THE GREAT KINGS

THE GREAT KINGS
Chapter 10



Hari-hari biasa dan normal di academy telah kembali, dan seperti biasa itu di penuhi dengan tugas yang menumpuk dari para guru.


Bahkan kelima anak Duke sudah kembali dan belajar seperti yang lain, walaupun beberapa perban masih menutupi bagian-bagian tubuh mereka yang terluka parah.


Sekarang materi yang kami pelajari adalah tata krama seorang bangsawan dalam menjalankan tugasnya.


"Seorang bangsawan sejati adalah mereka yang selalu memperhatikan rakyat nya, bangsawan juga bertugas untuk mengelola wilayah yang di kuasainya atas nama raja. Karena itu, kalian semua akan terjun langsung dan mempraktekkan nya, dan waktu yang di berikan adalah satu minggu, setelah itu buatlah laporan nya dan serahkan kepada ku. Kalian mengerti!".


"Mengerti!!!".


Daisy Wortas adalah guru wanita dengan gaya rambut ponytail ke belakang, menggunakan kacamata, dan memiliki tatapan tajam serius yang akan membuat gemetar siapa pun yang melihatnya.


[Haaa, jujur aku sama sekali tidak mengerti, apa maksudnya kami harus terjun langsung ke kehidupan masyarakat dan menyelesaikan masalah yang merepotkan?. Kalau memang begitu lebih baik aku malas-malasan di markas kera bumi, dan lebih fokus untuk menjadi raja agung sejati].


"Oh ya- satu lagi, jika kalian tidak mengerjakan apa yang ku katakan tadi maka jangan bermimpi untuk mendapatkan liburan musim panas kalian".


"Eeeeeh!", murid-murid lain.


[Sungguh?, yang benar saja, kau pasti bercanda kan? Lagi pula itu masih jauh. Yah, walaupun aku bisa menggunakan jurus bayangan sih untuk menipunya, tapi instingku mengatakan untuk aku melakukannya, karena aku orang yang selalu percaya dengan diriku sendiri maka apa boleh buat..], pikir ku.


Jam istirahat, aku bersama dua idiot Axton dan Baul hanya menghabiskan waktu di kelas dengan bosan.


"Haa, yang benar saja, kenapa kita di beri tugas yang merepotkan, dan jika kita tak mengerjakan nya maka liburan yang ku tunggu selama ini akan sirna, ahhh menyebalkan!", keluhan Axton yang yang berisik sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Jika saja Bu Daisy punya sifat yang lebih lembut sudah pasti aku akan jatuh hati-, dan di tambah ekspresi wajahnya yang selalu menyeramkan itu membuat ku ketakutan setiap kali melihat nya", ucap Baul.


"Hey, omong-omong apa yang akan kita lakukan untuk tugas itu?", tanyaku.


"Hmm?, tidak biasa nya kau serius tentang tugas academy", Axton yang sambil melihat kearah ku.


"Kalau tidak salah, anak-anak lain membentuk kelompok untuk tugas ini, bahkan para kelima tuan muda itu juga melaksanakan nya", jelas Baul.


"Itu sudah pasti, mereka kan memang selalu bersama. Apa kita juga lebih baik membentuk kelompok?", Axton dengan wajah bodohnya.


"Ide bagus,..." kata Baul dengan nada malas.


"..."


"Hmp tidak mungkin aku mau berkelompok bersama idiot sampah seperti kalian", ucap Axton dengan tampang mengejek.


"Hah?!, harusnya aku yang bilang kayak gitu, dasar muka kuda!", balas Baul juga dengan tampang kesal.


Sementara itu aku hanya duduk dan memandangi keluar jendela di samping kiri ku.


***


Di suatu tempat yang gelap dan hanya di terangi satu obor, tampak seseorang sedang duduk di tahta yang terbuat dari tulang belulang monster atupun manusia.


"Tuan, kami membawakan persembahan yang di persembahkan oleh para warga desa untuk anda nikmati", seorang pria dengan jubah hitamĀ  dan topeng di matanya.


Dan seorang gadis remaja berjalan gemetaran dan ketakutan sedang di tuntun oleh teman pria jubah hitam itu.


Dengan pakaian yang penuh dengan aksesoris indah, dandanannya pun sangat cantik untuk seorang gadis desa biasa. Namun semua itu luntur dengan air mata sang gadis yang gemetar ketakutan.


