THE LIFE OF A BIAN

THE LIFE OF A BIAN
Episode 5



Saat bian tengah berjalan dikoridor sekolah banyak sekali siswa siswi yang memandanginya dengan tatapan sinis.


“eh lihat tu. cewek murahan sedang lewat”


“kalo gue jadi dia udah malu lah mau masuk sekolah”


“pasti orang tua nya nyesel punya anak kek dia”


“gue heran om om mana sih yang ngehamilin dia. uppss”


“hahahahha”


Langkah demi langkah ucapan terdengar ditelinga bian


“bian” panggil seorang siswi. elo dipanggil sama pak kepsek


“tapi tumben bener ya tuh kepsek manggil elo” ucap siswi itu dengan tatapan mengejek


**Bian yang sudah muak dengan situasi ini pun langsung berlari keruang kepsek


Tok tok**


“masuk”ucap kepsek


“ada apa pak panggil bian”ucap bian. walaupaun bian sudah tahu kenapa kepsek menyuruhnya kesini


“pasti kamu tahu kenapa bapak memanggil kamu kesini”


“jujur bian. bapak sangat kecewa sekali saat tahu kamu sedang hamil. padahal kamu anak yang paling pintar yang selalu mendapat pujian dari para guru”.


“siapa yang menghamili kamu”. bukannya menjawab bian malah terdiam


“bian jawab pertanyaan dari bapak. bapak tahu kamu tidak tuli dan bisu maka jawab pertanyaan dari bapak”


“s saya tidak tahuu p pak” ucap bian gugup


“saya benar benar tidak tahu pak” ucap bian sambil menangis


“bapak minta maaf bian. kami para guru sudah mendiskusikan bahwa kamu kami keluarkan dari sekolah ini. dan ini surat keterngan kamu dikeluarkan” ucap kepsek sambil menyodorkan kertas berwarna putih


“baik pak. kalau begitu bian pamit ya pak” ucap bian sambil menyambar kertas putih lalu pergi dan lari sekencang kencangnya


Saat bian berlari semua murid menertawakannya.


“lihat tu si bian. dulu cinta gue ditolak eh sekarang dia hamil diluar nikah. pasti sama om om yang tebel duitnya”


Sedangkan disisi yang lain tiga pria tengah menonton adegan itu.


“harusnya elo itu bertanggung jawab. elo itu bukan lelaki yang sejati zay”ucap alvin lalu pergi


“apa yang di ucapkan alvin itu benar. elo harus bertanggung jawab” ucap erick sambil menepuk pelan pundak zayn dan melenggang pergi


“apa gue memang harus bertanggung jawab. gue emang udah cinta sama lo. tapi gue belum siap jika harus menikah dan apalagi akan punya anak” batin zayn


......................


Sedangkan dirumah


“ini anak gadis kamarnya berantakan banget sih”ucap ibu saat melihat kamar bian yang berantakan


“bu. kenapa ibu ada dikamar bian. ibu sedang apa” tanya ayah


“ayah sudah pulang” ucap ibu lalu meraih tangan suaminya dan menciumnya


“ibu hanya ingin mengantar handuk baru bian. tapi lihatlah kamar bian seperti kapal pecah”ucap ibu sambil menggeleng pelan kepalanya


“sini biar ayah bantu“ ucap ayah


“tidak usah. ibu bisa sendiri” tolak ibu dengan halus


“biar ayah rapihkan bantal yang berserakan dibawah lantai ini ya”ucap ayah sambil memunguti bantal yang di lantai. dan saat ingin merapihkan bantal di kasur bian ia melihat sepucuk surat dibawah bantal


“bu. ini surat apa ya”tanya ayah


“ibu juga gak tahu pak. mungkin itu cuma kertas tugas sekolah bian aja”ucap ibu sambil melanjutkan melipat selimut


“tapi ini dari rumah sakit bu” ucap ayah lalu dengan penasarn yang tinggi ia pun membukanya


“apa isinya yah” tanya ibu. tapi bukanya menjawab ia malah diam. matanya yang memerah menahan tangis terus menelisik tulisan disurat itu hingga ia tak tahan dan membanting kertas itu kelantai.


“ayah. ada apa yah” tanya ibu.


“kenapa ayah terlihat marah”. terlihat jelas dari muka ayah. sorot mata yang tajam,gigi gertakkan dan tangan yang terkepal. ibu yang tak tahu menahu lalu mengambil kertasnya dan membacanya


“gak mungkin yah. anak kita gak mungkin hamil”ucap ibu sambil menutup mulutnya. derairan air mata luruh begitu saja.


“kita tunggu bian pulang. dan kita minta penjelasannya”ucap ayah


。。