THE LIFE OF A BIAN

THE LIFE OF A BIAN
Episode 8



Hujan masih mengguyur kota ini. di tengah jalan yang sekelilingnya hutan membuatnya kesusahan jika meminta pertolongan. jalanan gelap dan sesekali suara gemuruh terdengar begitu nyaring dan kilatan petir terlihat.


bian lari dari kejaran anak buah dari pria yang menurutnya iblis itu. tapi karena jalanan yang gelap ia berkali kali terjatuh hingga lututnya terluka.


"hah hah.. aku bersembunyi saja disini. kuharap mereka tidak tahu" ucap bian lirih sambil sesekali ia menahan rasa sakit dilututnya bahkan perutnya yang sangat nyeri.


"aku tidak tahu dimana aku sekarang"batinnya


Bian yang mendengar suara langkah kaki yang cepat langsung membungkam mulutnya.


"dimana dia" tanya si bos yang ikut mengejar dari belakang


"maaf bos kita kehilangan jejak gadis itu"


"akhhh.. sial. baiklah hari ini kau lolos tapi tidak untuk hari yang lainnya" ucapnya penuh kemarahan.


"ayo kembali" ucap pria itu


Bian yang sudah tak mendengar suara mereka sedkit mengintip dari balik pohon besar tempat ia bersembunyi.


"huff" leganya


"kenapa perut ku terasa sakit sekali"ucap bian sambil mengigit bibir bawahnya


bian yang kesakitan sangat membutuhkan pertolongan. ia berjalan terseok seok dan hampir saja ia tertabrak mobil didepannya hingga membuatnya terjatuh dan pingsan dijalan.


"ada pak. kenapa berhenti mendadak" tanya seorang pria yang duduk di kursi belakang


"maaf pak, hampir saja saya menabrak seorang gadis pak. tapi sepertinya dia pingsan biar saya cek dulu ya pak" ucap supir. sedangkan pria yang dipanggil pak hanya menganggukan kepalanya


"malam malam seperti ini masih ada gadis keluyuran di tempat seperti ini" batinnya. lalu ia melihat jam dipergelangan tangannya yang sekarang menunjukkan pukul 01:25.


"pak. gadis yang kita tabrak ternyata anak sekolahan" ucap supir yang kembali menemui majikannya itu


"anak sekolahan" beo nya. lalu ia turun untuk melihatnya dan ternyata benar. tapi tunggu ia melihat gadis ini penuh dengan luka.


"baik pak" ucap supir yang bernama mamat


......................


pagi menjelang siang dirumah sakit


"ughh" lenguhan seorang gadis. perlahan lahan ia membuka kedua kelopak matanya. yang pertama ia lihat adalah dia ada diruangan dengan cat berwarna putih


"kenapa bau obat. aku dimana" tanya nya sendiri


"kau dirumah sakit" ucap paruh baya dengan setelan baju putih itu dengan tersenyum


"rumah sakit. siapa yang membawaku kesini" batinnya


"lalu siapa yang membawaku kesini" tanya bian


"tuan marvindra" ucap dokter itu tersenyum


"lalu dimana tuan marvindra" tanya bian. lalu ia mencoba untuk duduk tapi dicegah oleh dokter


"heii. jangan coba coba untuk duduk dulu ok. kau belum sehat total" ucap dokter lalu ia membantu memposisikan tidur bian


"ughh. kepalaku sungguh terasa pusing sekali" ucapnya sambil menyentuh kepalanya. bian yang sedang sakit sampai melupakan sesuatu hingga untuk persekian detik ia langsung menyentuh perutnya. sedangkan dokter yang melihatnya langsung angkat bicara.


"kandunganmu tidak ada masalah semuanya sehat, hanya saja saran untukmu jangan terlalu banyak pikiran atau menguras tenaga karena hal itu akan beresiko dengan calon anakmu" ucap dokter lalu setelah itu ia melenggang pergi


"huff.. ibu ayah" lirih bian, sampai tak sadar ia meneteskan air mata. jujur baru beberapa jam ia tak bertemu mereka itu membuatnya sangat rindu


"anak ini tak berdosa mana mungkin aku membunuhnya" ucapnya sambil mengelus perutnya yang rata. ingatan tentang perkataan zayn terus muncul dibenaknya.


"koperku sudah hilang, sekarang aku tak punya apa apa karena semuanya ada didalam koper itu. pria itu sangat keji dengan teganya ia membunuh wanita itu" ucapnya sambil membayangkan adengan tadi malam. walaupun kejadian itu sangat gelap tapi sedikit cahaya dari kilatan petir membuatnya bisa melihat betapa kejinya pria itu.


......................