
Setelah dua hari dari misi penaklukan yang berakhir tragis itu, pasukan yang kembali melewati jalanan ibu kota dengan keadaan yang sangat compang-camping. Dan sudah ada beberapa prajurit yang sadar dari pingsannya termasuk Bag yang di perban di atas kereta. Semua orang di kota melihat keadaan menyedihkan para ksatria itu.
Walaupun begitu lima anak Duke itu masih belum sadar walau luka mereka lebih ringan dan sedikit kotor dari pada yang lain. Bahkan mereka masih memakai zirah nya masing-masing, sementara prajurit yang membawa mereka merasa tidak adil karena harus menjaga ke lima narsis itu.
Siang harinya Bag melaporkan apa yang terjadi kepada raja dan para menterinya. Setelah mendengar laporan Bag, mereka semua yang ada di ruangan rahasia dengan duduk mengelilingi meja bundar itu benar-benar sangat terkejut dan tak percaya apa yang terjadi dengan pasukan yang di kirim itu. Di dalam laporan nya Bag hanya menjelaskan tentang seorang pria berambut perak yang bekerja sama dengan monster dan memilih kekuatan yang mengerikan.
"Lalu apa yang terjadi pada Count Rossebed?" Tanya orang yang duduk di samping kiri raja.
"Tampaknya beliau sudah tewas, tapi saya tidak tahu apa yang terjadi padanya, saya juga sudah menanyakan hal itu pada para prajurit yang masih sadar saat itu namun mereka seakan tidak bisa mengungkapkan isi hatinya. Dan ada beberapa yang kehilangan kewarasan sampai harus berhenti menjadi prajurit, hanya itu yang bisa saya sampaikan".
"Bukan hanya gagal tapi kau juga kehilangan beberapa prajurit menjanjikan, sepatutnya kau dan Rossebed itu di eksekusi mati!-".
Orang lainnya yang tampak kesal.
"Itu tidak perlu, lagi pula ini juga kesalahan kita karena terlalu meremehkan misi kali ini dan inilah akibatnya".
Mereka semua berdebat dengan pendapat mereka masing-masing sementara Bag hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri nya di pojok ruangan.
"Oh iya, bagaimana kondisi kelima anak itu, kudengar mereka masih belum sadar sejak kemarin?".
"Ya Vos masih terbaring di kamar nya tapi sepertinya dia akan segera sadar" pria dengan kumis tipis di wajahnya.
"Leo, bocah itu juga belum sadar".
"Anakku masih dalam pemulihan"ayah Rayn Diamond.
"Bloord memar di perutnya jadi di juga belum sadarkan diri".
"..."
Mendengar itu raja dan mentri lain saling memandang satu sama lain dan menggelengkan kepala mereka seakan tidak percaya. Sedangkan Bag terlihat sedikit kesal di belakang.
"Ck! Kalau bukan karena anak anak bodoh kalian, ini semua pasti tak akan terjadi dan tuan Rossebed juga pasti masih hidup". Dengan nada kecil Bag meluapkan kekesalannya.
***
Di asrama dalam kamar ku, aku dan Diagra sedang membicarakan sesuatu dengan rahasia
"Diagra menurut mu mana yang lebih baik?"
"Hmm kalau menurut saya tuan lebih cocok mengenakan pakaian dengan warna hitam atau putih karena itu akan menunjukkan bagaimana hebatnya anda, dan pakaian dengan gambar kera bumi yang di produksi dari organisasi kita adalah yang terbaik".
Diagra yang menunjukkan baju norak itu padaku dengan wajah nya yang bersemangat sambil tersenyum.
"Ha..aku salah bertanya padamu".
Kami berdua sekarang sedang memilih baju untuk ku pakai untuk pesta dansa academy walaupun sebenarnya aku tidak mau ikut.
Sebelumnya...
Di kantin, aku dan Axton dan juga Baul sedang makan bersama di meja makan yang biasa kami tempati. Axton yang sedang makan makanan nya sambil melihat ke arah gadis-gadis academy yang juga sedang makan bersama itu langsung ngelantur
"Hey- gimana kalau kita juga pergi ke pesta dansa yang di adakan oleh academy?, katanya di sana bakal datang putri-putri dari bangsawan kelas atas".
"Wah kayaknya bakal menarik nih, kalau gw juga pergi pasti para putri itu bakal kepincut ama gw" tambah Baul yang sedang berhayal hal yang mustahil.
"Heh, kalau kau juga pergi nantinya yang ada mereka pasti ngomong kalau nafsu makan mereka bakal hilang karena melihat wajah gepeng sepertimu" ejekan Axton pada Baul.
"Hah!? Wajah mu yang seperti pisang ubi bakar kayak gitu gak pantas bicara soal tampang".
