THE GREAT KINGS

THE GREAT KINGS
Prolog



Sama halnya seperti kebanyakan orang-orang di dunia ini yang mengidolakan atau mencita-citakan untuk menjadi seperti idola mereka, akupun juga demikian mengagumi seorang karakter pahlawan yang sangat kuat dan keren, yang selalu berdiri dengan gagah berani, bebas tanpa mengenal rasa takut tidak ada yang bisa menghentikannya maupun mengalahkan dirinya.


Dia juga sangat menyayangi para pengikut-pengikut yang selalu setia bersama dengannya. Langit dan bumi mengakui dirinya, semua monster takut hanya dengan mendengar namanya saja, manusia dan dewa memberi hormat di bawah kakinya. Dan orang-orang memanggilnya (Sang Raja Kera yang Agung).


Pertama kalinya aku menyadari sosok luar biasa sang raja kera saat aku berumur 8 tahun ketika aku bersama keluarga ku berlibur ke rumah kakek dan nenek di desa, saat itu siang hari kakek memutar DVD lama miliknya yang berisi tentang petualangan (raja kera bersama rekan-rekan nya) di tv lama mereka.


Saat awal film di mulai sampai film berakhir aku tidak bisa memalingkan pandangan kekaguman dengan wajah yang sangat bersemangat di depan tv, dan kakek hanya tersenyum lembut melihatku begitu. Dan sejak saat itu di mulai dari SD,SMP, hingga SMA aku selalu ingin menjadi seperti sang raja kera dari sifatnya dan kekuatan nya, karena itu aku bahkan sudah mempelajari berbagai seni bela diri dari (karate, boxing,kung Fu, hingga pencak silat) hanya untuk menjadi seperti raja kera.


Namun walaupun aku sudah melalui semua proses itu aku tetap menyadari satu hal penting tentang kekurangan terbesar dalam diriku; yaitu aku hanyalah salah satu dari jenis makhluk yang selalu memiliki batasan pada tubuhnya yang di sebut manusia yang suatu saat pasti akan mati!. Lalu aku melanjutkan pencarianku untuk mencari keabadian sampai pada di suatu titik aku menemukan sebuah petunjuk bagaimana cara untuk mendapatkan umur panjang adalah dengan menggunakan (sihir).


Akupun mulai mencari kekuatan itu yang bernama sihir dari informasi yang di sebut internet-, sampai pada kelas 2 SMA di semester satu aku akhirnya hampir menyerah untuk mencari sihir itu.


Dan di suatu hari saat aku di perjalanan untuk pergi kesekolah aku tidak menyadarinya saat sebuah truk besar menuju ke arah ku lalu membunuhku dengan cepat.


***


-Dan itulah bagaimana aku bereinkarnasi ke dunia lain di dalam sebuah keluarga bangsawan bergelar(Baron).


"Ayolah Key kau pasti bisa melakukannya kan?".


Sekarang umurku 12 tahun di dunia ini dan nama ku di kehidupanku ini adalah Key Dalbert-, aku memiliki dua orang kakak perempuan yang tertua Bellanca Dalbert 15 tahun dan yang kedua Bernika Dalbert 14tahun.


Karena ini adalah dunia lain maka tentu saja hal-hal mengenai fantasy seperti sihir ada di dunia ini, maka dari itu impianku yang tidak akan terwujud di kehidupan ku sebelumnya akhirnya bisa kuwujudkan sekarang di kehidupan kedua milikku ini.


"Bernika ini sudah cukup kan, aku sudah tidak sanggup lagi..i.ii..ha..hah.".


"Tidak!- masih belum.., kau masih harus melakukan push up sebanyak 100 kali lagi!".


"Hah?! apa maksudmu aku harus melakukan nya sambil kau duduk di atasku seperti ini?"


"Tidak usah banyak mengeluh, dan jangan panggil aku hanya dengan namaku saja tapi tambahkan juga sebutan kakak perempuan!".


"Ta..tapi..tapikan.."


"Takk.." Bernika memukul kepala ku dengan tangannya mendengar keluhanku.


Di saat aku masih memegangi kepalaku karena kesakitan, seorang pelayan datang kepada kami berdua


"Nona muda dan tuan muda waktunya untuk istirahat saya sudah menyiapkan makan siang di ruang makan".


