
Di perjalanan kami dengan menaiki kereta kuda milik keluarga Baul, yang bisa di isi lima orang.
"Hooam, apa kita masih jauh?", tanya Axton yang baru bangun itu.
"Haaa, entahlah mungkin sebentar lagi", jawab Baul dengan bosan.
"Heee aku ingin cepat-cepat sampai dan lansung tidur di kasur penginapan nanti lalu mandi air panas", ucap Axton sambil berbaring di dalam kereta.
"Sebenarnya apa tujuanmu ikut perjalanan ini?, Jangan lupa kalau kita harus menyelesaikan tugas merepotkan ini, kalau tidak liburan yang kutunggu akan hilang dan hanya menghabiskan waktu di academy selama liburan. Walau begitu aku sebenarnya tidak peduli jika kalian yang mendapat hukuman nya", kata Baul sambil mengangkat bahunya.
Sementara aku hanya menghabiskan bekal salad yang kubawa di tempat dudukku, dengan wajah polos.
"Kenapa liburan ku yang harus jadi taruhan nya sih?, Bu Daisy benar-benar seperti julukan nya- (sang macan pemarah/kejam). Dan kenapa kau dari tadi hanya makan saja Kei?!", Axton yang menunjuk ke arah ku.
"Hmm?, tentu saja karena aku lapar, lagipula aku punya banyak", kataku sambil mengunyah makanan di mulut ku.
"Kenapa kau membawa banyak sekali makanan daripada barang penting lainnya, dan juga itu semua hanya salad buah dan sayuran hijau saja?!. Apa perutmu tak sakit hanya memakan itu sepanjang waktu?", Tanya Axton sedikit jijik.
"Hmm apa kau mau juga sedikit?", Sambil menawarkan kepada Axton dengan mulut ku yang belepotan sayuran.
"Hah?!, aku gak mau memasukan itu dalam mulutku, jauhkan itu dan juga wajah mu yang belepotan salad, itu menjijikkan kau tau?", Axton yang menjauh dariku dengan jijik.
"Bukannya kau tadinya meminta nya, sudah jangan malu-malu, aku mengerti tidak ada seorangpun yang bisa menolak kelezatan salad spesial ku", kataku dengan ekspresi bangga.
"Aku gak pernah memintanya, dan jangan samakan selera orang lain dengan mu. Hanya kau manusia yang memakan salad dengan 5 botol saus cabai di dunia ini!", Kata Axton sambil menahan piringku.
"Bisa tidak kalian diam sebentar saja dan fokus sedikit?, Dan jauh kan juga itu dariku", ucap Baul.
Hari menjelang sore ketika kami tiba di sebuah penginapan di desa Farmis. Sebelum kami bertiga masuk, Baul menyuruh pria yang mengantar kami dengan kereta kudanya untuk beristirahat juga.
Karena terlalu mahal untuk menyewa tiga kamar sekaligus maka kami memutuskan untuk mengambil satu kamar dengan tiga ranjang di dalamnya. Kebetulan mereka mempunyai satu kamar tersisa yang seperti itu.
Setelah menyetujuinya dengan pemilik penginapan akhirnya kami bertiga di beri kamar tidur tiga orang.
Mungkin karena sudah lelah dengan perjalanan Axton langsung memilih tempat tidur yang dekat dengan jendela dan membuang dirinya di kasur tanpa mengganti pakaiannya.
"Akhirnya kita bisa beristirahat juga, aku ingin cepat tidur".
"Bukannya kau barusan tidur selama perjalanan tadi, dan kenapa kau yang mendapatkan tempat paling bagus?!"
Axton dan Baul memperebutkan ranjang yang dekat dengan jendela itu. Sementara aku merapikan barangku dan menyusunnya di lemari dekat pintu masuk.
"Hey kalian berdua, hentikan itu, kau bisa mengganggu penghuni sebelah kalau bertengkar seperti itu. Dan aku akan memilih ranjang yang dekat dengan pintu masuk".
"Haa merepotkan, kalau begitu aku yang di tengah", ucap Baul yang mengalah.
Kamar kami tampak tidak terlalu besar namun itu cukup untuk tiga orang di dalamnya, dengan satu lemari besar yang berdiri di samping pintu. Karena kami sudah membereskan barang-barang ke dalam lemari, waktunya tiba untuk makan makanan yang di siapkan pemilik penginapan.
Sekaligus mendiskusikan langkah apa yang akan kami lakukan selanjutnya, yah walau aku tidak terlalu berharap banyak dengan kelompok ini.
Saat kami bertiga turun dari lantai dua, aroma yang mengunggah selera bisa tercium dari tangga kita turun. Axton dan Baul bergegas ke meja makan yang sudah di hiasi dengan beberapa makanan yang nampak lezat.
Ketika kami mengambil tempat duduk masing-masing, kami bertiga merasakan tatapan aneh dari beberapa orang yang duduk di meja sekitar yang mengelilingi kami, karena di penginapan ini juga sudah di sewa oleh pelanggan lain maka tentu saja akan lumayan ramai.