"Apa kau bilang?!, Sepertinya ada orang yang pengen makan garpu".
"Haeh- bisa tidak kalian hentikan itu?, Kalian berdua hanya mengganggu orang lain menikmati makanan nya. Siapa juga yang peduli kalau kalian datang atau tidak, memangnya kalian itu penting?" Sela ku yang sudah bosan pada pertengkaran bodoh ini sambil melanjutkan makan.
"Diam kau! Dasar maniak salad!",teriak mereka berdua kepadaku secara bersamaan.
"Memang apa bagusnya jika pergi ke pesta dansa seperti?"kataku.
"Tentu saja kan, pesta dansa adalah tempat berkumpulnya para gadis-gadis cantik, di tambah mereka dari keluarga terpandang" Axton yang berbicara sambil membayangkan para gadis cantik.
"Dan jika mereka sampai tertarik padamu, maka kau akan mendapatkan kehidupan academy yang di impikan oleh para jomblo seperti mu" tambah Baul.
"Bukannya kau juga jomblo?" kataku dengan ekspresi bingung.
"Kau yakin tidak mau ikut dengan kami?" Tanya Axton.
"Gak, yang kayak gitu gak cocok untuk orang seperti ku".
"Heh sadar diri juga kau, tapi aku ingin kau tetap ikut bersama dengan kami"kata Axton yang melihat kearah ku.
"Ha? Kenapa juga-".
"Kau tau? Makanan di pesta dansa academy itu kebanyakan sehat-sehat semua" sela Baul.
"Jadi?".
"Ya, pasti ada banyak masakan salad yang di buat oleh koki kelas tinggi di academy ini dan buah buahan segar langsung dari kebun kerajaan yang mengunggah selera" tambah Baul.
Dan tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan untuk pergi ke pesta dansa itu.
*Kembali ke masa sekarang....
Aku menyuruh Diagra untuk membantu ku memilih pakaian yang akan ku gunakan dalam pesta. Tapi sepertinya aku salah memilih orang, karena dari tadi semua pilihan bajunya benar-benar payah. Lalu aku menyuruh pelayan wanitaku yang di academy untuk memilih kan nya setelah aku menyuruh Diagra untuk pergi.
Akhirnya tiba waktu untuk pesta dansa itu, aku, Baul dan Axton sudah berada di depan pintu masuk saat beberapa orang mendahului kami bertiga tanpa permisi. Mereka adalah beberapa putri bangsawan kelas atas yang sepertinya tengah dekat dengan seorang pemuda biasa yang kelihatan polos, memiliki wajah yang cukup tampan yang tidak di miliki oleh Axton dan Baul yang terlihat kepanasan karena iri.
"Dasar sialan!" Teriak Axton dan Baul dengan kertak gigi.
Kami pun masuk ke dalam dan mendapati tempat ini sudah ramai dengan banyaknya orang yang datang. Selain itu banyak makan pembuka yang menarik perhatian ku terutama salad buahnya, yang membuat ku langsung mengambil mangkok dan memasukkan semunya kedalam.
Sementara itu kedua orang bodoh yang datang bersama ku tanpa aba-aba langsung menggoda para gadis yang sedang berkumpul, dan tentu saja mereka tidak mendapat apa yang mereka mau dan malah mendapat tamparan keras beserta cacian manis pedas.
Semua tamu sudah hampir semuanya berkumpul dan yang tersisa tinggal lima anak Duke yang sedang tak sadarkan diri di rumah mereka masing-masing akibat misi sebelumnya.
"Apa kau sudah dengar soal Leo-sama dan yang lainnya, katanya mereka masih belum sadarkan diri"
"Iya, dan aku dengar kalau misi mereka itu gagal total"
"Ssst!...jangan keras-keras,jika ada yang mendengar mu maka kehidupan academy mu akan hancur"
"Tapi tetap saja, kenapa academy tetap mengadakan pesta seperti ini, padahal beberapa murid terbaik mereka sedang terluka parah"
"Tentu saja kan, di academy ini status dan kekayaan mu tidak berarti apa-apa, semuanya sama saja"
"Bisik...bisik...~".
Walaupun mereka mengecilkan suara apa mereka mengira itu tak kedengaran apa?, Aku jelas-jelas dengar semua orang sedang membicarakan kelima idiot yang di hajar Diagra itu sambil memakan salad buahku dengan berdiri di belakang dua idiot ini.
Setelah beberapa saat sang pembawa acara menyambut dan menyampaikan beberapa kata kepada para tamu, dan itu sangat membosankan bagi kami bertiga terutama untuk Axton yang sedari tadi terus gagal dalam mengajak wanita untuk berdansa bersama. Sedangkan Baul entah sejak kapan bersama dengan beberapa siswa senior nakal yang sepertinya sedang merundung dirinya.
