap keringat di sisi wajah yang lainnya.


"Kakak sudah bekerja keras..." gumam Jeanne dengan suara yang terbilang sangat kecil tersebut. Setelah mengelap keringat Jo, karena takut Jo terbangun dan marah-marah melihat Jeanne di dekatnya. Jeannepun segera berjalan pergi dari sana.


"Dasar bocah kurang ajar" gumam Jo sambil perlahan membuka matanya dan kemudian mulai berjalan ke menaiki tangga untuk ke kamarnya.