THE GREAT KINGS

THE GREAT KINGS
Chapter 1



sudah kuduga manusia memang tidak bisa di percaya".


"Jangan dengarkan dia!".


Teriak para kera kera bumi lainnya pada kera kecil itu-, sementara aku menatapnya kera kecil itu tanpa pikir panjang menjawabku.


"A..akan ku terima syaratmu ja jadi kumohon selamatkan kakek Boo"


"Apa yang kau lakukan?- jangan percaya pada manusia itu-?"


"Diam! Aku tidak mau mendengar apapun dari kalian yang hanya melihat kakek Boo terluka tanpa melakukan apapun!".


Semua monster kera itu terdiam mendengar bantahan si kera kecil yang tengah menangis. Dan kera Boo hanya menatap dalam kearah nya.


"Jadi kumohon padamu manusia, tolong selamatkan kakek!".


"Hehe karena kau sudah membuat keputusan maka akan ku lakukan".


Aku menyentuh luka kera Boo dan memberikannya cairan eliksir penyembuhan buatan ku kepadanya, tubuhnya seketika bersinar dan luka di sekujur tubuhnya mulai sembuh.


Semua kera yang melihat itu terheran dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Nah dia sekarang akan baik-baik saja"


"Sungguh? syukurlahh"


"Semua lukaku sudah sembuh, aku bahkan bisa menggerakan tanganku lagi, terima kasih manusia"


"Santai santai lagi pula kalian adalah pengikut baruku jadi hal seperti ini bukan apa apa"


"!?"2x


Mereka berdua dan kera lainnya kaget mendengar ku bicara.


"Eh..eh apa maksudmu?"


"Hm?, oh kau belum mengerti ya, yah jelasnya aku ingin kalian berdua..tidak kalian semua yang ada di sini menjadi pengikut setia pertamaku" sambil tersenyum aku menunjuk kearah mereka semua.


"Eh pengikut...setia?"-


"Bukk!"


"Eh kakek apa yang kamu lakuka?"


"Aku kera perak Boo penguasa wilayah timur bersumpah setia pada raja agung!"


"!!?"3x


Semuanya yang melihat Boo sangat terkejut.


"Kakek"


"Aku berterima kasih karena telah menyelamatkan kami semua dari serangan para ogre sementara aku yang seharusnya melindungi mereka malah terluka dengan mudah dan sebagai monster terkuat di wilayah timur aku sudah gagal, karena itu pergunakan lah aku sebagai senjata mu"


Melihat itu para kera bumi lainnya juga membungkuk hormat padaku dan kera kecil itu menatap diriku yang berdiri gagah di tengah-tengah.


[Hooh ini...ini sangat bagus, akhirnya aku mendapatkan pengikut pertama ku, ini langkah pertama ku untuk menjadi raja agung yang perkasa].


Setelah itu aku menyuruh mereka semua untuk mencari markas baru yang lebih besar yang dekat dengan air terjun.


***


Besoknya ketika masih pagi aku kembali kerumahku untuk istirahat namun aku mendapati kakak perempuan ku Bernika tengah berdiri di depan pagar mansion rumah kami. Sepertinya dia kelihatan sangat kesal ketika melihat kedatanganku dari jauh.


"Keeeyyy...!! kemari kau bangsat!"


"?!"


[Ah! sepertinya gadis gila ini sedang marah. Ini akan merepotkan jika berurusan dengannya..., kabur ah].


Namun sebelum aku sempat kabur Bernika sudah meraih kerah bajuku dari belakang dengan ekspresi menakutkan.


"Mau lari kemana kau ha?!- kau pikir berapa lama aku menunggu mu untuk berlatih kemarin, kemana saja kau ini?".


"A aku juga butuh istirahat kan, aku tidak sepertimu yang mempunyai fisik kuat".


"Tapi itu tidak bisa di jadikan alasan untuk kabur bermain main kau kan bisa memberi tahu ku dulu".


Bernika menyeretku masuk ke dalam mansion, setelah itu dia menyuruh ku untuk mandi dan sarapan. Saat aku masuk ke ruang makan di situ ada ayah dan ibuku sedang menunggu, karena Bellanca sekarang tengah berada di academy kerajaan untuk belajar jadi hanya kami berempat saja di meja makan ini.