[Sepertinya dia habis menggoda salah satu kekasih dari mereka, yah..uruslah dirimu sendiri, sebaiknya aku mengambil beberapa manisan buah di meja].
Meninggalkan Baul sendiri bersama dengan para senior itu aku dan Axton duduk di meja makan sambil melihat orang-orang yang berdansa bersama pasangan mereka,Axton menjadi semakin frustasi karena hanya bisa duduk melihat semuanya menikmati pesta dansa.
Dan di tambah dengan pemandangan yang menusuk mata setiap perjaka jomblo di dunia- yaitu di kelilingi oleh para gadis cantik dan imut, seperti yang terjadi di beberapa orang yang duduk tepat di samping kiri belakang kami. Dan yang duduk di tengah-tengahnya adalah pria polos yang tadi kami temui di pintu masuk.
Sementara gadis-gadis yang bersamanya mencoba untuk mencuri perhatian padanya,
"Tunggu!, kenapa malah kau yang harus menyuapinya?"gadis dengan wajah imut dan rambut ikal.
"Ryou, aku ingin berdansa juga, ayo dansa dengan ku" gadis yang sedikit agak mungil dengan rambut bergelombang hijau.
"Hah, kenapa Ryouta harus melakukan nya dengan mu?, sudah lupakan saja karena dia hanya akan berdansa denganku, itu janjinya" gadis yang agak tomboy.
"Memangnya kau bisa berdansa dengan otot-otot itu?"gadis kulit coklat itu mengejeknya.
"Hahh?, Kau mau ku hajar dengan otot-otot ini ya?".
"Sudah...sudah... kalian hentikanlah, jangan bertengkar hanya karena hal sepele-"
"Sepele!?"2x.
"Ehh...maksudku tidak perlu ribut, lagi pula aku tidak begitu bisa dansa dan, aku bisa makan sendiri" jawab pria bernama Ryouta.
Mereka semua sangat berisik di belakang sana sampai membuat Axton semakin frustasi karena iri. Dia menoleh kearah mereka dan langsung menangis darah sambil menggigit bibir bawahnya.
" Ke-kenapa aku harus sering melihat sesuatu yang menyakiti mental ku?, hey Key apa kita gak bisa pindah ke tempat lain?" Axton berbicara sambil duduk tertunduk di tempatnya.
Akupun melihat sekeliling dan mencari tempat duduk yang kosong namun semua sudah penuh.
"Maaf kawan, tapi sepertinya semua sudah penuh dan hanya tempat kita masih tersisa".
Mendengar itu Axton semakin lesu di tambah,
"Kyaa! Ryouta ke mana kau menyentuhnya?"
"Ah! Ma-maaf aku tidak be-bermaksud-".
Ryouta yang mungkin tak sengaja menyentuh dada salah satu gadis, tapi sepertinya gadis itu tidak terlalu mempermasalahkannya. Melihat kejadian yang sering terjadi pada karakter komik manga yang pernah kubaca, Axton menjerit
"Aaaa! Kenapa siksaan ini terjadi padaku? Ini gak adil!".
Semua orang terkejut bahkan Ryouta dan para gadis nya pun ikut terkejut.
"Eh, ada apa dengan nya?, Dasar orang aneh".
Beberapa waktu berlalu...
Bernika dan dua orang temannya juga datang ke pesta dansa ini dengan mengenakan gaun yang membuat semua pria sulit memalingkan matanya. Gaun Bernika berwarna ungu gelap dan di hiasi dengan hiasan mawar merah tepat di dada atas kanannya.
***
Di dalam gang sempit, 3 orang berjubah aneh tampak sedang merencanakan sesuatu dengan wajah tersenyum jahat.
"Hehehe... setelah kita berhasil menyusup ke pesta para anak bangsawan itu maka dengan mengaktifkan bola kristal penyegel jiwa ini, seluruh orang yang berada di tempat itu akan menjadi pengikut raja iblis Nagarot".
"Hehe...dan kita pasti akan mendapatkan imbalan atau kenaikan pangkat dari raja iblis, dan saat itu terjadi maka aku akan membalas perbuatan para petinggi sebelumnya kepadaku, lihat saja".
Mereka bertiga secara ajaib berubah menjadi pemuda bangsawan yang lumayan tampan dengan sihir yang di lakukan oleh salah satu pria tua berjubah aneh itu.
Saat mereka sudah memasuki gedung pesta, dua orang di samping kiri dan kanan langsung berpencar secara terpisah, dan yang terakhir berjalan ke dalam tengah-tengah pesta dan bersiap untuk membaca mantra.
Namun karena di situ sangat ramai pria itu kesulitan untuk berkonsentrasi dan dirinya terus tersenggol oleh pasangan yang sedang berdansa di situ, sementara dua lainnya tengah berusaha untuk mengalihkan perhatian para penjaga.
