THE LIFE OF A BIAN

THE LIFE OF A BIAN
Episode 12



Disebuah taman yang sangat indah dengan dikelilingi bunga bunga bermekaran. seorang pria tengah berjalan dengan sendirinya. ia bingung kenapa bisa ia berada ditaman seperti ini. namun,kebingungannya hilang ketika ia melihat seorang perempuan yang sedang membelakanginya sedang tertawa namun seperkian detik ia menangis.


"Siapa dia" ucap pria itu penasaran


"aku samperin aja kali ya" ucapnya. ia menghampiri wanita itu.


"permisi mbak" ucapnya


"hikss..hikss" tangis wanita itu tanpa berbalik badan


"suara tangis ini begitu sangat familiar"batin pria itu.


"agnes" lirihnya


Sedangkan wanita yang dipanggil agnes langsung menoleh ke arah pria itu dengan deraian air mata.


"Mas galan" ucap wanita itu masih sesegukan. ya pria yang sejak tadi mengamatinnya adalah galan


"Agnesss" lirih galan dengan mata yang mengembun. lalu ia merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya, sesekali ia mencium wajah agnes


"aku.. aku sangat merindukanmu sayang. kenapa kau meninggalkanku sendirian. kau tahu kan bahwa aku sangat mencintaimu" ucap galan sambil melepaskan rengkuhannya


"aku tak pernah meninggalkanmu" ucap agnes


"kenapa kau menangis hm" ucap galan sambil mengusap air mata agnes dengan ibu jarinya


"ayo kita pulang kerumah" ucap galan sambil menarik tangan agnes


"aku tak bisa galan" ucap agnes membuat galan terdiam dan menatap lekat agnes


"lupakan aku"lirih agnes tanpa berani menatap galan


"kenapa" ucap galan


"lupakan aku, maka aku akan bahagia disini. takdirmu bukan bersama denganku. kehidupanmu masih panjang, kau harus bisa melupakanku. aku ingin kau hidup bahagia tanpa diriku" ucap agnes dengan senyuman termanisnya


"aku harus pergi.. jika kau merindukanku, tutup matamu dan bukalah kau akan melihat aku dengan sebuah senyuman" lanjut agnes. sedangkan galan ia hanya mengelengkan kepala


"kumohon jangan pergi lagi" teriak galan saat agnes perlahan berjalan mundur


"Aku mencintaimu" ucap agnes sambil melambaikan tangannya dan perlahan menghilang


"AGNESSS" teriak galan


dann...


galan terbangun dari tidurnya,nafasnya tersenggal senggal . ternyata ia hanya mimpi.


"mimpi itu lagi" ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya


~Tok tok


"siapa yang mengetuk pintu sepagi ini" ucapnya lalu turun dari ranjang dan membukakan pintu


yang pertama ia lihat adalah seorang perempuan yang berdiri dengan sebuah senyuman


"pagi pak" sapa bian. sedangkan galan hanya diam sambil menatap wajah bian


"oh ya ampun kenapa pak galan menatapku seperti itu. apa aku benar akan dipecat olehnya" pikir bian sambil menggigit bibir bawahnya


"Agnes" tanpa sadar galan memanggil bian dengan sebutan agnes. hal itu membuat bian mengerutkan keningnya.


"maaf pak saya bian bukan agnes" ucap bian. sedangkan galan ia sadar bahwa didepannya itu bukan agnes


"ma.. maaf ya" ucap galan sambil memijit pelipisnya


"bapak gak papa" tanya bian


"saya gak papa.. oh ya kenapa sepagi ini datang ke kamarku" tanya galan


"soal yang kemarin. emm.." ia sangat bingung, gimana dia akan memulai pembicaraannya.


"lebih baik kau siapkan saja pakainku. aku mau ke kantor ada meeting hari ini" ucap galan


"hah.. bukannya aku dipecat pak" tanya bian dengan tak sabaran menunggu jawaban dari galan


"siapa yang akan memecatmu. tidak ada yang akan dipecat, lebih baik kerjakan saja pekerjaanmu dengan baik" tegas galan


"kenapa bapak bisa tahu jika saya tengah hamil" ucap bian penasaran


"saya yang menolongmu saat pingsan ditengah guyuran hujan deras”


"huh.. Beneran pak. Tapi kata dokter yang dirumah sakit yang membawaku kesana adalah tuan marvindra " ucap bian. Sedangkan galan yang mendengar bian berbicara menjadi sangat pusing


"marvindra itu namaku . Sekarang siapkan pakaianku aku akan mandi" ucap galan dengan mempersilahkan bian memasuki kamarnya


"akh. Benarkah jadi dirimu yang menolongku pak.. Jika begitu aku sangat berterima kasih padamu, aku sangat berhutang budi padamu" oceh bian. Namun tak ditanggapi oleh galan yang sudah memasuki kamar mandi


"yess.. aku tidak jadi dipecat" ucap bian dengan semangatnya memasuki kamar majikannya