"Key kemana saja kamu dari kemarin ayah dan ibu sangat khawatir"


"Dia pasti hanya pergi untuk bermain main saja dari pada latihan" Bernika langsung menjawab pertanyaan ayah kami dengan nada merendahkan itu.


"Apa! kau pergi untuk bermain bersama wanita?, sialan! kau belum cukup umur untuk-?!...aaargh"


Saat ayahku tengah berbicara ibuku menginjak kakinya supaya dia bisa diam dari kata-kata konyol nya.


Walaupun begitu kami melanjutkan sarapan kami seperti biasa.


***


Di suatu tempat yang jauh, beberapa orang berjubah hitam yang membawa pedang besar membantai sebuah desa kecil dengan kejam.


"Aaaahh.. tolonggg!"


"le le lepaskan ak aku~"


"ibuuu!".


Lalu muncul seorang lainnya yang memegang bola kristal dan membaca suatu mantra.


"Jadilah persembahan untuk rajaku, dan banggalah karena menjadi satu dengan-!?". Saat dia masih berbicara beberapa orang bertudung yang bersamanya terbelah menjadi dua tanpa dia sadari.


"!?"


"Siapa kalian?"


"Dasar biadab! teganya kalian membunuh orang biasa seperti mereka, tidak akan pernah bisa kumaafkan!".


Tidak butuh banyak waktu semua orang berjubah aneh itu terbantai semua kecuali tinggal si pria tua yang memegang bola kristal itu.


"Hah..ha? Bagaimana?...siapa kalian ini sebenarny-" kepalanya langsung terpotong tanpa mengeluarkan darah.


"Namaku adalah Bellanca Dalbert. Hmp sepertinya kau sudah tidak bisa mendengar nya lagi ya". Bellanca yang bicara sambil memenggal kepala orang itu dengan darah di wajahnya.


"Wah dia sangat hebat untuk seusianya!"


"Yah, padahal gadis itu masih sekolah di academy kerajaan"


"Hahaha!...dia memang pantas di sandingkan dengan putri ke dua"


Percakapan para prajurit yang menemani Bellanca saat tengah mengobati korban yang terluka.


"Walaupun ini adalah tugas dari academy untuk mendapatkan nilai dan kita sebagai pengawalnya, sepertinya dia sudah cukup kalau hanya untuk ikan teri seperti ini"


"Heh kau benar"


"Kita datang terlambat untuk mencegah mereka merusak desa dan membunuh warga tidak bersalah, ini semua salahku".


"Tidak itu bukan salahmu Bellanca, cuman saja mereka yang datang kesini terlalu awal-"


"Tapi kalau aku tidak bersantai-santai di pusat perbelanjaan ini semua-"


Ketua prajurit itu menepuk kepala Bellanca dengan lembut. "Sudahlah jangan di pikirkan, kau memang masih muda untuk bisa bersenang-senang".


Bellanca melihat lesu korban yang terluka dan jasad yang terbaring di tanah. Dia saat ini tengah melakukan tugas dari academy untuk memberantas beberapa sekte aneh yang berbahaya, biasanya ini bukanlah tugas yang di berikan pada seorang murid biasa tapi karena pihak academy mengetahui kemampuan Bellanca maka mereka mengirimkannya. Sekarang Bellanca sudah setara dengan kesatria kerajaan dan tidak ada yang seusianya bisa mengalahkan nya kecuali putri kedua, kerena mereka sudah menjadi rival yang luar biasa.


Kadang Bellanca juga merindukan keluarganya saat dia sedang pergi jauh, terutama adik-adiknya terkhusus Key. Entah kenapa sepertinya dia sangat terobsesi dengannya sampai sampai ketika mereka bertemu yang pertama dia peluk adalah Key dan melewatkan yang lainnya.


"Aku tidak menyukai ini"


"Kalau kau tidak suka jangan di makan sialan! seharusnya kau bersyukur masih bisa makan"


"Hah! Kalau begitu buat yang lebih nikmat"


"Bagaimana aku membuatnya di tempat seperti ini? sialan jelek!". Beberapa prajurit yang sedang bertengkar di luar tenda. Sementara itu Bellanca sudah mengganti pakaiannya di dalam tenda. Dan sekarang dia terlihat lebih kasual dengan pakaian itu dan rambutnya di ikat ke belakang seperti ekor kuda.