Walaupun begitu dia tetap berhasil melakukan nya sampai-
Bernika yang secara tak sengaja menyadari seorang pria bertingkah aneh, diapun berpikir untuk menanyainya. Dan menyentuh pundak pria itu yang membuatnya kaget.
"Permisi, apa ada masalah-!?".
Bernika di kejutkan dengan cahaya gelap yang muncul di tangan pria itu, dan tanpa berpikir panjang pria itu langsung meneriakkan sihir di tangannya.
"Datanglah wahai pengikut agung!".
Seketika asap hitam muncul di tengah ruangan pesta dansa itu, Bernika yang masih terkejut spontan menyuruh semua orang untuk berlindung.
"Semuanya cepat pergi dari sini!?".
Dari dalam kabut asap itu muncul kilatan petir ungu yang menyerang ke segala arah dan membuat semua orang di sekitarnya panik.
"Ahh tolong!".
"Ah- apa ini?!"
"Siala-!"
Beberapa orang yang terkena petir ungu itu langsung menjadi abu dalam sekejap.
"Khekeke sepertinya masih ada manusia yang bisa menahan jurus itu" suara yang terdengar dari dalam tengah-tengah asap hitam.
Sementara orang-orang yang berhasil selamat akibat pelindung sihir berwarna biru milik pemuda bernama Ryouta kebingungan. Bernika juga selamat dengan pelindung buatannya namun dia harus menyayangkan gaun indah miliknya rusak di bagian pinggang akibat petir ungu tadi.
Saat semuanya masih dalam kebingungan dengan apa yang terjadi aku beserta Axton dan Baul yang tengah bersembunyi di balik meja yang terjungkal ke samping karena serangan sebelumnya, melihat mereka dari belakang sedangkan Axton dan Baul tengah ketakutan.
Axton menyatukan tangannya seperti sedang berdoa sambil berkeringat sedangkan Baul memegangi kepalanya dengan wajah pucat.
Yah, itu wajar karena ini pertama kalinya bagi mereka melihat seseorang mati dengan cara yang mengenaskan, namun jika untuk ku ini bukanlah apa-apa.
"Kumohon kumohon kumohon, walaupun aku harus terluka setidaknya jangan sampai mengenai wajahku, ini bahkan lebih berharga dari kedua idiot di samping ku, kumohon dewa" Axton yang sedang berbicara dengan sangat cepat.
"Kumohon jangan bunuh aku sekarang, setidaknya biarkan aku merasakan dada wanita cantik atau melepas keperjakaan ku ini sebelum aku mati, ya dewa" Baul yang memohon sambil memegang kepalanya.
Mendengar omongan mereka yang sangat konyol itu aku menarik kata-kataku sebelumnya, lagi pula mereka semua tidak akan bisa mendengar omongan kami karena aku sudah memasang penghalang sihir tanpa sepengetahuan siapapun.
Melihat sekeliling, Bernika bersyukur masih ada yang baik-baik saja walaupun ada beberapa orang yang terkena petir. Dengan kesal Bernika bertanya pada orang yang berada di antara asap hitam yang mulai hilang itu.
"Dasar kurang ajar! Siapa kalian? Beraninya mengacau di academy kerajaan".
"Khekeke".
Diikuti oleh tawa itu asap yang tadinya menutupi sekarang telah lenyap dan makhluk yang muncul dari situ mengejutkan semua orang termasuk Bernika.
Makhluk itu memilik tubuh seperti manusia namun warnanya ungu gelap yang dan tangannya sangat panjang sampai menyentuh tanah, posturnya sedikit membungkuk dan di kedua kakinya terdapat duri besar yang tajam.
Sementara itu mulut nya lebar dan dengan lidah besar seperti lidah ular keluar dari dalamnya, matanya gelap dan rambut mereka berwarna putih.
Monster itu berjumlah lima dengan ukuran yang berbeda-beda, ada yang gemuk dan ada juga seperti tubuh wanita dan beberapa lainnya.
Sementara pria yang mengunakan sihir sebelumnya berada tepat di belakang mereka.
Ryouta dan para wanitanya terkejut melihat monster-monster itu sambil waspada.
Bernika juga sudah mengeluarkan pedang yang terbuat dari sihir dan bersiap untuk bertarung.
"Aku tidak menyangka ternyata bisa ada penyusup yang masuk kedalam academy".
Lalu salah satu monster yang ada di tengah tersenyum melihat Bernika yang mengarahkan senjatanya pada mereka.
"Khekeke kau hanya tidak tau saja, hanya itu".
Suasana di tempat itu semakin kuat dan bagiku yang sedang menonton dari kejauhan berpikir kalau ini semua adalah apa yang selalu kuinginkan.
Bersambung