Mendengar itu Bernika turun dari tubuh ku sambil menyebarkan rambutnya yang hitam panjang berkilau itu ke udara.


"Hmph... kalau begitu kita sudahi saja untuk hari ini, sebaiknya kau jangan coba-coba untuk melarikan diri di latihan berikutnya apa kau paham?".


"Iya iya aku mengerti aku tidak akan melarikan diri lagi oke, apa kau puas".


Setelah itu Bernika berpaling pergi di ikuti oleh pelayan itu meninggalkan aku yang tengah terkapar di tanah.


[Cih! dasar gadis gila kalau kau bukan kakak perempuan ku sudah ku hajar kau sampai menangis sialan!]. Pikiran ku dengan ekspresi kesal sambil menunjukkan jari tengahku pada mereka dari belakang.


Sebenarnya setelah aku di lahirkan di dunia ini aku sudah bisa memakai sihir dan menggunakan nya, saat umur 2 tahun aku bisa menciptakan sebuah bola api dan air di telapak tangan ku, umur 3 tahun aku sudah bisa membaca dan memahami segala bahasa di dunia, dan di umur 4-6 tahun aku mengaplikasikan ilmu bela diri dan sihirku untuk kugunakan dalam pertarunganku. Tapi semua itu aku rahasiakan dari keluarga ku selama ini untukku bisa menjadi sang raja kera yang agung.


Keluarga ku di kehidupan keduaku ini adalah keluarga bangsawan(Dalbert) berpangkat Baron/Baroness yang di pimpin pria atau wanita tergantung dari ke kejeniusan nya dalam bertarung di baris depan. Awalnya anggota keluarga lainnya berharap padaku untuk menjadi seorang penerus, namun karena aku di pandang sangatlah tidak berguna dalam hal itu jadi mereka menaruh harapan besar terhadap kedua kakak perempuan ku, Bernika Dalbert sangat jenius dalam ilmu bela diri sementara kakakku yang tertua Bellanca Dalbert jenius dalam bidang politik dan bela diri sihir, dia bahkan di gadang gadang setara dengan tuan putri ke dua dari kerajaan ini.


Biasanya untuk meningkatkan kekuatan ku, aku selalu pergi berburu monster di dalam hutan yang terlarang bagi sebagian manusia, aku tidak tahu apa nama hutan ini tapi di sini sangat banyak jenis monster pemakan daging manusia walaupun begitu kadang-kadang aku juga bertemu dengan beberapa orang bandit.


***


Ini adalah hari berikutnya saat aku pergi ke hutan untuk berlatih menjadi penerus raja kera yang agung.


"Haeh mereka sudah terlalu membosankan untuk di jadikan bahan latihan ku sekarang" aku berkata sambil menebas kepala monster serigala hitam.


"Apa aku harus masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan?" Aku sambil melihat ke kedalaman hutan yang gelap di samping kiriku


[Ini semua demi menjadi penerus sejati raja kera] pikirku sambil tersenyum sombong berjalan ke dalam hutan.


Di perjalanan ku aku menemui banyak sekali monster yang lebih kuat yang menyerang ke arahku dari depan dan belakang, tapi itu semua terlalu lemah buat ketajaman pedang sihir ciptaanku ini.


"Duk..duakk..boom..tenk..!!" suara pertarungan terdengar saat aku sibuk menguliti beberapa daging monster, bahkan tanah juga sampai bergetar beberapa kali saat suara itu semakin besar.


Aku berlari menuju asal suara itu yang semakin keras, dan ketika sampai di situ aku dibuat bersemangat saat melihat terjadinya pertarungan antar sekelompok monster.


"Woah keren!...um mereka itu apa yah? Kalau tidak salah monster yang berwarna hijau jelek itu ogre dan yang satunya...eh bukannya mereka adalah jenis yang paling lemah dari semua monster yaitu Kera bumi .


Bukannya mereka akan mati dengan mudah kalau begini".


Kedua kelompok monster itu adalah Ogre(monster raksasa bertaring) dan yang terlihat lemah dan kecil itu adalah Kera Bumi mereka memiliki bulu berwarna merah seperti nyala api.


"Hahaha... kalian para makhluk lemah tidak pantas untuk berada di hutan ini, seharusnya kalian merasa terhormat menjadi makanan kami para ogre hahahah".


