
**Sore hari pukul 16:00
Seorang wanita yang memasuki halaman perumahan dengan mengunakan seragam putih abu abu dengan penampilan yang acak acak an. rambut yang berantakan yang penuh pecahan telur dan seragam yang bau akibat terkena siraman air got, siapa lagi jika bukan bian**.
“maa.. pa.. bian pulang” ucap bian memasuki rumah. ia tengok ke kanan dan kiri tapi tak menemukan dimana keberadaan kedua orang tuannya
“mungkin mereka sedang keluar” ucap bian sambil sesekali mengusap lelehan air matanya. saat bian ingin melangkahkan kakinya menuju kamar seseorang memanggil namanya dengan tegas.
“Biaannn” panggil ayah dengan mata yang penuh amarah
“ayah” ucap bian. lalu menghampiri kedua orang tuannya. “ada apa yah, kenapa ayah melihat bian seperti itu. apa bian melakukan kesalahan“ tanya bian. ia bergantian melihat kedua orang tuannya, namun tidak ada jawaban yang keluar dari bibir keduanya.
“Hiks.. hiks..hikss” tangisan azka terdengar sampai ruang tamu. hal itu terdengar jelas ditelinga bian.
“azka menangis” ucap bian. saat bian ingin menghampiri kamar azka, tangan kekar ayahnya mencekal kuat pergelangan tangan bian hingga membuat sang empu merasa kesakitan.
“ayah sakit”. ucap bian
“sebenarnya apa yang terjadi. kenapa ayah, ibu hanya diam saja. ayo katakan pada bian” ucap bian sedikit menaikkan nada suaranya.
Bukannya menjawab sang ayah langsung melempar kertas hasil pemeriksaan hasil positif bahwa bian hamil tepat diwajah bian. sedangkan bian yang melihat itu matanya melotot seakan apa yang ia pikirkan sudah terjadi.
“Jelaskan” ucap dingin ayah
“Ayah. maafin bian, bian salah hikss. hikss”ucap bian terduduk menyembah sujud di kaki sang ayah. tapi ayahnya hanya diam memandang putri kesayangannya sedang bersujud di kakinya.
“ibu.. hikss hiks” tangis bian saat ayahnya tak merespon ucapannya.
“kau tahu saat aku melihat dan membaca kertas itu. aku sudah gagal menjadi seorang ibu yang mendidik anaknya” teriak ibu dengan tangisan yang tak bisa di bendung
“apa benar kau hamil. lalu anak siapa itu bian” tanya ibu sambil menunjuk perut bian yang masil ramping
“aku hamil bu. usianya sudah 3 minggu” ucap bian tanpa melihat raut wajah kedua orang tuanya
“aku bertanya tentang ayah anak ini buka usia kandunganmu biann” ucap ibu dengan nafas yang tersengal sengal
“aku tidak tahu bu” ucap bian. ia tak mungkin bicara jika zayn ayahnya. ia masih ingat sekali saat akan pulang zayn mencegahnya di jalan dan berkata jika dia tidak melakukan aborsi maka dia sendiri yang akan melakukannya.
“sudah berapa banyak lelaki yang menidurimu”kini giliran ayahnya yang berbicara kepada bian
“ayah” ucap bian kaget dengan ucapan ayahnya
Plakkk
“KATAKAN BIAAN” bentak sang ayah
“hiks.. hikss” tangisan bian semakin kencang kala sang ayah yang lembut membentak dan menamparnya untuk pertama kalinya
“aku tidak ingin mendengar suara tangisanmu tetapi jawabanmu” teriak ayah. bukannya menjawab bian hanya menggelengkan kepalanya
“pergi dari sini. tinggalkan rumah ini sekarang juga”ucap ayah lalu ia berbalik badan, sungguh ia sangat kecewa dengan apa yang dilakukan bian
Degg
“tidak ada banyak waktu untukmu bicara. pergilah ke kamarmu dan kemasi semua barangmu dan keluar dari rumah ini, jangan pernah kembali ataupun menemui ku, ibumu bahkan azka sekalipun. karena aku tak sudi punya anak yang tak punya rasa malu hingga dengan berani memberikan kehormatan dengan pria yang bukan suamimu”ucap ayah panjang
“jika aku pergi, aku harus tinggal dimana ayah” teriak bian. entah lah saat ini bian merasa ia dibuang begitu saja, kemarin oleh zayn sekarang ayahnya pun mengusirnya.
“JIKA AKU BILANG KEMASI BARANGMU DAN PERGI DARI SINI. AKU MUAK MELIHAT WAJAHMU” bentak ayah
“AKU MALU MEMPUNYAI ANAK SEPERTI DIRIMU”lanjut ayah sambil menunjuk jijik ke arah bian. lalu ia masuk ke kamar bian dan mengemasi pakaian bian kedalam koper dan menyeretnya keluar.
“ini kopermu dan pergilah dari sini sekarang juga” ucap ayah sambil menahan tangis
“hikss.. hiks. ayah jangan usir bian, jika dia pergi dia mau tinggal dimana kasihan dia sedang hamil” ucap ibu lalu ia duduk dibawah kaki ayah dan bersujud dikaki ayah.
“ibu” teriak bian.
“bian akan pergi. ibu gak usah khawatir ya pasti bian akan jaga diri bian” ucap bian lalu memeluk ibunya
“ibu jaga diri baik baik yah. bian pergi dulu” ucap bian lalu menyeret kopernya
“Kak biaaann” teriak azka. bian yang mendengar teriakan azka seketika berhenti dan berbalik untuk melihat azka
“kak bian jangan pergi. jika kak bian pergi nanti siapa yang akan bermain dengan azka” ucap azka sesenggukan
“kan azka masih punya banyak teman” ucap bian sambil tersenyum walaupun hatinya sedang tak baik baik saja
“tapi tidak ada yang seperti kakak” ucap azka
“sini peluk kakak” ucap bian dengan tangan direnggangkan
“huaaa.. kakak jangan pergi” ucap azka dengan tangisan yang kencang
Ayah yang tak tahan dengan ini semua menghampiri kakak adik yang sedang berpelukan itu, dan menarik azka agar melepaskan bian.
“ayah jangan pisahkan aku dengan kakak”teriak azka membrontak saat ayah menariknya
“pergilah sejauh jauhnya dari sini” ucap ayah mengusir bian saat azka sudah lepas dari pelukan bian
“iya bian pamit untuk pergi ya”ucap bian. “jaga kesehatan ayah ya”lanjut bian lalu menyeret kopernya dan keluar dari pintu hingga menghilang.
“Hikss.. bian” teriak ibu. lalu ia ingin mengejar bian tapi ia dihalangi oleh ayah
“masuklah ke kamar” ucap ayah. sedangkan ibu ia langsung lari kedalam kamar dan membanting pintu
Brakk
“kau juga masuklah ke kamar” ucap ayah
“hikss. ayah jahat, azka benci ayah”teriak azka sambil berlari masuk ke kamar..
“maafkan ayah bian. ayah terlanjur kecewa denganmu. ”batin ayah.