
Pesta dansa yang sebelumnya berlangsung damai sekarang berubah menjadi bencana akibat kemunculan makhluk iblis yang di panggil oleh pria misterius, dan saat ini Bernika dan yang lainnya tengah menghadapi makhluk-mahkluk itu.
Salah satu makhluk yang berada di tengah makhluk lainnya langsung menyerang ke arah salah satu gadis yang tak terlindungi oleh perisai sihir milik Ryouta. Dengan memanjangkan tangannya yang penuh dengan cakar besar hitam, makhluk itu dengan cepat menyerang namun...
"Swuees~!"
Tangannya yang panjang itupun langsung terpotong oleh tebasan jarak jauh dari pedang sihir Bernika.
"Dasar monster sialan!, Jika saja tadi aku terlambat...pasti..".
Makhluk yang tangannya terpotong melihat kearah Bernika, dan berpikir untuk menyerangnya-, sementara itu Bernika yang sudah siaga di buat terkejut dan bukan saja dia tapi semua orang yang ada di ruangan dansa yang sudah kacau itu.
Bagaimana tidak, tangan makhluk yang tadinya sudah terpotong kini tumbuh kembali dengan sangat cepat menjadi seperti semula.
"Sudah kuduga ini pasti tidak akan mudah" kata Bernika sedikit tersenyum.
"Sepertinya ini akan semakin berbahaya, kita harus bisa mengevakuasi orang-orang yang terluka terlebih dahulu" kata pemuda bernama Ryouta dan diikuti oleh para wanita di belakangnya.
Saat itu, orang yang sebelumnya memanggil para makhluk mengerikan ini langsung berkata dengan suara keras.
"Khahaha...rasakan lah ketakutan yang sebenarnya, kalian manusia akan mati oleh para Penghukum dari dunia bawah yang legendaris".
Pria itu terus tertawa dengan sombongnya, lalu salah satu murid laki-laki yang ada di luar pelindung Ryouta langsung menyela pria aneh itu.
"Hehe... justru kau lah yang bodoh, menyerang akademy kerajaan yang di penuhi oleh para ksatria muda dan berbakat, itu hanya tindakan konyol".
Semua orang yang berada di luar perisai sihir setuju dengan kata-kata pemuda itu.
Memang benar kalau menyerang academy kerajaan yang diisi oleh para calon ksatria hebat adalah tindakan orang bodoh, karena para murid yang ada di academy ini memang harus siap berhadapan dengan situasi di mana nyawa mereka bisa terancam.
Bahkan ada beberapa siswa/siswi yang terjun langsung ke tempat pertarungan nyata yang berbeda dengan latihan biasa.
Namun walaupun sudah mengetahui hal itu pria misterius aneh itu malah semakin keras tertawa dan berkata.
"Khahaha... kalian manusia lemah memang tau apa?, kalian pikir bisa menghadapi para Penghukum yang kupanggil?".
Pria itu menunjuk kami semua dan berkata kepada makhluk yang dia panggil para Penghukum.
"Ayo! cepat singkirkan mereka semua da-...!?"
Pria itu langsung masuk kedalam genggaman salah satu Penghukum bertubuh gemuk sebelum menyelesaikan kata-katanya.
"Eh?!-ah..a-apa yang kalian lakukan?, kenapa-...aargh!".
"Krak...krauk...!"
Tubuh pria itu di remukan seperti kerupuk oleh Penghukum bertubuh gemuk, setelah itu makhluk itu membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukkan tubuh pria yang sudah mati itu dan memakannya.
Melihat itu semua murid dan tamu undangan lainnya sangat kaget sekaligus jijik.
Bernika tak bisa terus memandangi pemandangan mengerikan itu, sementara beberapa orang lainnya berteriak ketakutan.
Dan aku yang melihat dari balik meja yang terjungkal merasa kalau ini semakin menarik, sementara dua idiot di samping ku yang karena tak punya nyali untuk melihat monster-monster itu, mereka sedari tadi berlutut ketakutan seperti pengecut dan tak tau apa yang terjadi dari balik meja.
___
"Seenaknya saja memerintahkan...,apa kau pikir kami para Penghukum akan mematuhi perintah makhluk lemah seperti mu?" Kata salah satu makhluk Penghukum yang berdiri di tengah kepada pria yang di makan.
"Yah rasanya juga tidak enak, aku ingin sesuatu yang lebih nikmat" kata makhluk gemuk.
"Apa-apaan itu?, makhluk itu memakan orang aneh tadi"
"Itu sangat menjijikkan" seruan murid dan tamu lainnya yang menyaksikan.
Bernika yang sudah tidak tahan lagi ingin menyerang Melesat maju ke arah makhluk-makhluk itu, namun tak di sangka serangan cepat miliknya bisa di tangkis hanya dengan satu tangan, hal itu membuat Bernika kaget.