"Semuanya dengarkan! besok kita akan kembali ke ibukota kerajaan untuk melapor kepada yang mulia karena itu beristirahatlah dengan tenang".


Besoknya semua prajurit yang bersama Bellanca berangkat kembali ke ibukota.


***


Sementara itu aku tengah berjalan-jalan di tengah pasar sambil memakan roti yang ada di dalam bungkusan penuh roti di tanganku.


"Oh, roti buah baru ini rasanya lumayan juga. Lain kali bakal kubeli lagi di toko itu".


Saat aku masih makan roti itu sambil jalan aku tidak sengaja melewati gang sempit yang gelap dan kumuh, di gang itu tempatnya orang orang buangan dan kriminal tapi aku juga melihat ada beberapa toko dan bar di situ walau tidak banyak. Lalu aku melihat beberapa kerumunan orang yang sedang berkumpul seperti ada sesuatu.


"Dasar bocah sialan! Beraninya mencuri makanan di tokoku lihat saja akan kubunuh kau, tapi lebih baik biarkan para bandit yang ku bayar untuk melakukan nya agar tangan ku tidak kotor!".


Ternyata mereka sedang menindas seorang bocah yang didapati mencuri makanan. Bocah itu kelihatan sangat kurus sampai kau bisa melihat tulang nya dan dia memiliki rambut panjang berwarna perak yang menutupi wajahnya. Bocah itu melihat kearah sup yang tumpah ke tanah dan langsung memakannya seperti hewan. Orang-orang yang melihat itu merasa jijik sementara si pemilik toko gendut jelek itu menginjak kepala bocah malang itu.


Yah aku tidak ingin terlibat apapun dengan mereka karena itu tidak ada untungnya buatku, itulah yang tadinya aku pikirkan namun aku tiba-tiba aku mendeteksi kekuatan sihir yang sangat besar dari bocah itu karena itu aku seketika mendapatkan sebuah ide yang sangat sangat luar biasa keren.


"Sialan!, melihat mu saja sudah ingin membuat ku muntah lebih baik mati saja kau bocah kampret". Pria gendut itu menyuruh anak buahnya untuk membunuh bocah kecil di bawah kakinya itu. Ketika mereka akan menusuknya tiba-tiba sebuah tongkat hitam legam besar menghantam wajah dan tubuh mereka sampai hancur.


"Ap apa yang-?!"


Dari bagian tergelap gang itu muncul seorang pria yang memakai topeng bulat hitam yang di topengnya itu hanya ada dua lubang untuk matanya saja. Aura hitam dan merah pekat menyatu di sekelilingnya seakan-akan dewa kematian sendirilah yang datang untuk mengambil nyawa mereka dengan matanya yang berbayangan putih di kegelapan.


"??!"2x


"Siapa kau- apa urusanmu di sini?"


"Apa kau tidak tahu siapa kami ha?, beraninya kau membunuh teman kami!"


["Gadis itu adalah urusan ku, minggir kalau tidak seluruh keberadaan kalian akan hancur"].


"Ha!? jangan meremehkan kami!" satu bandit itu melompat dan ingin menyerang ke arah ku dengan pedang yang sudah di lapisi sihir petir.


["Hnmp tidak tau diri,...bunuh-"]


Wajah pria itu terkena pukulan tongkat ku yang terbang ke arahnya.


"Apa-"


Mereka semua terbantai oleh hanya satu tongkat terbang milikku dan hanya menyisakan si pemilik toko yang sedang ketakutan sambil mengompol, sementara beberapa orang yang berada di sekitar itu melarikan diri. "To tolong biarkan aku hidup, kau ambil bocah ini untuk dirimu kumohon".


["Pergilah, jika aku melihat wajah jelek busuk mu lagi saat itu juga ku lenyapkan kau"]


Orang itu lari ketakutan tanpa menoleh kebelakang dengan sangat cepat. Setelah semuanya tenang hanya tinggal aku dan gadis berambut perak itu di gang sempit itu. Sementara wajahnya tertunduk dengan ekspresi seperti dia sudah mati.


["Hei beri tau aku namamu"]


"..."


["..."]