"Sialan kalian seenaknya saja masuk ke wilayah kami dan membunuh teman teman kami, aku bersumpah akan membalas kalian semua para ogre!!"


"Hmp memang nya monster lemah seperti kalian bisa melakukan apa?".


Saat ogre itu ingin memotong kepala salah satu kera itu tiba-tiba muncul seekor Kera raksasa berbulu putih perak menghajar ogre itu sampai dia terlempar. Kera besar itu bahkan lebih besar dari semua ogre yang ada di tempat itu, dan akupun ketika melihat nya sangat bersemangat dari atas pohon di balik dedaunan.


Suasananya menjadi sunyi sekejap saat kedatangan tiba-tiba kera raksasa perak itu, dan dalam waktu singkat keadaan berbalik sekarang para ogre ogre sombong itu yang tengah di hajar oleh sang kera perak.


"To tolong!!"


"Hii.. jangan kesini!!".


"Ampuni akuu!".


"Beraninya kau berkata begitu setelah kalian menyakiti saudara saudara ku sialann!".


Sementara dia masih berbicara ogre yang terlempar pertama tadi kembali datang menghampiri kera perak dengan sangat cepat dan melukai bagian perutnya dengan batang pohon yang tajam.


"Hehehehe kau pikir bisa mengalahkan ku hanya dengan sekali pukul dasar kera busuk!" sambil menendang luka kera itu, ogre hijau yang wajahnya setengah sudah hancur itu berkata.


"Hehehe aku sudah menunggu mu untuk datang wahai sang pemimpin kera bumi (Boo)".


"Tunggu, bukankah Boo adalah salah satu penguasa hutan terlarang di wilayah timur?". Para ogre yang sedang membicarakan kera perak bernama Boo itu tampak sedikit ketakutan.


"Tuan Boo...tidakkk!" salah seekor Kera bumi merah kecil yang melihat Boo tertusuk batang pohon tapi dia di halangi oleh kera yang lebih besar dari belakang.


"Hehehe kaulah alasan kenapa aku datang ke tempat ini! agar aku bisa membunuhmu dengan kedua tanganku dan menjadi penguasa wilayah timur yang baru! Sangat di sayangkan kau harus mati karena melindungi beberapa makhluk lemah yang bahkan bukan rasmu,...yah lagi pula kau sudah terlalu tua".


"mereka memang... bukan jenis ku tapi..hah ha..ergh.. mereka juga makhluk hidup yang punya hak untuk terus hidup di dunia ini" Boo yang terus menahan sakit di perutnya.


"Hah?..memangnya aku peduli dengan itu, lebih baik kau mati saja kera tua busuk!" Ogre mengayunkan kapak yang di ambilnya di tanah kearah Boo.


"Waass..dusk" tapi untungnya Boo bisa menghindar dari itu.


"Hmp kau kira walaupun aku sudah terluka seperti ini kau bisa membunuhku? Kau terlalu bodoh! kau pikir kenapa aku di sebut yang terkuat di timur kalau aku akan selemah ini?". Boo menendang tubuh ogre itu dan lalu memukul-mukul dadanya dengan tangannya.


Sementara itu aku masih mengawasi mereka bertarung di balik daun di atas pohon dengan mata berbinar dan karena aku bisa mengerti tentang semua bahasa di dunia ini maka aku mengerti dengan apa yang mereka bicarakan sejak awal.


Ogre itu bangun dan menyerang Boo dari belakang yang mengakibatkan daranya memucrat keluar sehingga dirinya lengah oleh tendangan dan pukulan dari ogre ganas itu.


Setelah Boo terjatuh ke tanah tangan ogre mengeluarkan sihir gelap seperti api hitam, di saat dia mau mengarahkannya pada Boo seekor kera kecil melempar batu di kepala ogre.


"Apa yang kau lakukan bangsat!- kau ingin kubunuh terlebih dahulu ya?".


Sambil ketakutan kera kecil itu berkata "le..le lepaskan kakek Boo atau-..!".


"Atau apa ha?!".


Kera itu menangis sambil gemetaran di tempatnya sementara kera dewasa lainnya tidak bisa berbuat apa-apa melihat itu di depan mata mereka.


"Hmnp...aku akan mengurus mu nanti-, saa..mari kita lanjutkan urusan kita tadi hehehe".


