
"apa kita akan terus membiarkan hal ini terus terjadi?"
"kita harus melakukan sesuatu, jika selalu begini semuanya akan mati!".
"kepala desa kita harus melawan monster biadab itu, aku sudah tidak tahan lagi hidup seperti hewan ternaknya yang kapan pun akan di bunuh!".
"apa kalian lupa yang terjadi sebelumnya?, bahkan ksatria dan tentara bayaran yang melawan mahkluk itu juga bukan tandingannya, jadi bagaimana cara kita melawan monster mengerikan itu?, pikiran saja siapa yang harus menjadi tumbal selanjutnya, kalau tidak maka bisa saja itu kalian".
Mendengar kata-kata kepala desa membuat mereka terdiam dengan wajah terkejut yang menunjukkan rasa takut, mereka tidak berani untuk menyanggah perkataan kepala desa karena perasaan tidak berdaya yang membuat mereka hanya berdiri di tempatnya masing-masing. Sementara kepala desa keluar dari pintu dia menoleh kearah taman di sebelah kirinya dan melihat seorang gadis remaja sedang menanam bunga.
Jenis bunga yang di tanam oleh gadis itu ada beberapa macam dari yang berwarna merah,kuning,ungu bahkan ada mawar berwarna biru tua yang tampaknya agak besar sedikit dari bunga yang lain, dan gadis sedang menimbun akarnya dengan sekop kecil di tangannya. Sementara itu kepala desa yang sedari tadi memperhatikannya dengan wajah serius dari belakang nya tampak agak goyah seakan dia belum makan apapun sedari tadi.
Gadis itu memiliki rambut berwarna biru sama seperti warna mawar yang di tanam nya saat ini, sadar ada yang memperhatikan nya dari tadi gadis itu pun menoleh ke belakang dan
"ah~ ayah!? apa yang ayah lakukan di sini, apa pertemuannya sudah selesai?"
"...ya kami baru saja membahas sesuatu yang penting, ngomong-ngomong sepertinya kau sedang berkebun bunga lagi, kalau ayah tidak salah bunga itu adalah mawar Biru kematian, aku kan sudah sering bilang padamu jangan menanam bunga pembawa sial itu, ada banyak jenis bunga yang lebih indah kan?"
"Ini bukan pembawa sial dan namanya juga bukan mawar Biru kematian, lagi pula ini bunga kesukaan ibu, jadi aku ingin menanamnya sebab aku merasa kalau ibu ada bersama-sama dengan kita" dengan wajah sedih
ekspresi kepala desa menjadi rumit karna kata-kata putrinya yang berdiri di hadapannya sambil memegang mawar biru itu dengan kepala tertunduk.
"Rita..."
"karena itu aku-!?" 'Duk! "aduh!"
"aku masih hidup dasar gadis nakal!(mengetuk dengan sekup taman kecil), apa yang kau katakan soal ibu mu ini dari tadi? dasar!"
"ta tapi kan gak perlu pukul pakai sekup taman juga bu~ (sambil memegang kepalanya yang sakit) bagaimana jika ini benjol?, gak akan ada pria yang mau menikahi wanita bodoh"
"kau memang sudah bodoh jadi itu tidak masalah" tanpa perasaan.
"eeehh~~ ibu macam kau ini sebenarnya?"
"aku tidak mau mendengar itu dari anak yang menyumpahi ibunya mati, sudah hentikan omong kosong mu dan lanjutkan saja perkembangan mu. Bagaimana kau bisa menjadi wanita dewasa yang mandiri di masa depan. Dan satu lagi aku gak suka dengan mawar Biru yang memiliki bau busuk itu, aku menanamnya karena bunga itu cukup langka dan harganya juga mahal jika di jual ke kota".
"eeeh~ aku sudah bosan melakukan ini terus, biarkan aku istirahat sebentar bu" Rita yang terus mengeluh membuat ibunya kesal dan menatapnya dengan tatapan menyeramkan. Dan itu membuat Rita ketakutan dan langsung kembali bekerja dengan cepat.
