THE LIFE OF A BIAN

THE LIFE OF A BIAN
Episode 14



Seorang pria yang berjalan sedikit berlari memasuki rumah sakit dengan penampilan acak acakan. Banyak pasang mata yang menatapnya dengan iba, Bagaimana tidak pria itu menangis sambil berteriak tak lupa seorang wanita yang dibopongnya dengan menggunakan dress putih dengan keadaan banyak darah.


"DOKTEERR.. SUSSTEEERR. APA KALIAN SEMUA TULI" teriak galan. Hingga sesaat kemudian seorang suster datang dengan mendorong brankar rumah sakit.


Galan yang melihat suster tersebut mendorong brankar langsung merebahkan bian dibrankar tersebut dan langsung dibawa ke sebuah ruangan untuk ditindak lanjutkan.


"maaf pak. Sebaiknya bapak tunggu disini saja, biar kami dan dokter yang menangani pasien" ucap suster saat galan ingin menerobos masuk


"saya mohon selamatkan dia dan bayinya sus" ucap galan lirih


"baik pak" ucap suster lalu menutup pintu ruangan


Galan begitu sangat prustasi. Ia takut jika terjadi sesuatu pada bayi ataupun ibunya. Jika iya maka dirinya tidak bisa memaafkannya.


Galan yang tidak bisa tenang hanya bisa mondar mandir didepan ruangan sesekali ia melihat jam dinding yang terpasang ditembok yang tak jauh dari ruangan bian.


Tak membutuhkan waktu lama untuk galan menunggu dokter keluar.


"bagaimana keadaannya dok" tanya galan


"bapak ini siapanya ya" tanya dokter


"saya suaminya" jawab galan dengan cepat


"keadaannya sangat buruk pak. apalagi kandungan pasien baru memasuki usia 8 bulan. Jalan satu satunya adalah melakukan tindakan operasi caesar untuk menyelamatkan bayi dan juga ibunya pak" jelas dokter


"lakukan saja yang terbaik dok. Selamatkan mereka berdua. Saya akan bayar berapapun itu" ucap galan dengan memohon


"baik pak. Saya akan lakukan yang terbaik untuk pasien dan calon bayinya" ucap dokter itu lalu kembali memasuki ruangan dan mendorong brankar bian keluar untuk pindah ruangan.


Galan yang melihat bian tak sadarkan diri dengan wajah pucatnya dan selang infus yang menempel ditangan tak bisa membendung air matanya.


Dirinya ikut mendorong brankar bian sampai di depan RUANG OPERASI. Setelah bian memasuki ruangan operasi galan hanya bisa menunggu diluar. Ia sangat berharap operasi ini berjalan mulus.


"aku memang bukan siapa siapanya bian. Tapi aku tak ingin terjadi sesuatu dengannya maupun anaknya. Cukup sekali aku kehilangan istri dan calon anakku" batin galan menangis


"kenapa kakak menangis. Apakah wanita yang masuk kesana istri kakak" tanya anak kecil itu. Anak itu sedari tadi memperhatikan galan yang mendorong brankar bian


"hm iya" ucap galan sambil mengangguk


"siapa namamu. Dan kenapa kau berada dirumah sakit ini" tanya galan dengan lembut


"namaku faren. Aku berada disini karena ibuku sedang sakit" ucap faren


"dan celengan ayam ini" tanya galan saat melihat celengan ayam yang sudah dirobek yang sejak tadi berada digendongan faren


"ini tabunganku. kata suster kalau ibu mau sembuh harus bayar dulu, tapi saat faren memberikan tabungan ini uangnya gak cukup" ucap faren langsung menundukkan kepalanya


"apa faren hanya bersama dengan ibu saja" tanya galan dan hanya mendapat anggukan dari faren


"aku hanya bersama ibu. Sedangkan ayahku aku tidak tahu. Ibu selalu bilang bahwa ayah pergi meninggalkan faren dan ibu" ucap faren dengan polosnya


Galan yang mendengar itu langsung iba.


"kakak akan membantumu untuk biaya pengobatan ibu faren. Agar ibu faren cepet pulih" ucap galan dengan tersenyum


"beneran kak. Terimakasih kak" ucap faren lalu menangis


"heii.. Kenapa faren menangis" tanya galan


"aku sangat senang. Ternyata ada orang yang sangat baik yang mau menolong ibu faren" ucap faren


"ayo ikut kakak. Kita akan membiayai pengobatan ibu faren" ucap galan lalu menuntun faren menuju pelunasan administrasi


"berapa usiamu faren" tanya galan saat berjalan dilorong rumah sakit


"lima tahun kak" ucap faren


"lima tahun. Kasihan sekali anak ini" batin galan