"Larilah ka..lian semua !urgh!".


"Hehehe matilah kera tua busuk!".


"Uuuurrk...aaaaahh". Teriakan Boo terdengar sampai membuat burung burung di sekitar berterbangan akibat tubuhnya di serang oleh sihir milik ogre itu.


"Woom.. swooss." dengan hanya menggunakan kekuatan fisikku aku dengan cepat berada di hadapan Ogre jahat itu dan langsung memotong tangan kanannya yang menekan kera Boo dengan kekuatan sihir gelap.


"Aaaarg si siapa kau?".


Semua monster yang ada di situ terkejut dengan kehadiran ku begitu juga kera kecil yang berdiri gemetaran tadi.


"Humm~ humm~ humm~ itu..bukan..urusan mu jelek".


Ogre itu marah dengan kata-kataku dan seketika dia sadar kalau aku adalah manusia.


"Apa yang manusia lemah seperti mu lakukan di tempat ini?- dan lagi kau mengerti dengan kata-kata ku".


"Hey aku tidak mau mendengar itu dari makhluk yang lebih lemah dariku seperti mu".


Ogre itu semakin marah dengan kata-kata merendahkan ku.


"Aku tidak peduli lagi dengan mu..matilah sialan".


Saat ogre itu menyerang ku dia menggunakan sihir yang sama seperti sebelumnya.


"Heh rendahan... benar -benar bodoh kau menggunakan jurus yang sama kepada ku seperti itu!".


Aku membuang pedang di tangan ku dan memasang kuda-kuda bertarung.


"Dasar idiot kau membuang senjata mu ketika menghadapi sihir?".


Aku menahan tangan kiri ogre itu yang mengeluarkan sihir dengan satu tangan dan membakarnya dengan api sihirku, melihat wajah terkejut ogre itu aku lalu mengarahkan tangan kiriku ke wajahnya dan menyentilnya sampai terlempar jauh menabrak lima pohon di belakangnya.


Para monster dan Boo yang melihatnya sangat terkejut dengan mata lebar mereka bahkan ada yang sampai mulutnya ternganga.


"Tidak mungkin manusia biasa memiliki kekuatan seperti itu, sebenarnya siapa kau?" tanya salah satu ogre dari kejauhan.


"Hmm siapa aku kau tanya" dengan wajah tersenyum sombong ku ketika aku menoleh ke arah ogre-ogre itu. "Baiklah akan ku beri tau padamu wahai monster jelek yang ingin tahu-, aku adalah orang yang berdiri di puncak tertinggi dan kisahku akan tersebar keseluruh dunia, dan namaku adalah (Raja Yang Agung) ingatlah itu baik-baik- yah lagi pula kalian para ogre jelek busuk akan mati".


[Ohh...sungguh perkenalan nama yang keren, padahal aku sudah susah-susah memikirkan nama yang lebih baik tadi] pikiran ku yang dalam sambil aku berpose keren untuk memperkenalkan namaku tadi.


"Apa-apaan itu tadi?- itu bahkan bukan nama kan-?". Di saat ogre itu masih berbicara aku memenggal dan membunuh semua ogre yang ada di situ. Darah bercucuran kemana-mana bahkan ada yang terciprat ke wajahku.


Setelah semua monster itu mati tinggal aku bersama kera-kera bumi beserta kera Boo di tempat itu. Mereka semua menatap kearah ku dengan ekspresi khawatir. Saat semuanya terdiam kera kecil tadi berlari ke arah Boo yang terkapar.


"Kakek Boo!... bertahanlah aku akan mengobati lukamu" sambil menangis kera itu mengobati luka Boo.


"Sudahlah tidak perlu lagi- aku sudah tidak membutuhkannya lagi pula aku sudah terlalu tua untuk terus hidup... urgk!".


Kera kecil itu menangis mendengar kata-kata Boo. Akupun menghampiri mereka berdua.


"Eh! apa maumu manusia?" kera kecil itu bertanya padaku dengan ketakutan.


"Jangan khawatir kera kecil, aku tidak akan melakukan apa pun padamu- aku hanya ingin mengatakan kalau aku bisa menolongnya sampai sembuh".


Semua kera bumi itu terkejut melihat ku.


"Tapi..ada syaratnya" wajahku tersenyum lebar mengatakan nya.


BERSAMBUNG