THE GREAT KINGS

THE GREAT KINGS
Chapter 9



Medan perang yang di penuhi tumpukan mayat dan penuh dengan bekas pertarungan.


Burung gagak memakan bangkai para prajurit yang tewas.


Tangisan beberapa prajurit yang kehilangan teman dan saudara nya dan bergema memenuhi tempat itu.


Seorang ksatria yang berlumuran darah dan kehilangan tangan kanan nya, dengan segenap kekuatan terakhir nya, dia menggambar lambang sihir pemanggilan roh.


"Kumo-hon datang lah-...",dengan kesakitan.


Lambang sihir itu bersinar kemerahan lalu berganti putih.


Lalu muncul seorang pria dengan rambut perak dan mata seperti kristal salju yang indah.


Pria itu menatap kearah ksatria yang ada di bawah kakinya, yang sedang terbaring menghadap tanah.


"Jadi kau yang memanggil ku?, Katakan apa keingina-!".


"Jadi kau yang muncul, itu artinya kami masih punya harapan!" Kata ksatria itu.


"Jangan memotong kata-kataku dan membuat ku mengulanginya lagi, katakan apa yang kau inginkan?".


Ksatria yang sekarat itu ketakutan dengan tekanan yang di pancarkan oleh pria di hadapannya.


"A..a a-..ku kumohon tolong balas dendam kami-".


"Lalu apa yang akan kau berikan padaku sebagai gantinya, karena aku tidak mau melakukan hal membosankan seperti tanpa bayaran yang setimpal, kau tau?".


"A?, akan ku beri kau nyawak-?!"


"Aku tidak membutuhkan nyawa kotormu itu, aku ingin sesuatu yang bisa menggairahkan seluruh tubuh dan jiwaku, jika hanya nyawa tidak berhagamu atau beberapa temanmu itu tak akan membuat ku bersemangat".


"Kalau begitu apa yang harus kuberikan supaya kau mau membantu kami?".


"Kalau itu pikiran saja sendiri".


Ksatria itu mulai putus asa dengan pernyataan pria yang di panggil nya.


Dan tiba-tiba ksatria yang sudah sangat putus asa itu mendapatkan ide gila untuk membujuknya.


"Bagaimana kalau... aku memberimu mu-mutiara mistik emas?".


Seketika pria itu tersentak dan melihat ke arah ksatria itu dengan serius.


"Ha? Kau pikir aku akan percaya dengan omongan mu, kau bahkan tidak tidak mampu untuk berdiri sekarang ini, dan juga barang langka seperti itu tidak mungkin ada di dirimu-". Sambil mengangkat kerah ksatria itu.


"Namun aku benar-benar bisa memberikan nya padamu, jika kau mau-".


Pria rambut perak itu menggunakan sihir pendeteksi kebohongan, dan menemukan kalau dia tidak berbohong.


"Kalau begitu kenapa kalian tidak menggunakannya untuk berperang?".


"Itu karena, wadah mutiara nya belum siap untuk pertarungan nyata".


"Hmm, jadi dia masih kecil-".


"Tapi aku tau kalau mutiara itu di pindahkan ke wadah yang lebih kuat maka kekuatan yang sebenarnya akan muncul, apalagi jika makhluk seperti mu yang menggunakan nya, aku yakin kau pasti sudah mencari benda itu kan, karena makhluk seperti kalian akan semakin bertumbuh dan berkembang semakin jauh jika memakan mutiara mistik emas".


Sambil langsung mencekik leher ksatria itu dan mengangkat nya.


"Jika kau sampai berbohong, bukan hanya kematianmu tapi juga seluruh bangsa mu akan kuhabisi", dengan wajah mengancam pria itu mengangkat ksatria yang sudah lemas tepat di leher nya.


"Katakan dimana orang-orang yang kau ingin mati?" tambahnya.


"A.. aku ingi..n kau membunuh... mem..bunuh...orang itu, aku ingin dia merasakan-", ksatria itu mati tercekik sebelum menghabiskan kata-kata nya sambil menangis dan menunjuk ke arah matahari terbit.


"Hah?,(orang itu?), jadi maksudmu kalian di kalahkan oleh satu orang saja?, Khukhuku..hahaha... Kalian benar-benar... dasar manusia lemah".


Setelah mengetahui targetnya, pria itu melempar ksatria yang sudah tak bernyawa itu ke tumpukan mayat lainnya.


Dia berjalan menuju tempat yang di tunjuk sebelumnya, di tempat itu terdapat tumpukan mayat yang menggunung sangat tinggi dan seseorang duduk di puncaknya.


Darah yang berlumuran di sekujur zirahnya dan tongkat hitam legam yang bersandar di bahunya, menjadi tanda kalau dialah orang yang bertarung melawan 100.000 lebih pasukan perang dan mengalahkan mereka.


