
**Ckittt..
suara mobil yang direm mendadak**.
"aww" suara bian sambil mengelus keningnya akibat rem mendadak dari calon majikannya ini membuatnya kepentok kursi kemudi.
"turun kau" ucapnya sedikit galak. lalu ia turun dan diikuti bian.
"selamat siang pak" sapa pak udin yang bertugas sebagai satpam dirumahnya sedangkan pria itu hanya mengganguk kecil.
"mari ikut aku masuk" ucapnya dan diikuti dengan bian.
saat masuk kedalam rumah bagi bian ini bukanlah rumah biasa melainkan istana megah, pikir bian.
"khemm" bian yang mendengar deheman dari majikannya ini sontak langsung tersadar akan dirinya yang sejak tadi mengagumi rumah yang megah ini.
"bi iyem" teriaknya
" iya pak"ucap bi iyem
" ini tamu kita. tolong bawa gadis ini ke kamar tamu ya bi" ucapnya dengan senyuman
"baik pak" ucap bi iyem
"mari non biar bibi antar"ucap bi iyem. sedangkan bian hanya mengekor bi iyem.
"kan disini gue mau jadi pembantu kenapa pria itu bicara aku sebagai tamu. sedikit mencurigakan" batin bian, sambil berjalan mengekor bi iyem.
......................
sedangkan diruangan yang luas bernuansa abu abu seorang pria tengah menghisap sebatang rokok dengan ditemani sebuah wine.
"saat aku melihatnya aku berfikir itu kamu" ucapnya sambil menyentuh bingkai foto seorang wanita yang tersenyum manis
"waktu itu aku sangat terkejut melihat seorang wanita tengah terbaring dijalan dengan wajah yang mirip denganmu. waktu itu kakinya penuh dengan luka"
"aku merindukanmu sayang" ucapnya dengan buliran bening mengalir dipelupuk matanya.
saat ia tengah bersedih seseorang mengetok pintu kamarnya dengan sangat keras.
Ceklek
setelah membuka pintu yang pertama kali ia lihat adalah seorang gadis yang berdiri dengan senyuman kakunya
"maaf pak. saya belum bertanya, soal tugas saya itu apa ya pak" tanya bian. jujur ia sangat takut jika berhadapan dengan majikannya ini.
"tugasmu hanya melayaniku" ucap dingin pria itu. sedangkan bian yang mendengar kata MELAYANI langsung tengang pikirannya melayang entah kemana.
"layani aku dengan cara buatkan aku makanan untuk pagi dan malam. serta pilihkan baju untuk aku bekerja ke kantor" ucapnya saat melihat wajah tegang bian.
"hanya itu pak" tanya bian. pasalnya sejak tadi ia berfikir bahwa pekerjaanya itu seperti membersihkan seluruh rumah.
"kau ingin tugas yang seperti apa" tanya nya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"emm tidak" jawab cepat bian
"emm. kalau boleh tahu nama bapak siapa, saya kan belum tahu" ucap bian sambil menunduk
"panggil aku galan" ucapnya lalu masuk kedalam kamar dan membanting pintu.
Jdeerr
sontak bian langsung memegang dadanya sangking terkejutnya.
"galak banget sih".batin bian. lalu ia berjalan ke arah dapur tapi ia tak tahu sebelah mana dapurnya. bahkan untuk ke kamar majikannya ia harus bertanya dulu dengan bi iyem.
"hah" kaget bian dengan keterkejutannya, lalu ia berbalik badan dan melihat seorang pria yang tampan tengah memandangnya dengan tatapan yang begitu menusuk
"maaf pak" lirih bian sambil mengatur rasa terkejutnya
"sedang apa kau malam malam begini hmm.. kau seperti pencuri yang tengah mengendap endap" ujar galan dengan tatapan elangnya, hingga membuat sang empu melebarkan matanya
"hah. enggak pak, saya bukan mau mencuri. saya hanya ingin minum" jelas bian
"sini ikut aku, akan kutunjukkan dimana dapurnya" ucap galan lalu menuntun bian ke dapur. sedangkan bian hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal
"duduk lah. akan ku ambilkan air minum untukmu" sedangkan bian hanya menurut. entahlah ia sangat ini susah untuk berfikir terlalu dalam.
