
Suasana malam ini bisa dirasakan dingin,gelap bahkan **sesekali suara bergemuruh keras dilangit yang pertanda sebentar lagi akan turun hujan.
Tak terasa ia sudah semakin jauh berjalan untuk meninggalkan rumahnya. seputar kenangan dari kecil hingga remaja nampak berputar di ingatannya. andai ia tak mengenal zayn bahkan mencintainya sampai memberikan kehormatannya mungkin saat ini ia masih merasakan kehangatan keluargannya**.
"Aku tidak tahu sekarang aku mau kemana. hikss hikss"
"Rashi. iya aku akan menelfon rashi" lalu ia mengambil benda pipih disaku celananya dan menelfon rashi.
"Hallo bian" ucap suara ditelfon
"*aku hiks.. hikss”
"kau kenapa, kenapa menangis?"
"aku diusir rashi. aku bingung mau kemana malam malam seperti ini. aku takut rashi”
"sekarang kau dimana. aku akan kesitu"
"aku ditaman mini dekat dekat rumahmu”
"baiklah aku akan menuju ke taman. kau jangan pergi ya*” lalu sambungan telfon pun diputus dengan sepihak
Tak butuh waktu terlalu lama untuk rashi sampai ditaman
"bian" ucap rashi lirih saat melihat bian yang memakai seragam sekolah dengan sangat kotor dan bau.
"Rashi” teriak bian saat mengetahui keberadaan rashi yang perlahan mendekatinya
"orang tua lo sudah tahu tentang ini" tanya rashi tanpa memutuskan kontak mata dengan bian dan mendapat anggukan dari bian
"setelah ini elo mau kemana"
"gue juga gak tahu. tapi apa boleh kalo gue nginep sebentar aja dirumah lo" tanya bian hati hati
"bukannya gak boleh bi, cuma elo tahu sendirikan kalo orang tua gue gak suka kalo ada temen gue nginep dirumah" hal itu mendapat anggukan kecil dari bian
"maaf bian. tapi gue punya sedikit uang tabungan buat elo cari kost kost an" ucap rashi sambil menyodorkan amplop coklat
"ini uangnya gak terlalu banyak sih" lanjut rashi
"gak usah ras. ini kan uang yang elo tabung untuk keperluan penting lo, kenapa dikasih ke gue" ucap bian menolak. "jugaan gue masih uang simpanan kok"lanjut bian
"gak papa ini buat tambah tambah kebutuhan elo sama anak di perut lo"
"udah ambil aja” ucap rashi saat melihat keraguan bian
"ya udah gue terima. makasih ya ras, elo emang sahabat terbaik" ucap bian sambil memeluk rashi dengan sangat erat hingga rashi bisa merasakan badan bian yang bergetar
"mau gue bantuin cari tempat penginapan" tawar rashi
"enggak usah ras, mungkin gue bakal ninggalin kota ini" ucap bian sambil tersenyum
"senyum itu palsu bian" batin rashi. ia sangat prihatin akan bian saat ini
"gue harap elo gak bakal kasih siapa pun atas kepergian gue ini termasuk zayn" ucap bian
"gue pamit ya. gue bakal rindu sama elo" lanjut bian lalu pergi dengan menyeret koper
"hati hati bian. gue harap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi" ucap rashi dengan mata yang berkaca kaca
......................
**Detik,menit berganti jam. malam ini hujan turun deras membasahi kota ini, hujan ini menggambarkan ke adaan bian saat ini.
saat berjalan bian melihat diseberang jalan ia melihat seorang wanita yang juga sedang memakai seragam seperti dirinya namun bedanya seragam yang dipakai gadis itu penuh sobekan dan beberapa pria sedang memaki makinya dan mendorongnya ke arah jembatan sungai**.