Orang itu adalah Key yang berumur 13 tahun dengan zirah buatannya dan memakai mahkota bulu panjang di kepalanya.


***


"Jadi kau orang yang harus kubunuh?".


Aku memalingkan wajahku ke belakang dan melihat pria berambut putih perak dengan mata kristal salju sedang memanggil ku.


Lalu aku menghadap kearah nya sambil tetap duduk di tempat ku.


"Khukhuku tak kusangka ada manusia sepertimu yang sekuat ini, kekuatan itu seharusnya tak di miliki oleh manusia. Dua anak panah yang menancap di punggung mu dan tombak yang menembus perutmu itu bahkan seperti nya tidak mempengaruhi nyawa mu".


"Yah, ini memang masih belum cukup".


"?!".


Pria itu melihat ku berdiri bersamaan dengan cahaya mentari yang terbit di belakang ku, dia sempat tampak terkagum sejenak melihat sosokku yang berdiri di atas tumpukan mayat-mayat ini.


Dan seketika pikiran nya kembali sadar untuk membunuhku.


Lalu aku mencabut tombak yang menusuk perut ku dan membuangnya.


Tanpa aba-aba pria itu menyerang ku dengan sihir yang mengeluarkan tali bercahaya dengan duri.


"Hmp, tanpa rapalan sihir ya"


Tak!


Aku menangkap tali itu menggunakan satu tangan kosong tepat di depan wajah ku.


"Heh!",pria itu tersenyum licik.


Lalu sihir petir yang cukup besar keluar dari tali di genggaman ku dengan gilanya.


Namun wajah ku seperti tak ada luka, melainkan seperti terbakar.


"Lumayan, ternyata manusia seperti mu mampu menahannya".


Mata pria itu kemudian bercahaya sambil kedua tangannya mengeluarkan lambang sihir berbentuk diagram.


"Bagaimana kalau dengan yang ini, kita lihat sampai mana kau bisa bertaha-?!".


Ketika dia masih bicara aku aku sudah tidak berada di tempat ku sebelumnya.


"Dimana?!".


Tepat saat dia memalingkan wajahnya, mata kami bertemu sangat dekat.


Tubuh ku sedikit melayang saat menatap nya dengan kedua tangan ku di belakang.


Pria itu terkejut saat mengetahui aku di belakangnya.


Dan langsung menggunakan tendangan belakangnya kepada ku.


Tetapi aku sedikit menunduk saat dia menyerang.


Dan kubalas pula dengan tendangan telak yang tepat mengenai pinggangnya sampai membuat dia terlempar.


"Ugh!".


Serta sihir api yang membakarnya, tanpa rapalan.


Melihat itu akupun juga memukul tanah dengan tongkat ku dan membuat pijakan dari ombak kristal itu menjadi kacau dan mengubah arah nya.


"Ha?, Kau pasti bercanda, khukhuku manusia satu ini membuat ku bersemangat!".


Dengan wajah tersenyum lebar pria itu menggunakan sihir aneh lagi.


"Ruang dan Kegelapan Bersatulah Dalam Keputusasaan~ GateDark!".


Lima lubang hitam muncul diatas dan di sampingku.


Lubang-lubang itu menyerap berbagai benda yang ada di dekatnya tanpa terkecuali.


Itu membuat seluruh tubuh merasakan di tarik dari segala arah.


Di tambah dia juga memasukan kristal berbentuk seperti pedang dan tombak untuk menyerang ku, yang muncul dari dalam lubang hitam itu.


"Menyerahlah manusia, kau hanya akan membuang buang tenaga, GateDark adalah lubang yang akan menghisap apa saja ke dalam kegelapan tak berujung lalu membuat nya menjadi debu. Manusia seperti mu hanya bisa menerimanya tanpa perlawanan".


Mendengar omongan nya, aku meninggalkan tongkatku menancap di tanah dan membiarkannya untuk menyerang ku secara terbuka.


"Maju..." dengan tangan terbuka.


"Heh- aku salah, ternyata kau sama angkuhnya dengan rasmu".


Setelah itu GateDark menghisap dengan tarikan yang sangat kuat, bahkan mayat-mayat di tempat itu tertarik masuk ke dalam nya lalu lenyap.


"Apa hanya ini?".


"!?".


"Aku masih harus menjadi lebih kuat lagi. Hey, gunakan semua yang kau miliki dan serang aku sekeras yang kau bisa"?.


Pria itu sangat marah sekarang sampai urat muncul di kepalanya.


"Kalau sudah begini maka sesalilah dirimu yang terlalu sombong itu".


Hisapan GateDark semakin kuat bahkan sampai membelah tanah dan menghancurkan nya.


