THE LIFE OF A BIAN

THE LIFE OF A BIAN
Episode 1



seorang gadis cantik dengan rambut panjang sedikit bergelombang coklat itu nampak sedang berjalan cepat di suatu koridor sekolah. ia berjalan dengan senyum yang tak pernah luntur di wajahnya yang cantik.


tadi pagi pacarnya zayn menelefonnya untuk bertemu setelah jam istirahat di taman belakang sekolah, hal itu membuatnya senang hingga ia lupa untuk sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.


“gue gak sabar deh,pingin ketemu dengan zayn” ucapnya


“BIANNN” teriak cewe yang sedang berlari menuju ke arah bian. namun bian yang dipanggil tidak mendengarkannya ia bagaikan tuli untuk sesaat.


“ADIBA BIAN ARUNA” teriak cewe itu sambil menepuk keras pundak bian.


“aww. elo itu apa apaan sih main pukul aja kan sakit.” ucap bian sambil melototkan matanya


“habisnya elo dipanggil enggak nyaut nyaut sih”ucap cewe itu sambil cemberut. “elo mau kemana sih buru buru amat, ke kantin aja yok” lanjut cewe itu dengan nada manja


“eh. untuk hari aku ga lagi pengen ke kantin deh. besok aja ya” ucap bian. “soalnya hari ini aku lagi pengen ke perpustakaan” bohong bian. sedangkan yang diajak bicara hanya diam sambil menatap dalam mata bian.


“rashi” panggil bian sambil melambaikan tangannya didepan wajah rashi namu rashi hanya diam tanpa berkedip.


“RASHII” teriak bian tepat ditelinga rashi membuatnya kaget sambil memegang dadanya.


“huh. apaan sih lo tu” ucap rashi. “ya udah kalo elo lagi ga mau ke kantin, gue ke kantin sendirian aja deh” ucap rashi lalu melenggang pergi. sedangkan bian hanya menggelengkan kepalanya.


Sedangkan diperjalanan menuju kantin rashi sedikit agak heran dengan perubahan bian saat ini. dari badannya yang agak gemuk, wajah yang sedikit pucat dan kemarin ia melihat bian lari ke toilet karena muntah cairan bening. apakah bian sedang sakit, itu yang ada dibenak rashi saat ini.


bian yang saat ini sudah berada ditaman untuk mencari tempat yang nyaman untuk dia dan zayn mengobrol sambil kedua matanya menelisik untuk mencari tempat yang bagus. hingga ia melihat kursi panjang didekat pohon yang rimbun,lalu kakinya melangkah dengan pelan menuju tempat itu. namun belum sampai ketempat yang ia inginkan ia malah mendengar suara yang begitu familiar ditelinga nya.


“lalu bagaimana dengan bian. kapan elo bakal mutusin bian zay” ucap cowok yang tengah mengobrol di balik pohon rimbun itu. sedangkan bian yang mendengar namanya di sebut menjadi sangat penasaran. ia sedikit maju untuk lebih jelas mendengar obrolan itu.


“gue bakalan mutusin hubungan gue dengan bian. karena gue pacaran dengannya itu hanya untuk melunasi taruhan kita 2 bulan yang lalu dan hari ini pas 2 bulan gue pacaran dengan bian” ucap panjang zayn


“gue salut sama lo bro” ucap erick


“gimana pacaran sama bian. menurut lo menyenangkan atau membosankan” tanya erick kepada zayn


“sangat menyenangkan karena gue udah nikmatin tubuhnya yang indah tanpa sehelai benang pun” ucap zayn sambil membayangkan betapa indahnya kemolekan tubuh.