Bernika yang kebingungan kenapa serangan nya bisa di tangkis berkata,
"Kenapa ini?, Serangan ku tadi seharusnya sudah cukup mampu untuk menghajarnya, namun..."
"Khehe... sepertinya kau belum sadar, karena sebelumnya kau mampu untuk memotong tangan ku dengan sihir mainanmu itu, maka aku berpikir lebih baik jika kita bertarung tanpa sihir saja".
"Yah itu pastinya lebih seru kan ya" tambah makhluk wanita.
Mengetahui kalau mereka tidak bisa menggunakan sihir lagi, beberapa orang yang ada di tempat itu seketika menjadi panik, bahkan orang yang sebelumnya bicara sangat sombong langsung ketakutan dan mengompol di celana.
"Bagaimana ini Ryouta? Apa yang sebaiknya kita lakukan?" Tanya wanita berpakaian seperti seorang suster gereja yang tampak nya seperti healer.
"Kak Ryouta...apa kita...akan bertarung?" Gadis bertubuh kecil seperti seorang anak perempuan yang imut.
"Iya! Kita juga tidak bisa tinggal diam tanpa melakukan apapun" ucap Ryouta dengan percaya diri.
"Kalau begitu maka aku juga akan bertarung bersama mu" jawab wanita berkulit coklat yang hanya mengenakan penutup dada berwarna putih dan memakai celana ketat pendek dengan semangat yang panas seperti api.
Diikuti gadis lainnya mereka berlima pergi maju untuk membantu kakakku Bernika bertarung.
Melihat tingkah mereka yang sudah seperti kejadian di dalam komik/manga, membuat ku ingin muntah sekaligus kesal dan ingin sekali menghancurkan harapan itu di mata mereka.
Ryouta bersama kelompoknya itu maju untuk membantu Bernika, namun
"A-apa yang kalian lakukan?!"tanya Bernika.
"Apa lagi kalau bukan ikut membantumu, dan lagi aku tidak bisa membiarkan seorang senior kesulitan dalam menghadapi makhluk seperti itu" jawab Ryouta seperti seorang pahlawan di komik.
"Ha? Aku tidak bantuanmu, lebih baik kau membantu yang lain untuk kabur, pergilah bocah" bantahan Bernika dengan keras.
"Sungguh tidak sopan!, padahal Ryouta sudah susah-susah ingin membantu mu, tapi sikap mu itu malah seperti tidak menghargai nya" kata wanita berpakaian seperti pendeta wanita itu dengan suara kesal.
"Aku tidak peduli walau kau itu senior, kau harus lebih menghargai bantuan orang lain" kata gadis bertubuh kecil yang memeluk tangan kanan Ryouta dengan manja.
Wanita berkulit coklat menatap sinis ke arah Bernika untuk sesaat.
"Sudah..sudah, ini bukan saatnya untuk saling berdebat, dan senior Bernika jika kau ingin mengahadapi para monster-monster itu maka kita semua harus bekerja sama" jawab Ryouta dengan senyum lembut yang membuat para wanita di sampingnya terpesona.
Bernika akhirnya setuju untuk bekerja sama walau dirinya merasa terpaksa, sebab saat ini mereka tidak bisa menggunakan sihir untuk bertarung, dan hanya bisa mengunakan serangan fisik.
"Cih!, Aku tidak pernah mengira kalau aku akan di bantu oleh junior ku".
"Oh iya!, Kenapa hanya senior Bernika yang bertarung di sini, dimana senior yang lainnya?" Tanya wanita pendeta.
"Benar juga, aku jadi penasaran"Ryouta yang langsung tertarik bertanya.
"Kebanyakan siswa laki-laki dari kelas 2 dan 3 saat ini tidak bisa hadir karena mereka saat ini harus di rawat di rumah sakit sebab mereka habis melakukan misi penaklukan yang di pimpin oleh bangsawan Rossebed, dan hampir mereka semua di bayar oleh kelima anak Duke untuk menemani dalam misi tersebut"
Bernika menjelaskan alasan kenapa siswa senior sangat berkurang,
"Dan di angkatanku tidak ada wanita yang hebat dalam sihir pedang selain diriku" tambahnya.
Saat mereka sudah paham dengan apa yang terjadi, tiba-tiba sebuah tebasan cakar raksasa menyerang Ryouta dan Bernika dengan cepat, namun berhasil di hindari mereka berdua.
"Cih, dasar manusia busuk!, Beraninya kalian mengabaikan kami" kata makhluk wanita.
"Sepertinya kalian semua memang meremehkan kami"kata makhluk yang kurus namun menakutkan.
Akhirnya mereka kembali berfokus pada musuh yang ada di hadapan mereka semua saat ini.
Kelima makhluk itu mengeluarkan aura ungu yang sangat banyak dari tubuh mereka, dan kembali menatap kami semua dengan mata hitam yang menekan.
Bersambung