Aku lalu berubah kembali menjadi seperti diriku biasanya dengan pakaian biasa ku juga sambil memegang bungkusan roti. Lalu aku menawarkan satu roti milikku itu padanya.


"Ini ambillah, kau lapar kan"


Gadis itu menatap diriku yang berdiri di depan nya dan mengambil roti itu.


"Kenapa~ kau menolong ku?"


Aku menatap kearah gadis berambut perak panjang ini.


"Ikutlah bersamaku"


Dia menoleh pada uluran tangan ku di depannya.


"Jika kau ingin lepas dari penderitaan ini, jika kau tidak mau merasa sakit lagi, jikalau kau ingin membalas dendam pada sesuatu atau menginginkan kekuatan ikutlah bersama ku, aku tidak peduli seperti apa masa lalumu, keluargamu atau dirimu, lupakan semua itu dan datang lah padaku"


Gadis itu kembali mengingat apa yang sudah ia alami sebelumnya, keluarga nya temannya yang telah tiada bahkan musuh yang ingin dibunuh oleh nya. Darahnya seketika mendidih oleh amarah, dia ingin membalas apa yang di perbuat orang-orang itu berkali-kali lipat. Melihat diriku yang mengulurkan tangan kananku padanya akhirnya dia memutuskan meraihnya dan berkata.


"Aku menginginkan kekuatan itu, beri padaku agar aku bisa membalas mereka semua, aku tidak ingin menjadi lemah selamanya- aku mohon berikan padaku"


Memegang tangan nya akupun memberikan kekuatan sihirku yang berwarna hitam dan merah pekat itu padanya, tubuhnya terselimuti kekuatan sihir yang sangat besar, semua lukanya sembuh bahkan sekarang tubuh kurus nya yang tadi kembali seperti tidak ada apa apa, kulit putih dan mulusnya membuktikan kalau dia sudah berubah menjadi gadis umur 12 tahun yang sangat cantik, dan lagi aku baru tau kalau ternyata dia adalah manusia setengah elf.


"Kalau kau telah selesai berganti pakaian ikut bersama dengan ku akan ku tunjukan rumah barumu, dan omong-omong mulai sekarang namamu adalah (Celine) ingat itu".


"Baik tuan".


***


Setelah itu aku membawa Celine ke tempat para kera bumi untuk memberikannya rumah baru, awalnya Celine sangat terkejut namun akhirnya dia bisa akrab dengan mereka semua, akupun memberinya tugas untuk mengawasi para kera itu dalam membuat markas baru kami selagi aku tidak ada. Sorenya aku kembali ke rumah ku saat seorang pelayan wanita berkacamata sedang menunggu di depan pintu depan sambil memegang handuk, dia menatapku dengan tatapan tajam.


"Ini sudah mau malam, kemana saja anda seharian ini tuan muda?"


"Eh?- kenapa juga aku harus memberi tahu mu, walaupun begini aku itu sangat sibuk tau"


"Kalau begitu apa anda sudah membeli benda yang di minta oleh nyonya tadi pagi?"


"Eh?"


"Jangan bilang anda melupakan nya, jika benar maka saya tidak tahu apa yang akan dilakukan nyonya pada anda nantinya"


[Sial!...aku lupa kalau tadi pagi ibu menyuruh ku membeli beberapa hadiah tangan untuk dia bawa ke acara minum teh bersama temannya, dan juga dia menyuruh ku untuk cepat pulang, gawat kalau dia sampai tahu aku lupa membelinya].


"Sebelum itu anda sebaiknya mandi terlebih dahulu, saya sudah menyi-?..ah!".


Aku seketika langsung berlari pergi meninggalkan pelayan wanita itu untuk kembali membeli benda yang di inginkan ibuku.


"Dasar tuan muda, padahal aku sudah susah-susah menyiapkan tempat mandinya, lagi pula aku sudah membeli benda yang di minta nyonya tadi karena aku punya firasat kalau dia pasti lupa membelinya".


Aku kembali ke rumah sambil membawa belanjaan sampai aku di beri tahu kalau itu sudah tidak di perlukan lagi dan ibu juga sudah pergi bersama temannya. Bernika hanya duduk di sofa sambil menyeduh tehnya dengan santai melihat ku putus asa.


~BERSAMBUNG~