Walaupun begitu, bagiku ini hanya sebuah pengukur untuk kekuatan ku saat ini.


Karena itu aku menangkap tongkat yang ku tancap barusan di tanah saat terbang menuju tempat ku berdiri.


Dan dengan sekejap menghancurkan semua GateDark itu dengan satu ayunan tongkat.


"Teengg!".


Mata pria berambut perak itu terkejut karena jurus andalannya di hancurkan dan di tambah karena efek serangan itu membuatnya terpental jauh kebelakang.


"Uuaaggh!".


Aku terbang melayang di atasnya sambil memegang tongkat di belakang ku.


Sambil mengeluarkan aura merah hitam pekat hampir menutupi seluruh medan perang.


Pria itu yang melihat sosokku dari bawah tempatnya berbaring tampak seperti melihat sesuatu yang selama ini dia cari, dengan air mata yang mulai keluar dia berkata.


"Haa sungguh keberadaan yang tak bisa di saingi siapapun, orang ini seperti wujud kesombongan, yang tak terhentikan".


Di saat-saat dia melihat ke langit tempatku melayang, aku menghampirinya tanpa menginjak tanah.


"Jadi inilah akhirnya, lakukan apa yang kau mau-".


"Kau kira aku ini bodoh?-".


"Ha, apa maksud mu?".


"Kau pikir bisa menipuku dengan tubuh palsu murahan, kau yang asli tidak pernah berada di tempat ini kan".


Mendengar ucapan ku pria itu sedikit terkejut dan kemudian mulai tertawa.


"?!, Khukhuku...hahaha..., Ternyata kau bisa mengetahui nya, sejak kapan?-".


"Sejak awal, saat kau menunjukan diri mu. Lagipula sihirmu tidak menunjukan kalau kau mengeluarkan seluruh kemampuan mu-. Dan biar ku tegaskan kalau aku tidak suka bertarung dengan yang setengah-setengah".


"..., Hmp mungkin karena itu juga kau tidak pernah serius".


"Jadi kau akan bertarung serius sekarang?".


"Haha... mungkin walaupun diri ku yang asli melawan mu aku tetap akan kalah, dan itu percuma saja, karena sekali aku bertemu dengan orang yang kuat maka lebih untuk mundur".


Melihat wajahnya yang sudah pasrah membuat ku tidak tertarik lagi berada di sini.


Namun saat aku hendak berbalik meninggalkan nya, pria itu memanggilku.


"Hey...apa aku boleh mengikuti mu?".


Kata-kata itu menghentikanku pergi dan berbalik padanya.


"Itu terserah padamu, tapi sekali kau melangkah bersama ku, kau tidak boleh menoleh ke belakang, jujur saja aku sangat membenci penghianat. Camkan itu".


Sambil berbalik pergi meninggalkan pria itu dengan tangan kanannya yang menutupi wajah puasnya sambil tersenyum, saat tubuhnya masih terbaring di tanah.


Lalu aku kembali berhenti kemudian bertanya padanya.


"Ngomong-ngomong siapa namamu?".


"....aku tidak pernah memiliki hal seperti itu..".


"Hmm akan merepotkan jika kau tidak memiliki nama-".


Sambil menunjuk jidat ku sendiri aku memikirkan nama yang cocok untuknya,


[Sebenarnya aku ini sangat payah dalam menamai sesuatu, bahkan di kehidupan ku sebelumnya saat aku ingin menamai karakter game ku, itu membutuhkan waktu 2 jam].


Lalu aku memperhatikan tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki,


"Hmm?!".


Dan saat itu aku menemukan yang tepat untuknya.


["Mulai sekarang namamu adalah Diagra, taruh itu di kepala mu"]. Dengan nada dalam khas raja agung.


Diagra menerima nama itu dengan bangga sambil berlutut gaya ksatria.


"Kalau saya boleh tau apakah ada arti dari nama ini?".


Aku kembali menoleh ke arah nya dan berpikir sejenak.


"Kesetiaan mutlak, itu artinya. Jangan bertanya lagi".


"Haa sungguh nama yang luar biasa, apakah makhluk rendah seperti ku layak untuk menyandang nya?".


[Chaaa... Jangan berlebihan begitu, apa kau ini bodoh?. Jujur saja, aku hanya asal memberi nama, kata Diagra aku ambil dari kata diagram yang ada di matanya, hanya itu, jadi berhentilah bersikap seperti itu. Apanya yang kesetiaan mutlak aku hanya ingin terlihat keren sambil mengatakan itu, jangan sampai dia mengetahui nya atau aku akan kehilangan muka. Semoga saja dia tidak berkhianat].


Itulah awal pertemuan ku dengan Diagra dan awal dari sebuah bencana yang akan kami ciptakan di masa depan.


BERSAMBUNG