"sebenarnya siapa majikan dan siapa pelayannya" batin bian sambil mengamati galan tengah menuangkan air ke dalam gelas.
"kau jangan ke pedean dulu ya. aku melakukan ini agar kau tak merepotkan aku terlalu jauh" ucap galan sambil menyodorkan air minum kepada bian
"tapi bukankah ini juga merepotkan bapak" ucap bian hati hati. lalu ia meminum air yang diberikan galan, belum sempat air itu ketelan galan melontarkan kalimat yang membuatnya terkejut hingga ia menyeburkan air yang masih dimulutnya.
"jika kau kelelahan itu akan berakibat pada calon bayimu kan" ucap galan santai
Byurr.. bian tak sengaja menyeburkan airnya dibaju mahal milik galan
"apa yang bapak katakan. aku tak mengerti" ucap bian. ia takut jika dipecat oleh galan jika ia tahu bahkan bian telah hamil diluar nikah
"sampai kapan kau akan merahasiakan hal ini. apa sampai perutmu membesar dan melahirkan" ucap galan menatap lekat mata bian yang sedikit memerah
"kau sudah menikah" tanya galan dan mendepat gelengan kepala dari bian
"aku belum pernah menikah" ucap bian menundukkan kepalanya dan tak terasa buliran air menetes membasahi pipinya
"aku mohon pak jangan pecat aku. aku sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membiayai kebutuhanku sehari hariku" ucap bian. lalu ia dengan cepat berdiri dari duduknya dan menyentuh kaki galan.
"lepas kan tanganmu dari kaki bian" sentak galan
"jangan pecat aku pak" mohon bian. lalu ia melepas tangannya dari kaki galan
"jika sudah minum pergilah ke kamarmu dan tidur" ucap galan lalu pergi meninggalkan bian yang terduduk dilantai dengan keadaan menangis
"hiksss.. apa ini hukuman selanjutnya untuk perbuatanku" tangis bian lirih
"jika aku dipecat bagaimana kehidupanku kedepannya" ucap bian sambil menyentuh perutnya yang rata
"aku rindu ibu dan ayah.. hikss" ucap bian dengan bibir bergetar
...----------------...
sedangkan dikamar galan masih merenung. ia sangat berfikir keras.
"ditengah jalanan yang sepi dan guyuran hujan seorang wanita yang terbaring ditengah jalan menggunakan seragam sekolah ditambah lagi dengan kedua kakinya yang terluka dan dengan keadaan hamil.. sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan bian" cukup lama ia berfikir membuatnya lelah dan tak sengaja ia tertidur dikasur empuknya dengan posisi terduduk.
tak lama setelah galan tertidur seseorang membuka pintu kamarnya yang tak terkunci. orang itu mengintip dibalik celah pintu.
"apa aku akan dipecat olehnya. jika iya aku akan kemana setelah ini" ucap bian. baru saja ingin menutup pintu ia samar samar mendengar suara berat milik galan yang memanggil manggil seorang wanita.
"agnes" lirik galan dengan mata tertutup. bian yang penasaran lalu mendekati galan yang tertidur
"dia berkeringat, padahal ruangannya sudah sangat dingin" ucap bian. lalu ia menyeka keringat galan dengan tangannya tapi tangannya langsung ditarik oleh galan kedalam pelukannya
"pak tolong lepaskan tanganku"lirih bian namun yang diajak bicara hanya memanggil agnes.
"siapa agnes kenapa pak galan memanggil agnes terus. apa dia pacarnya atau istrinya" pikir bian