
Detik,menit sudah berganti dengan jam. delapan jam yang lalu bian sudah melahirkan seorang bayi perempuan yang lucu. walaupun prematur galan masih bersyukur karena ibu dan bayinya selamat, ya hanya saja bayinya sempat di dalam inkubator untuk dua jam.
Saat ini galan berada disebuah ruangan bernuansa putih karena menunggu bian yang tak sadarkan diri karena obat bius**.
"selamat bian. Akhirnya kau menjadi seorang ibu, aku turut senang dalam hal ini" ucap galan tersenyum. Lalu ia menyentuh jemari bian dan mengenggengamnya.
"bayimu sangat lucu sekali. Tadi aku sempat melihatnya dari luar ruangan inkubator" galan berbicara sambil mengamati wajah teduh bian lalu bibirnya tersenyum.
Galan tak bosan bosan melihat wajah bian yang menurutnya cantik dan imut ini.
"Agnes. Apa aku boleh jika mencintai perempuan lain selain dirimu. Ketika dia datang dan masuk kedalam kehidupanku seketika aku merasa kebahagiaanku yang hilang bersama dengan dirimu seketika bersemi lagi" batin galan sambil mengamati wajah bian.
Terlalu lama galan menunggu untuk bian bangun membuatnya mengantuk padahal hari masih sore. Mungkin karena kelelahan membuatnya langsung tidur dikursi samping brankar bian.
...----------------...
**Dipagi hari
Suara dengkuran membuat seorang wanita terganggu dan bangun. Saat membuka kedua kelopak matanya hal yang pertama ia lihat adalah ruangan bernuansa putih dan khas bau obat yang menyengat memasuki indera penciumannya**.
"rumah sakit" lirihnya. Lalu ia melihat kesamping kanannya dan melihat seorang pria tertidur dengan bertumpu tangan diatas brankar.
"bayiku" ia meraba perutnya yang rata.
"aww. Perutku sakit sekali" ringisnya membuat
Pria yang tidur disamping brankarnya sangat terganggu
"bian kau sudah sadar. Akan kupanggilkan dokter" ucapnya namun ucapan bian membuatnya terhenti melangkah
"dimana bayiku" tanya bian dengan berlinang air mata
"kau harus periksa keadaanmu terlebih dahulu bian" ucap galan
"aku tanya dimana bayiku galan" teriaknya sambil menyentuh perut ratanya
"tenang bian. dia ada diruangan bayi, Dia baik baik saja" galan berusaha menenangkan bian
"kau tidak bohong kan" tanya bian dengan nada gemetar dan mendapat anggukan dari gakan
"bayimu perempuan. Dia sangat lucu sekali" ucap galan tersenyum menatap wajah teduh bian
"bolehkah aku melihatnya" tanya bian
"aku akan bicara dengan dokter. Kau tunggulah disini" ucap galan lalu pergi melangkah keluar dari ruangan.
Tak butuh waktu lama untuk bian menunggu galan kembali. Ia kembali bersama dengan dokter untuk memeriksa keadaannya dan dibelakangnya ada seorang suster yang mengendong bayi mungil. Bian yang melihat itu tangannya langsung ingin meraihnya dan memeluk bayi itu.
"kau harus diperiksa dulu bian" ujar galan
"bagaimana keadaanmu nyonya" tanya dokter sambil memeriksa keadaan bian
"perutnya masih nyeri dok" ucap bian tapi matanya tak lepas dari bayi yang digendong susternya
"tidak ada" ucap bian
"baiklah saya akan ambilkan obat untuk meredakan sakit dan nyeri sehabis operasinya" ucap dokter
"jika keadaan anda sudah membaik, anda akan di ijinkan pulang nyonya. Tapi ingat jangan beraktivitas seperti biasanya dulu, jaga pola makan, dan jangan banyak pikiran karena itu akan memperburuk kesehatan nyonya, untuk sembuhnya mungkin akan memakan waktu yang lama sekitar empat sampai enam minggu. Sampai sini paham nyonya" ucap dokter setelah mengecek kondisi bian
"baik dok. Saya paham" ucap bian tersenyum. Lalu dokter pun pamit untuk mengecek pasien lain
"selamat ya nyonya bayinya perempuan. Bayimu sangat cantik persis seperti dirimu" ucap suster memberikan bayi mungilnya
"iya. Dia sangat cantik" ucap bian sambil tersenyum
"jika begitu saya pamit ya nyonya tuan" ucap suster lalu pergi meninggalkan ruangan
"lucu sekali dia" ucap bian mengamati wajah putrinya yang tidur disampingnya
"kehidupanmu sudah lengkap bian" ucap galan
"aku ingin dipanggil olehnya mama. Apakah pantas galan" tanya bian sambil melihat galan
"sangat pantas. Emm bian apakah aku boleh bertanya" ucap galan dan mendapat anggukan dari bian
"apakah boleh jika anakmu memanggilku papa" tanya galan. Sedangkan bian yang mendengar itu langsung melihat ke arah galan
"Kita rawat dia sama sama kau mau kan" lanjut galan
"apakah itu tak memberatkanmu. anak ini bukanlah anakmu galan. Dan bagaimana jika kau sudah menikah lalu istrimu tak menyukai panggilan yang dilontarkan putriku
"jika memang seperti itu maka aku tak akan menikah untuk kedua kalinya cukup dengan agnes" ucap galan dan itu membuat bian terdiam untuk sejenak
"jika itu membuatmu senang tak masalah galan" ucap bian tersenyum memandang wajah galan yang terus melihat kearah bayinya
"benarkah. Terima kasih bian dirimu sangat baik karena sudah mengizinkan dia memanggilku papa" ucap galan dengan semangat lalu mencium kedua pipi bayi mungil itu
"lalu kau akan menamai dia siapa" tanya galan. Lalu bian berfikir nama yang cocok untuk anaknya
"Nayaka Gracellina. Menurutmu bagaimana" tanya bian
"nama yang bagus. Sekarang kita panggil dia Nayaka" ucap galan tersenyum sambil menoel noel pipi bayinya
"haha lucu sekali dia" ucap galan saat melihat raut nayaka yang hampir menangis saat galan menoel noel pipinya.
Bian yang melihat galan asik dengan nayaka menjadi teringat akan zayn yang tak menginginkan bayinya.
"apakah sampai sekarang dia tidak pernah mencariku, dan berfikir untuk mengakui anaknya... Ibu,ayah aku sudah melahirkan cucu kalian. Apa kalian saat ini juga masih membenciku" batin bian .
"dulu aku sangat berharap kau ingin mengakui anak ini. Jika kau tahu bahwa anak kita begitu menggemaskan zayn" batin bian
......................