"habisi dia" perintah seorang pria yang mungkin dia bosnya
"siap bos" ucap serempak pria itu
"kumohon jangan sakiti aku, aku sedang hamil anakmu tuan" tangis wanita itu
"tcihh.. lalu kau ingin aku menikahi hm" ucap pria arogan itu. bukannya menjawab wanita itu hanya menangis dengan tangan yang dikatupkan untuk memohon
"hahaha.. orang tuamu menjualmu padaku karena ia butuh uang , saat aku melihatmu aku menyetujui nya karena aku ingin menyalurkan hasratku kepadamu "
"kau memang tak punya hati tuan, kau menyakiti seorang wanita" ucap wanita itu dan berhasil membuat sang tuan marah
"kau lihat orang tuamu saat menjualmu padaku. apa orang tuamu punya hati nurani, haha itu tidak mungkin. jika dia punya hati tidak mungkin ia menjual anak nya padaku"
"baiklah aku akan lepaskan agar kau bisa hidup dengan tenang tanpa merasakan kesakitan yang aku berikan padamu"
"benarkah?" tanya wanita itu dengan senyum yang merekah
"bodoh" batin pria itu
"seret dia, dan buang dia disungai, agar dia bisa bebas dari ku" ucap pria itu menyeringai
"tidaakk.. kau membohongiku" teriak wanita itu
"kau kejam. sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkanmu" lanjutnya
"Kau ingin mengatakan sesuatu sebelum maut menjemputmu" tanya pria itu dengan senyuman manisnya
"jika aku masih hidup aku akan membalaskan dendamku padamu" ucap wanita itu
"tapi jika kau mati aku akan merayakan pesta yang meriah" ucap pria itu dengan tawa nyaringnya
"aku yakin jika aku ditemukan dengan keadaan yang sudah tak bernyawa pasti orang tuaku akan menuntutmu kepenjara"
"namun sayangnya kita sudah melakukan perjanjian dimana kau menjadi tanggung jawabku sepenuhnya, jika orang tuamu ikut campur dalam masalah ini maka kedua orang tuamu akan matii. hahah.."
"bawakan pisauku" ucap pria itu
"lihatlah karyaku. jika kau mati dengan keadaan muka yang tak dapat dikenali aku akan selamat"ucapnya lalu menyayat wajah wanita itu
"akhhh. sakittt. dasar iblis" teriaknya
"lempar dia kesungai yang deras ini" ucapnya setelah selesai menyayat wajah wanita itu
"baik boss" lalu para pria itu melempar wanita itu ke sungai
"jangan kumohon" lirihnya dengan wajah yang penuh darah
Byurr
"ayo kita pergi"
Setelah melihat pria itu pergi bian datang untuk menolong wanita itu. ia melihat wanita itu tengah berpegangan pada batu besar agar tidak terseret arus.
"bagai mana ini" ucap bian panik
"tolong aku" ucap wanita itu
"jika aku turun untuk menolongnya pasti ini akan sangat berbahaya untukku"
"bagaimana ini" sangat lama bian berfikir orang itu datang kembali dengan sangarnya
"kau ingin menolongnya gadis cantik" tanya pria itu. bian yang mendengar suara itu seketika menegang lalu ia berbalik badan
"tolonglah dia, kasihan dia pasti dia kedinginan kan" ucap pria itu
Bian lalu mengamati keadaan sekitar, namun nihil tidak ada yang lewat sama sekali di jalan ini. lalu ia melihat keadaan wanita itu di bawah, keaadanya semakin melemah pegangan tangannya pada batu perlahan terlepas dan terbawa arus, tapi sebelum wanita itu belum jauh ia sempat bicara walaupun tak terdengar suaranya tapi bian paham sekali wanita itu menyuruhnya untuk pergi.
"aku harus pergi. jika tidak nasibku akan sama sepertinya" ucap bian dengan mata yang berkaca kaca
"kenapa diam hmm. kau pikir aku tak tahu jika kau sedari tadi bersembunyi dibalik semak itu hm"
Glekk..
"lari bian lari" batin bian. entah kenapa kakinya seperti tak dapat gerakkan
saat pria itu perlahan maju dan berhenti tepat di depan bian
"wushh" tiupan yang diberikan bian membuat bulu kuduknya berdiri
"kau kejam" setelah melontarkan kata itu bian langsung menendang alat vital pria itu
"akhh.. sakit" teriak pria itu. ini kesempatan bian kabur, tapi saat ingin lari ia tak sengaja menyenggol kopernya hingga terjatuh kesungai
"ah tidak koperku" teriak bian . " tidak yang paling penting aku bisa kabur". lanjutnya
"hey dari pada kalian disini, lebih baik kejar wanita itu jangan sampai dilolos"
"baik bos".
......................