"Silahkan di nikmati tuanku".


Senyum lebar di kegelapan dengan taring yang berjejer tak beraturan, dan air liur yang menetes dengan lidah menjilat. Membuat sang gadis desa menangis keras.


***


Besoknya kami bertiga memutuskan untuk membuat kelompok bersama agar tugas yang di berikan oleh bu Daisy selesai lebih cepat, walaupun alasan sebenarnya karena tidak ada satupun murid lain yang ingin satu kelompok dengan kami.


"Jadi kemana kita akan melakukan kegiatan sosial bangsawan ini?",tanya ku.


Melihat kedua idiot ini yang sedang tersungkur di tanah dengan wajah shock membuat ku menghela nafas kecil. Mungkin mereka masih depresi karena di tolak setiap kelompok lain.


"Hey ayo berdiri, jika terus seperti itu maka liburan yang selama ini kalian nantikan akan hilang. /"[Ya, dan karena kalian, kita semua sedang di perhatikan oleh banyak orang yang berlalu lalang]"/".


Setelah itu kami bertiga memutuskan untuk menentukan tempat yang bisa kami jadikan proyek tugas academy.


"Bagaimana kalau kita pergi ke desa Ncetu, di sana dekat dengan laut dan pantai yang indah-", pendapat Axton.


"Tapi kalo kita ke sana itu akan membutuhkan waktu 5 hari perjalanan, sementara itu waktu kita hanya 1 minggu", Baul yang sambil melipat tangannya di dada.


"Kalau begitu desa Quinji yang penuh dengan wanita cantiknya gimana?", ucap Axton dengan wajah sedikit merah.


"[Memang tempat seperti itu ada?]", pikir ku.


"Hmm.. ide bagus, tapi walaupun perjalanan nya hanya 3 hari saja, namun tempat itu akan melewati hutan terlarang yang menjadi sarang para bandit, di tambah monster-monster mengerikan, kalau kita tidak menyewa pengawal...hee..glup.",Baul sambil menelan air liur.


"Jadi kita akan kemana?",tanya Axton yang mulai putus asa.


"Seperti nya desa Farmis adalah tempat yang cocok untuk tugas ini, waktu perjalanannya juga hanya 1 setengah hari saja dengan kereta kuda", jelas Baul.


"Tapi bukannya kelompok lain juga bisa saja berpikir untuk pergi ke desa itu juga?, memikirkan tentang jaraknya yang dekat", kataku.


"Uhm yah-!".


"Ahh masa bodoh yang penting tugas merepotkan ini segera selesai!",sela Axton yang sudah tak sabaran.


"Dasar, kau ini bodoh ya?, woi tunggu kami!", panggil Baul.


***


"Para siswa kelas satu tahun ini cukup unik ya, calon ksatria, orang-orang jenius dan terpilih, bahkan sampai calon pahlawan masa depan yang akan membunuh raja iblis. Semuanya muncul secara bersamaan di waktu dan tempat yang sama", kata seorang guru dengan mata sipit dan tersenyum yang memandangi keluar jendela di ruangan kepala academy.


"Hal itu mungkin pertanda bahwa di generasi ini bisa saja muncul manusia yang akan membuat sejarah baru di masa depan", kata pak kepala academy.


(...).


"Oh iya, apa sudah ada kabar mengenai penyelidikan tentang insiden beberapa waktu lalu?", Tanya guru mata sipit.


"Haeh...kita belum mendapatkan hasil terbaru saat ini, ini ternyata lebih menyusahkan daripada yang ku kira", kata pak kepala academy.


"Para iblis itu sudah berani menunjukan taringnya secara terang-terangan, padahal janji damai 20 tahun lalu masih tersisa tiga tahun lagi, walaupun perang skala kecil masih berlangsung", ucap guru mata sipit itu sambil terus melihat keluar jendela.


"Yah, kita hanya bisa menyerahkan nya pada kedua bocah itu, sang Garuda dan Phinix untuk menyelesaikan nya", kata pak kepala sambil menutup matanya dan tersenyum.


"Ohh, mereka ya, hehe sudah lama aku tak melihat wajah lucu mereka , mungkin aku harus menyapa kedua mantan burung academy itu", sambil tersenyum.


~Bersambung~