
Mobil berjalan melambat dan akhirnya berhenti di sebuah kapal yang berukuran sedang.
Jo segera merapikan pakaiannya lalu kemudian dia membuka pintu mobil dan turun dari mobil diikuti oleh Karl dan 2 bodyguard itu
Si Bodyguard membuka bagasi mobil lalu mengeluarkan sebuah tas ransel besar dari bagasi dan membawanya ke hadapan Jo.
"Kami akan menunggu anda kembali dengan selamat" ucap Karl sambil membungkuk diikuti oleh kedua bodyguard itu
Jo terlihat tak acuh dan menatap mereka dingin. Sambil menghela nafas, Jo menggendong tas ransel besar itu dan mulai berjalan ke arah kapal tersebut.
Sementara Karl dan 2 bodyguard itu hanya menatap lurus ke arah punggung Jo.
"Kau anak kecil yang kuat.." gumam Karl sambil membenarkan kacamata yang terpasang rapi di hidungnya itu
Karl dan kedua bodyguard itu berjalan kearah mobil dan mobil tersebut pun berjalan menjauh dari area pelabuhan itu.
...----------------...
...----------------...
Jo berjalan menaiki tangga menuju ke kapal tersebut, tapi sebelum masuk dia menyerahkan kartu identitas miliknya yang menunjukan bahwa dia adalah calon penerus keluarga Chevron kepada salah satu petugas yang ada di bawah sana.
Petugas tersebut memberikan 2 kunci sebagai gantinya, dan merekapun terlihat tidak mau berbicara atau menjelaskan apapun pada Jo.
Jo juga biasa saja, karena semua informasi yang dia perlukan sudah ada di tangannya. Jadi Jo segera mencari kamar miliknya itu.
Jo menyusuri koridor yang ada beberapa orang berlalu lalang sambil mencari keberadaan kamar miliknya.
'Ini..?'
Jo melihat tulisan kamar bernomorkan 101 di depannya. Nomor itu sama dengan nomor kunci yang dipegang oleh Jo.
Dengan segera Jo memasukan kunci tersebut ke lubang kunci dan membuka pintu kamar tersebut.
Tanpa ba-bi-bu, Jo masuk ke kamar tersebut dan menaruh tasnya di pojok kamar. Jo melihat ke sekeliling kamar yang ukurannya hanya 2x2 itu.
Kemudian pandangan Jo terfokus pada sebuah titik kecil pada sudut kamarnya.
'Ah... Kau pikir aku bodoh?'
Jo dengan senyum smirk-nya itu berjalan kearah titik kecil itu dan mengetuk-ngetuk beberapa kali di titik itu.
Jo merogoh kantong yang ada di celana kargonya dan menarik suatu benda keluar.
Itu adalah alat survive miliknya yang dia rancang sendiri. Alat itu terdiri dari 3 jenis mata pisau, pematik api dan juga kapak berukuran sedang.
Jo segera menusuk-nusuk area di sekitar titik itu dan mencongkel keluar kamera tersembunyi yang ada disana.
Setelah berhasil mengeluarkan kamera itu, Jo memperhatikan kamera itu sejenak lalu kemudian segera melemparkannya ke lantai dan menginjaknya sampai rusak.
"Trik murahan" Celetuk Jo sambil melepas jaket miliknya.
Tentu saja bukan itu satu-satunya kamera, jadi Jo berjalan ke arah tasnya dan mengeluarkan handwarp miliknya dan mengikatnya di tangan Jo.
Dengan gerakan sigap Jo segera mencari beberapa kamera tersembunyi lainnya dan segera menghancurkannya.
"Orang gila ini... Benar benar bodoh ya?"
Jo segera memasukan sampah itu ke tempatnya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Tentu saja Jo tidak lupa mengunci pintu kamarnya sebelum keluar.
Jo berjalan menyusuri lorong yang sepi itu dengan langkah santai.
