The Mafia's Twins

The Mafia's Twins
Bab 28. Bingkai Pecah



Setelah beberapa belas menit berendam, Jeanne memutuskan untuk segera menyelesaikan mandinya dan bergegas keluar dari kamar mandi


Jeanne keluar dengan memakai kimono putih dan rambutnya yang basah itu.


Seketika wangi essence menempel pada tubuh Jeanne itu menyebar luas ke kamarnya yang lumayan besar.


Dengan tatapan kosong Jeanne berjalan kearah ruang pakaian miliknya dengan langkahnya yang pelan itu.


Tiba tiba Jeanne berhenti dan menoleh kearah cermin yang berukuran besar yang ada di samping kirinya.


'menyedihkan'


Memang sangat menyedihkan, sebuah tampilan yang sangat terlihat menyedihkan terlihat pada pantulan cermin itu


Badannya yang tampak kurus dengan kulit putih bak seorang vampir, matanya yang sayu dan beberapa lebam yang ada di pundaknya yang tak tertutupi handuk dengan benar


Ya itu adalah Jeanne sendiri. Jeanne memegang lebam itu.


"Sssshh... Sakiitt.."


Sembari merasakan sakit akibat lebam yang baru saja Jeanne pegang, Jeanne memejamkan matanya..


"Andai saat itu aku tidak merebut minuman yang diberikan om Alex pada kakak..."


Jeanne menarik nafas panjang lalu kemudian menghembuskan nafasnya.


"Sudahlah... Yang penting kakak sehat!" ucap Jeanne sambil menepuk-nepuk pelan pipinya sambil berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian Jeanne segera berjalan kearah lemari pakaiannya dan mengambil baju untuk dipakai di rumah.


Setelah selesai berganti baju, Jeanne merebahkan tubuhnya di kasurnya sambil melihat ke plafon kamarnya.


"Tubuh ini benar-benar lemah sekali ya... Tadi terbentur pinggiran meja saja sudah berdarah... Hufftt" decak Jeanne sambil melihat sebuah plester bermotif dinosaurus pink tertempel di sikunya


Hening..


Mata Jeanne terus menatap lurus kedepan sambil sesekali memejamkan matanya. Hanya terdengar suara detik jam kecil di nakas, suara hembusan nafas yang dikeluarkan oleh Jeanne dan suara langkah kaki para pelayan yang berlalu lalang di depan kamar Jeanne.


Setelah beberapa saat Jeanne merasa bosan dan kemudian bangkit dari kasurnya sambil menatap ke sekeliling kamarnya.


Kemudian pupil mata Jeanne membesar melihat sebuah gitar yang terpajang di sudut kamarnya.


Dengan riangnya Jeanne melangkahkan kaki kecilnya yang imut itu mendekati gitar tersebut.


"Yosh... Karena moodku jelek dan aku benar-benar malas mengerjakan tugas apapun... Belajar main gitar aja deh!"


Setelah mengambil gitar tersebut Jeanne segera berjalan ke arah kursi santai miliknya yang terdapat di depan balkon dan duduk disana dengan nyamannya.


Tak lupa Jeanne mendorong sedikit pintu balkonnya tersebut agar terbuka dan angin lembut pun masuk sembari menyapa pipi Jeanne.


Kemudian Jeanne mengambil ponselnya dan segera mencari tutorial memainkan gitar di YourTube.


Dengan begitu, Jeanne mulai membaca dan mempelajari cara memainkan gitar miliknya tersebut.


Ting Nong Nrengg


Suara sumbang gitar itu terdengar menggema dan memenuhi kamar Jeanne bahkan suara itu terdengar hingga keluar kamar. Itu membuat beberapa pelayan yang sedang berlalu lalang sedikit terkejut.


Sementara Jeanne yang ada didalam kamarnya itu terus berusaha mempelajari gitar itu.


 Jeanne hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu sambil tersenyum canggung. Ternyata sulit sekali memainkan gitar itu, pikir Jeanne.


Tapi karena Jeanne keras kepala, Jeanne tetap berusaha memainkannya. Mungkin karena terlalu fokus dan berusaha, kepala Jeanne bisa saja mengeluarkan asap ataupun api.


Dengan perlahan tapi pasti, suara yang dikeluarkan oleh gitar itu mulai merdu walau beberapa kali miss.


Mendengar nada yang keluar dari gitar yang dia petik mulai teratur dan sesuai ritme, Jeanne mulai mengembangkan senyuman dibibirnya yang manis itu.


Perlahan Jeanne mulai menghentakan kecil kakinya dan mulai menaik turunkan bahunya sesuai irama.