Setelah itu ibunya Rita menatap kepala desa dengan tatapan yang sedikit tajam dan mengisyaratkan dengan tangannya untuk mencari tempat lain dan bicara empat mata berdua sambil melepaskan topi jeraminya.
***
Di taman desa, ibu Rita dan kepala desa yang duduk bersampingan di kursi kayu panjang tanpa bicara sedikitpun yang membuat situasi itu agak berat, terutama untuk kepala yang duduk sambil merapatkan lututnya dan kedua tangannya di atas paha dengan wajah sedikit berkeringat. Berbeda dengan ibu Rita yang duduk tidak seperti seorang
wanita anggun dan elegan yang seharusnya sesuai dengan wajah cantiknya, malahan dia duduk membungkuk sambil membuka lututnya dan menaruh kedua lengannya di atas lutut dengan wajah sedikit kesal.
Ibu Rita dengan rambut merahnya yang sepanjang bahu itu terlihat agak berantakan yang membuatnya seperti seorang pria dan itu menegaskan bahwa dia tomboy, walau begitu dia memiliki wajah yang cukup cantik untuk membuat pria dan wanita jatuh hati padanya. Ditambah ekspresi nya saat ini yang terlihat serius itu agak sedikit menakutkan bagi suaminya yang duduk rapi di samping kanan nya dengan rasa khawatir. Ini seperti seorang karyawan yang bertemu dengan bosnya.
Untuk memecah keheningan kepala desa berniat untuk mengangkat bicara namun sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, ibu Rita atau istrinya menyela sebelum dia-
"sa sayang sebaik-!"
"apa kau belum menemukan solusi untuk masalah ini?"
terkejut dengan pertanyaan istrinya, dia pun menjawab dengan ragu "untuk saat ini kami masih mencari-!?"
"jadi kau belum menemukan jalan keluar untuk lepas dari cengkraman monster itu?, lalu apa gunanya kau menjadi seorang kepala desa, dasar bodoh!" tegasnya.
Walau ayah Rita adalah kepala desa yang asli namun istrinyalah yang selalu berperan di balik layar dan selalu membantu pekerjaan suaminya, dengan pemikiran dan tindakan nya dia sebenarnya lebih pantas di sebut kepala desa daripada pria di samping nya ini. Itu di buktikan dengan sikapnya yang tegas bahkan kepada kepada orang terdekatnya sendiri, di tambah bentuk fisik yang lebih besar dari kebanyakan wanita lain, kau bisa bilang kalau di bagian tertentu tubuhnya terdapat bekas luka yang mungkin dia dapatkan dari hal yang dilakukan nya di masa lalu.
"ku dengar salah satu desa telah menyerahkan tumbal mereka, dan yang mereka tumbalkan adalah seorang gadis remaja yang seumuran dengan Rita anak kita".
"aku tau, aku juga sudah dengar soal itu bahkan 3 orang yang bersamanya juga tidak pernah kembali lagi kecuali kepala suku mereka".
"kenapa hanya dia yang selamat?, biar kutebak dia pasti meninggalkan mereka untuk jadi makanan monster menjijikkan itu" (asal tebak).
Menegakkan wajahnya kembali kepala desa memandang lurus ke depan dan melihat beberapa anak sedang bermain di taman bermain lalu tersenyum pahit.
"jika seperti ini terus makhluk itu akan semakin besar dan bertambah kuat, saat itu terjadi kita akan kehilangan semuanya ".
"karna itu aku memintamu untuk cepat-cepat menyelesaikan masalah ini".
"ha... walau ini mungkin terdengar konyol tapi aku ingin saat ini ada seseorang yang akan datang menghentikannya ".
...****************...
Di kamar tempat kami menginap untuk tugas sekolah.
Aku yang sedang melihat ke jendela sambil menongak keatas sambil berpikir untuk bicara sesuatu yang keren
"aku merasa seperti, ada yang memanggil ku dan berniat untuk menguasai dunia"
"ngomong apa si, sudah! lebih baik kau tidur di kamar mu sendiri daripada mengganggu kami".
Sambil terus melihat ke jendela aku terus memikirkan agar bisa tampil sebagai raja agung dan terlihat keren.
^^^~BERSAMBUNG~^^^