“zayn. elo udah pernah nyentuh bian. tapi itu tidak ada dalam taruhan kita.”ucap alvin sedikit berteriak


“kenapa elo mau marah. kek nya elo gak suka banget kalo gue nyentuh bian” ucap zayn dengan tatapan menelisik ke arah alvin


“ ya gue ga suka. harusnya sebelum elo nyentuh bian harusnya lo tu mikir bahwa elo pacaran sama bian hanya taruhan tidak di dasari karena adanya cinta” ucap alvin dengan tatapan penuh marah


“bagaimana jika bian hamil. apa elo bakal tanggung jawab di umur lo yang baru 19 tahun ini” tanya alvin sambil mencengkram kerah baju zayn


“vin. udahlah jangan kek gini” ucap erick menengahi mereka berdua


“tapi mau gimana lagi hal itu sudah terjadi”ucap erick dengan entengnya. sedangkan alvin yang mendengar penuturan sahabatnya ini hanya bisa menggelengkan kepalanya


“udahlah vin. jugaan gue mainnya pake pengaman kok” ucap zayn sambil tersenyum dengan alis yang dinaik turunkan.


“elo gak bisa mikir apa gimana sih. bagaimana jika bian tahu bahwa elo hanya menjadikan dia bahan taruhan” ucap alvin. sedangkan zayn yang mendapat perntanyaan seperti itu hanya mengendikkan bahu


“gue gak tahu. tapi yang jelas jika bian hamil gue bakal kasih banyak uang buat dia gugurin kandungannya dan memberikannya uang lebih buat dia shopping” ucap zayn. “karena gua gak sudi jika punya anak dari wanita yang sama sekali tidak gue cintai” ucap zayn.


DEGG


Bian yang mendengarkan semua obrolan ketiga pria itu hanya terdiam dengan buliran bening menetes membasahi pipi mulusnya


“gue disini sedang nungguin dia. karena gue pengen mutusin dia saat ini juga. tapi kenapa dia belum dateng” ucap zayn seperti tak ada beban


“MANUSIA BIADAB LO ZAYNN. ELO GAK PUNYA HATI”ucap alvin dan tanpa aba aba ia memukul wajah zayn hingga meninggal warna merah di sudut bibirnya


“bagaimana jika orang tua bian tahu bahwa anaknya sudah tidak suci lagi. apa elo berfikiran seperti itu”ucap alvin. sedangkan erick ia hanya diam sambil mencerna kata kata yang dilontarkan alvin


“gue gak peduli” ucap zayn lalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya. tak berapa lama pun sahabatnya mulai pergi meninggalkan bian yang sendirian tengah bersembunyi dibalik pohon besar.


Bagaikan terpanah oleh ribuan anak panah. dada bian begitu sesak dan sakit bahkan sulit untuk bernafas. kenapa ia mudah sekali ditipu oleh topeng zayn. ia meruntukki betapa bodohnya dirinya memberikan kehormatannya terhadap zayn dengan cuma cuma. bagaimana jika orang tuanya sampai tahu jika dirinya sudah pernah dijamah pria pasti ia akan membuat malu kedua orang tuanya.


......................


Saat ini bel berdering tanda istirahat sudah selesai. sedangkan bian berjalan dikoridor begitu lunglai hingga sahabatnya rashi menepuk pundak bian.


“elo kenapa. kenapa mata lo sembab, elo habis nangis ya” tebak rashi sambil menelisik wajah sembab bian


“enggak kok ras. gue sedikit kecapean, gue ke kelas duluan ya” ucap bian. lalu melenggang pergi


“gue rasa elo sedang gak baik baik aja deh bi” ucap rashi


Saat pelajaran dimulai hingga selesai bian sama sekali tidak fokus dalam belajar. ia takut jika orang tuanya sampai tahu apalagi ayahnya mempunyai riwayat sakit jantung.


rashi yang duduk di samping bian merasa ada yang tidak beres dengan bian.


“sebenarnya ada apa sih sama lo bi. gue gak bisa jika lihat lo gak semangat kek gini. kek nya lo lagi banyak masalah ya” batin rashi


hingga saat pulang sekolah pun bian berjalan dengan menundukkan kepalanya. ia menahan tangis dalam diam. mulai saat ini ia tidak akan pernah mau bertemu dengan zayn lagi.


...----------------...


sedikit cerita, jadi bian itu masih kelas 11 sma sedangkan zayn sudah kelas 12 sma.