Dan dengan rasa canggung dan waspada kami pun tetap melanjutkan makan sampai perut kami penuh.
***
Di kedalaman hutan yang di penuhi dedaunan lebat beberapa pria dengan pakaian tradisional sedang menyeret seorang gadis yang juga memakai pakaian tradisional, tetapi pakaiannya lebih terlihat seperti pengantin yang akan menikah dengan pasangannya, namun yang membuat aneh adalah gadis itu di perlakukan seperti bukan orang yang akan menikah pada umumnya.
Mereka menyeret nya di tanah tanpa alas apapun sehingga pakaiannya yang indah rusak dan kotor oleh tanah, bahkan menyebabkan luka-luka goresan di tubuh wanita yang sedang pingsan itu. Salah satu pria yang menyeret tampaknya adalah kepala suku, karena di lihat dari pakaiannya yang juga berbeda dari ke empat pria lainnya.
Si kepala suku ini memiliki kumis abu-abu di wajahnya dan seperti sudah paru baya namun nyatanya tidak, sebab dia juga mampu menarik gadis yang di ikat dengan tali itu.
"Kepala suku, apa kita sudah sampai? dari tadi sepertinya kita hanya berputar-putar saja, kami sudah mulai lelah" kata seorang dari mereka.
"Tapi apa ini akan baik-baik saja? melakukan ini-".
Sebelum orang itu menyelesaikan kata-katanya, pak kepala suku langsung menyela.
"Hanya ini jalan satu-satunya cara agar seluruh rakyat desa bisa selamat, jika kita tidak menurutinya maka habislah kita" ucap kepala suku dengan wajah sedikit berkeringat.
"Tapi bukankah lebih baik jika kita meminta bantuan dari para ksatria?".
"Kami sudah pernah melakukan itu, tapi saat para prajurit itu pergi mereka tidak pernah kembali lagi, dan saat kami mencobanya lagi para ksatria kerajaan itu tidak ada yang datang, dengan alasan kalau mereka sibuk" jawab satu pria yang ada di depannya.
"Karena itulah kita hanya bisa melakukan ini, lagipula ini bukan yang pertama kali " ucap kepala suku.
Setelah itu mereka sampai di depan pintu goa yang tampak sangat menyeramkan dengan suasana gelap di sekitarnya dan di hiasi oleh tengkorak manusia dan binatang di halaman depannya.
"Mari kita masuk" ucap kepala suku agak khawatir.
"glup!"×2.
Mereka memasuki goa itu dengan perasaan menggigil di seluruh tubuh mereka.
~tap.tap.tap~
Langkah kaki mereka terhenti oleh siluet seseorang yang tengah duduk di semacam singgasana yang penuh dengan tumpukan tulang belulang, yang membuat mereka berkeringat ketakutan karena itu.
"Kami sudah membawa persembahan yang tuan minta, mohon di terima" ucap kepala suku.
Namun siluet itu tidak menjawab dan hanya membiarkan ruangan itu sunyi. Lalu kepala suku mencoba lagi untuk menganjak bicara dengan tubuh yang gemetar dan bukan hanya dia saja namun empat pria lainnya juga gemetar ketakutan.
"Tuan ini adalah gadis perawan di suku kami dan dia juga adalah yang paling cantik dari pada wanita lain di dalam suku (sambil menyerahkan gadis yang di gendong di kedua tangannya) saya yakin dia akan membuat tuan senang" ucap kepala suku.
Lalu dengan tiba-tiba sesuatu yang panjang dan berlendir mengambil gadis itu dari tangan kepala suku dan membawanya ke siluet di singgasana tulang itu.
Dan terdengar suara "krauk.krak.krrauk." di dalam ruangan goa itu, karena minim nya cahaya jadi mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi namun mereka tau kalau itu sesuatu yang buruk.
"Jika anda mengijinkan, saya akan kembali ke desa" ucap kepala suku tanpa menghiraukan empat pria yang ketakutan.
Dan ketika mereka mengikuti si kepala suku dari belakang tiba-tiba suara yang tak di sangka akan datang dari siluet itu menghentikan mereka.
"Tunggu.. kalian..mau..kemana..?".
"Eh?"
Keempat pria itu tertangkap oleh benda aneh yang mengambil gadis tadi, sekarang mereka benar-benar tidak bisa bergerak oleh benda berlendir menjijikkan itu. Namun yang membuat lebih aneh lagi adalah sikap kepala suku yang seakan-akan tidak peduli dan hanya melanjutkan jalannya sendiri.
"Apa maksudnya ini?".
"Kepala suku ap?-".
"Tubuhku..re meuk".
"Jangan bilang kita juga di korbankan?, sialan beraninya dia menipu kita, pantas saja dia memberi banyak sekali uang ke keluarga kami- argk!".
"Tidakkk aku tidak mau mati!!".
"Tungguuu.. tolonggg!!!".
"Aaaaaaarrrrggh!!!".
Dengan suara teriakan itu tidak menghentikan langkah kepala suku, dia hanya terus berjalan keluar dengan ekspresi dingin di wajahnya tanpa berbalik.
Bersambung