"Today, I don't feel like doing anything


I just wanna lay in my bed


Don't feel like picking up my phone


So leave a message at the tone


'Cause today, I swear I'm not doing anything..."


"Uh, I'm gonna kick my feet up then stare at the fan


Turn the TV on, throw my hand in my pants


I'll be lounging on the couch, just chilling---"


BRAKK!!!


"Ugh!!"


Jeanne terkejut dan hampir menjatuhkan gitar miliknya itu, untung saja tangannya sigap dan berhasil menyelamatkan gitar itu.


"Hampir saja..."


Jeanne segera menyeka keringatnya dan menormalkan kembali nafasnya yang tersengal-sengal itu. Kemudian Jeanne menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari sumber suara tersebut


Pandangan Jeanne tertuju pada sebuah bingkai foto yang tergeletak di lantai dengan banyak serpihan kaca yang tersebar di sekitar bingkai tersebut.


Jeanne membulatkan matanya seketika saat tau bingkai foto apa yang hancur itu. Jeanne segera menaruh gitarnya kesamping dan kemudian berlari ke arah bingkai yang pecah itu.


Jeanne terlihat sedih melihat bingkai foto yg hancur itu dan segera mengambil foto itu.


Itu adalah foto Jo dan Jeanne saat berumur 4 tahun yang sama-sama sedang memakai baju beruang. Di foto itu terlihat mereka berdua tersenyum dengan sangat lebar.


Melihat senyum pada foto itu, Jeanne mengusap lembut foto tersebut dan kemudian memeluknya.


Tok tok tok


"Nona!!!"


Beberapa saat kemudian, sebuah suara ketukan dan suara yang terdengar sangat panik terdengar dari sisi pintu lainnya


Jeanne segera menoleh kearah pintu dan kemudian bangkit sambil berjalan kearah pintu untuk membuka pintu tersebut.


Di depan pintu, terlihat Teressa dengan muka yang sedikit panik dan keringat terlihat jelas di wajahnya. Dibelakang Teressa juga ada 2 pelayan yang tak kalah paniknya mendengar sebuah tadi.


"Apa nona baik-baik saja?"


Jeanne hanya mengangguk pelan, lalu Jeanne segera memerintahkan kedua pelayan tersebut untuk membersihkan kekacauan yang ada di kamarnya.


Sementara Teressa dan Jeanne berjalan ke gazebo di taman bunga. Teressa terus memperhatikan tuannya tersebut seperti mesin scan.


Jeanne yang melihat tingkah Teressa itu tertawa kecil.


"Teressa, kamu berlebihan tau..."


Kata-kata tuannya itu, membuyarkan tatapan intens miliknya bak sebuah mesin scan itu.


Setelah memastikan tidak ada luka, Teressa menghela nafas panjang lega


"Ini sudah jadi tugas saya, nona.."


Teressa berdiri di samping Jeanne dengan sikap tegaknya, sementara Jeanne terlihat menatap langit yang mulai berubah menjadi oranye.


"Perasaanku sedikit tidak enak.." gumam Jeanne


"Apa nona? Nona bilang apa?"


"Tidak ada.."


...----------------...


...----------------...


Disisi lain, Jo dan Karl sedang berada di mobil yang di setir oleh bodyguard keluarga Chevron


Suasana benar-benar hening, hanya suara Karl yang sedang membolak-balikkan kertas yang berisi dokumen.


Sedangkan Jo sedang menyangga dagunya dengan tangannya sambil melihat kearah luar jendela mobil.


"Tuan, anda harus pulang dengan selamat" ucap Karl sambil menyerahkan dokumen yang ada di tangannya kepada Jo.


Jo melirik kearah dokumen itu, lalu Jo mengambil dan membaca lembaran dokumen itu sambil berdecak pelan.


Karl yang melihat tingkah tuannya itu hanya bisa menghela nafas.


Bodyguard yang melirik ke kaca spion, melihat kode dari Karl dan segera mempercepat laju mobilnya.


Mobil itu berjalan menyusuri kota hingga masuk ke dalam hutan dengan pepohonan yang sangat rindang.


Di depan, terlihat cahaya sangat menyilaukan mata Jo. Jo sedikit menyipitkan matanya begitupula Karl.


Ternyata itu adalah pelabuhan dengan kapal kapal besar sedang bersandar di pelabuhan itu entah mereka sedang bongkar muatan atau menunggu tamu yang ingin naik.


Mobil berjalan melambat dan akhirnya berhenti di sebuah kapal yang berukuran sedang.