Setelah beberapa menit, Jo akhirnya sampai di bagian atas kapal, bagian atas kapal dekat dengan ruang kendali milik kapten dan para anak buah kapal.
Jo menatap ke sekeliling dan dia melihat orang orang yang menatapnya dengan tatapan tajam dan meremehkan.
Ya, seharusnya yang mengikuti pelatihan ini adalah Salzano bukan Jo. Tapi karena perintah Arnold yang tidak bisa di bantah itu, Jo juga tidak akan mau.
Latihan ini seharusnya diikuti oleh pria calon suksesor penerus keluarga yang berusia 27 tahun. Itulah alasan Jo di pandang remeh oleh calon suksesor lain.
Tapi Jo tidak memperdulikan itu dan meneruskan langkahnya mencari tempat yang nyaman baginya karena sebentar lagi acara akan segera di mulai.
Tak berselang lama, seorang lelaki dengan badan besar dan tinggi berjalan ke tengah sambil membawa mic.
'Tes Tes.. Apa sudah terdengar?..'
Ucap pria itu sambil menoleh ke arah belakang tepatnya ke arah orang audio.
Orang audio yang di belakang pun memberi jempol dan dibalas oleh anggukan sang pria bertubuh kekar tersebut
'Baik.. Selamat siang... Saya.....'
Si pria bertubuh kekar tersebut mulai membacakan tulisan yang ada di tangannya tersebut.
Jo tidak memperhatikannya dan hanya menatap lautan yang tenang itu sambil menikmati semilir angin yang menerpanya.
Pat!
Sebuah tangan menepuk pundak Jo tapi Jo menoleh dengan santainya dan memberi deheman dingin menanggapinya
Pandangan Jo menelusuri tangan tersebut hingga tepat ke wajah pria itu.
"Hai!"
Jo tak menjawab sapaan pria itu, dan malah memberikan tatapan dingin dengan matanya itu sambil kembali menatap ke arah lautan
"Serius Jo? Lu ngapain ada disini?" ucap Chester sambil duduk di sebelahnya tentu saja sambil menyebarluaskan senyumnya yang idiot itu
Jo menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya menatap Chester yang masih tersenyum dengan bodohnya
"Apa kau berpura-pura bodoh atau memang bodoh?" jawab Jo singkat, padat dan jelas
Seketika, wajah ceria Chester dengan senyum bodohnya yang khas itu berubah muram dengan senyum smirk dan juga tatapannya yang memprovokasi
"Benar-benar tidak bisa menyembunyikan ini darimu yah" ucap Chester sambil membenarkan posisi duduknya.
Kemudian Chester merogoh kantong celananya untuk mengambil sebuah barang
Jo sempat melirik sekilas, benda itu adalah kotak cerutu dengan korek api berbentuk naga. Jo hanya diam sambil mengalihkan lirikannya.
"Siapapun yang melihat sifatmu yang seperti ini, pasti langsung menjauhimu" ucap Shuzo yang mulai mendekat kearah Jo dan Chester
"Tsk.. Diamlah" bentak Chester sambil berusaha menendang kaki kiri Shuzo. Tapi untungnya Shuzo berhasil menghindar, sayangnya itu semakin membuat Chester sebal dan segera memasang ancang-ancang untuk menyerang Shuzo
"Jangan seperti anak kecil. Itu menyebalkan" ketus Jo.
Mendengar perkataan Jo, mereka langsung diam dan duduk ke tempat duduk yang kosong.
Hening menyelimuti mereka, si host dari tadi juga memberikan kata sambutan dan beromong kosong sambil memperkenalkan para sponsor.
'Ujian bertahan hidup kali ini sangat spesial karena kita kedatangan tamu spesial..'
Mendengar hal itu, suasana tiba-tiba jadi riuh dan beberapa orang mulai mencari-cari tamu itu.
'Tamu kehormatan kita adalah.....'