
Hening~ Suasana di ruang belajar Jo terasa sangat sepi, tak ada suara manusia sedang berbicara ataupun mengobrol. Hanya ada suara pena yang sedang menandatangani berkas atau menulis sebuah opini di berkas tersebut
Jo menghela nafasnya kemudian mendongak menatap tumpukan berkas yang masih banyak itu
Apa sih yang dipikirkan tua bangka itu? Kenapa banyak sekali berkas yang kuurus?
Kemudian Jo kembali menatap berkas yang ada di hadapannya itu dan menuliskan beberapa saran untuk memecahkan masalah yang sedang terjadi itu
"Hah.. Rasanya seperti aku sedang di kerja paksa tanpa upah" ucap Jo sambil menutup dokumen yang dia baca dan tanda tangani itu.
Kemudian Jo mendongak dan menatap Karl yang ada di meja sebrangnya itu. Karl terlihat sangat serius membaca berkas di depannya itu. Jo yang penasaran dengan apa yang dibaca Karl, kemudian beranjak dari tempat duduknya secara perlahan tanpa suara.
Setelah itu Jo berdiri di belakang Karl sambil mencoba mengintip apa yang sedang di baca Karl. Tapi beberapa saat kemudian mata Jo melotot dan urat-urat di wajahnya mulai terlihat jelas karena menahan amarah.
Ternyata Karl sama sekali tidak membaca berkas yang ada di hadapannya, melainkan Karl sedang membaca novel online dari ponselnya. Jo dengan segera memukul pundak Karl dan berjalan pergi dari ruangan belajar
"Aduh... Sakit... eh Tuan muda? Apa pekerjaan anda sudah selesai?" ucap Karl sambil menoleh kearah Jo yang saat itu sedang menggenggam gagang pintu dan berniat untuk membuka pintu.
Mendengar perkataan Karl, Jo segera menoleh sambil menampakkan wajahnya yang sedang menahan kesal itu dan tatapannya yang seperti Elang itu.
" Aku ingin mengambil minum dan juga cemilan." ucap Jo singkat sambil berbalik dan membuka pintu
Karl yang mendengar hal itu segera berdiri sambil berusaha mencegah Jo dengan cara mencekal tangan Jo.
"Kalau begitu biar saya saja yang mengambilkan"
Jo menepis tangan Karl dengan kasar sambil mendongak dan menatap Karl yang lebih tinggi darinya dengan matanya yang tajam itu
"Tidak usah, silahkan lanjutkan bacaann novel cintamu itu, aku bisa sendiri"
Seketika Karl terdiam dan membeku mendengar perkataan Jo yang tajam itu, ternyata Jo memukul pundaknya keras itu karena Jo tau Karl sedang membaca novel. Tapi kemudian Karl segera menghela nafas dan mengikuti Jo dari belakang.
Maaf Tuan Muda... Tapi Tuan Besar bilang saya tidak boleh membantu Tuan Muda
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki Jo dan Karl yang menuruni tangga terdengar nyaring keseluruh Mansion. Jo melihat kearah ruang keluarga, dan benar saja Jo melihat Ibunya, Ayah bajingannya dan adiknnya sedang memakan cemilan sambil menonton televisi. Jo yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum sinis. Jeanne yang sadar kalau Jo menatap kearahnya segera menoleh kearah Jo, begitu pula Felly dan Arnold. Karl segera memberi salam pada Arnold, Felly dan Jeanne dari tempatnya berdiri. Dan kemudian mereka bertiga menganggukkan kepalanya kecil
" Jadi sebenarnya ini ujian atau aku menggantikan tua bangka itu mengerjakan tugasnya?" gumam Jo sambil berjalan kearah dapur. Karl pun mengikuti Jo di belakang tanpa bebricara sepatah katapun
Jeanne yang tadinya ingin melambaikan tangannya ke arah Jo, segera menurunkan tangannya canggung. Sementara Felly dan Arnold hanya menatap Jo yang pergi ke arah dapur
"Sebenarnya apa yang kau lakukan sekarang sayang?" ucap Felly sambil tersenyum manis ke arah Arnold. tapi Arnold yang melihat senyuman istrinya itu bergidik ngeri karena menurutnya senyuman Felly penuh makna dan tekanan baginya
" Oh begitukah? Jadi kau tidak menyerahkan semua pekerjaanmu karena kau sedang malas mengerjakannya?"
Mendengar perkataan istrinya yang sangat tepat itu, Arnold segera menyemburkan kopi tersebut. Jeanne yang melihat hal itu segera tertawa terbahak-bahak begitu juga Felly yang sednag tertawa sambil memberikan isyarat untuk pelayan agar membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh suaminya itu.
Sementara itu, setelah Jo memberikan perintah untuk membuatkan cemilan kesukaannya kepada kepala pelayan, Jo segera berjalan kearah Lift yang jarang digunakan
Note: Lift itu terletak di bagian pojok dekat pintu belakang Mansion, Lift itu transparan, jadi pemandangan di halaman belakang mansion bisa terlihat jelas. Sedangkan tangga itu berada di tengah-tengah Mansion dan kamu bisa melihat ruang tamu, aula, ruang keluarga dan ruang makan dari tangga tersebut
Jo tidak ingin melihat pemandangan yang membuatnya kesal apalagi melihat ayahnya yang bajingan itu sedang bersenang-senang dengan keluarganya, sedangkan Jo harus mengerjakan semua pekerjaannya. Jo benar-benar tidak ingin merusak moodnya kali ini. Jo menghela nafas beberapa kali sambil menundukkan kepalanya
Ting~~
Pintu Lift terbuka
Jo kemudian melangkahkan kakinya keluar dari lift dan kembali keruang belajarnya untuk mengerjakkan berkas-berkas yang menumpuk tinggi bak sebuah menara itu.
Di sisi lain, Arnold sedang berjalan menaiki tangga untuk ke ruang belajar Jo untuk mengambil semua pekerjaannya yang dilimpahkan pada Jo. Tapi setelah berada di lorong yang mengarah ke ruang belajar Jo, terlihat dari kejauhan Karl berdiri di luar ruang belajar.
Arnold dengan santainya berjalan ke arah Karl, Karl yang mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya itupun segera menoleh dan segera memberi salam pada Arnold
"Kenapa kau berdiri diluar?"
"Ah karena... Tuan muda bilang, saya terlalu menganggu pemandangan"
Mendengar perkataan Karl, Arnold hanya bisa menghela nafas sambil menyuruh Karl kembali ke ruangannya. Kemudian Arnold segera mengetuk pintu ruang belajar Jo.
Tok tok tok
Kemudian sebuah suara teriakan terdengar jelas dari dalam ruangan
"Maaf, saya sedang sibuk, pergilah"
Mendengar jawaban Jo itu, Arnold tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berbalik pergi dan menyalakan cerutu.
"Entah dari mana bocah itu mempelajari itu"
Sementara Jo yang ada di dalam ruang belajarnya tersebut sedang fokus untuk mengerjakan semua tugas dari Arnold tanpa mengeluh. Selain itu di pikiran Jo hanya ada 1 motivasi baginya yang membuatnya sampai sefokus ini
ANGGAP SAJA TUA BANGKA ITU AKAN SEGERA MATI JADI KAU HARUS MENGURUS SEMUA ASET MILIKNYA