The Great Hunter Was Actually A Farmer

The Great Hunter Was Actually A Farmer
Chapter 18: Kesalahpahaman



Rumah kediaman kakek dan nenek Hyun Soyeon.


Sesaat mereka sampai di depan pintu yang terbuka lebar, sambutan hangat dari kakek neneknya.


Setelah sambutan itu selesai, kesalahpahaman terjadi kepada mereka berdua.


Mereka meyakini bahwa yang berada disampingnya adalah pasangan Hyun Soyeon.


Dengan tatapan tajam mengarah padanya, serta tepukan kuat ke bahu dari kakeknya, membuat Hyun Soyeon bingung dengan situasinya.


Koris yang memahami situasi yang labil saat ini, ia segera memainkan perannya sebagai pelayan Hyun Soyeon.


Ditambah dengan sedikit gurauan ringan untuk mencairkan suasana saat ini.


Nenek itu tersanjung dengan pembicaraannya, sehingga minat keyakinannya terhadap dirinya semakin tinggi.


Nenek tertawa, dan membawa Koris ke suatu ruangan lain, sedangkan Hyun Soyeon terdiam menunggu pembicaraan dari kakeknya.


Berbagai pertanyaan dilontarkan dari kakeknya terhadap dirinya, tetapi pertanyaan yang diajukan olehnya selalu berhubungan dengan seorang gadis dan menantu.


Hyun Soyeon batuk dengan telapak tangan menutupi mulutnya karena terkejut dengan apa yang dibicarakan kakeknya.


Pertanyaan tersebut ia jawab sambil memalingkan wajahnya karena sedikit malu.


Kakek itu menghela nafas setelah melihat kelakuan cucunya.


Sedangkan kondisi Koris tidak jauh dari Hyun Soyeon saat ini, terlebih pembicaraan serta sedikit selingan pertanyaan dilontarkan oleh neneknya.


Kali ini pertanyaan yang diajukan oleh neneknya cukup sederhana, tetapi cukup menyakitkan untuk membalas pertanyaan tersebut.


Obrolan terus berlanjut sampai hari menjelang malam tiba.


Setelah Hyun Soyeon selesai membersihkan tubuhnya dengan bersih, dirinya menyandarkan tubuhnya dibalik tempat tidur yang empuk.


Rasa kantuk yang cukup berat tidak mampu ia tahan.


Sesaat ia memejamkan mata, sekilas tubuh dan pikirannya terbawa ke suatu tempat yang asing bagi dirinya.


Hyun Soyeon melihat seorang pria remaja dengan satu temannya pergi ke suatu tempat dengan perlengkapan yang mirip hunter gunakan.


Hanya saja lingkungan sekitar lebih mirip pada peradaban barat dimasa lalu.


Berbagai monster terlihat sedang mengincar kedua pria itu.


Monster itu memiliki tanduk di kepalanya, sebuah tato ditubuhnya, serta mata berwarna merah tampak seperti demon beast dari kejauhan.


Anehnya pertempuran tersebut tidak membuat kedua orang itu kesulitan, dengan beberapa gerakan saja mampu memotong tubuh demon beast menjadi dua bagian terpisah.


Hyun Soyeon terpukau dengan kemampuan yang dimiliki olehnya, tapi sayangnya tubuh miliknya tidak bisa berkontak fisik secara langsung.


Tubuh Hyun Soyeon saat ini mirip seperti arwah ataupun roh bebas yang berkeliaran di sepanjang jalan tanpa tujuan.


Sesaat sedikit memalingkan pandangan dari kedua orang tersebut, suatu kejadian tidak terduga terjadi.


Teman dari pria itu berteriak keras, dan berbicara soal bagian miliknya dalam pertarungan sebelumnya.


Dirinya tidak sempat mencoba kemampuan barunya yang sempat dilatih sebelumnya.


Dengan penuh kekecewaan, dia mendorong tubuh pria itu menggunakan kedua tangannya, tetapi pria itu tetap sabar dan menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskannya.


Mereka berdua kembali ke kampung halamannya, sambil membawa beberapa material yang berguna dari mayat demon beast sebelumnya.


Disaat kedua orang itu masuk kedalam sebuah ruangan.


Hyun Soyeon berusaha melihat apa yang ada didalamnya, akan tetapi tubuhnya ditarik kembali ketempat asalnya.


Suara panggilan berulang menggema ke telinganya, ternyata Koris yang terus menepuk wajah Hyun Soyeon hingga membuatnya memar.


Koris berkata kepada Hyun Soyeon bahwa dirinya tidak kunjung bangun selama seharian penuh.


Kakek neneknya itu risau tentang kondisi kesehatan cucunya yang selalu terbaring di tempat tidur.


Beruntung situasi tidak menjadi buruk, Hyun Soyeon menenangkan mereka berdua dengan kata-kata bujukannya.


Karena waktu sudah menunjukan waktu siang.


Cuaca tampak begitu terang dengan terik matahari yang menyengat kulitnya.


Koris bertanya kepada Hyun Soyeon untuk memilih tempat yang akan dituju.


Karena bingung harus memilih yang mana, sebuah brosur terbang menghantam wajahnya.


Brosur itu tertulis bahwa ada acara pembagian amal didekat hulu sungai, dan diselenggarakan di waktu siang.


Koris tertarik dengan apa yang tertulis dibalik brosur tersebut, dan meminta secara langsung ke tempat acara itu berlangsung.


Pada akhirnya Hyun Soyeon terpaksa menuruti keinginan Koris saat ini.


Hulu sungai tempat acara itu berlangsung.


Para warga yang mengantri dari berbagai golongan datang menghampiri sebuah toko yang tertata rapih.


Antrian yang begitu panjang membuat mereka rela mengantri demi sebuah makanan gratis.


Orang-orang yang menyelenggarakan pembagian amal tampak begitu senang melihat senyuman dari warga yang mendapatkan makanan darinya.


Rasa terima kasih mereka terdengar begitu jelas menggema di telinganya.


Akhirnya Hyun Soyeon beserta Koris berhasil mendapatkan dua porsi makanan yang baru saja mereka antri sebelumnya.


Mereka berdua duduk di sebuah meja yang sudah tersedia oleh penyelenggara. Makanan yang masih panas mengepul keatas langit membuat Koris tidak mampu menahan rasa laparnya.


Ketika Koris puas dengan apa yang ia makan saat ini, suara hentakan dari alat makan terdengar disebelahnya.


Sesaat memalingkan wajah ke sumber suara, ternyata dia adalah seorang pembunuh yang mengincar Hyun Soyeon sebelumnya.


Koris yang terkejut melompat kebelakang sambil menggenggam erat baju Hyun Soyeon.


Sampai-sampai tubuhnya ikut terbawa menjauhi pria tersebut.


Pria itu hanya terdiam, dan terus melanjutkan sesi makannya, tetapi Koris tidak mempercayai sikap dan tindakannya yang tidak begitu jelas.


Pria itu hanya berkata 'tenang!' kepada mereka berdua, tapi tetap saja kewaspadaan mereka tetap tidak menurun.


Hyun Soyeon bertanya kepada pria itu siapa dirinya, dan pria itu memberitahukan siapa dia sebenarnya.


Dia adalah Jung Dae, seorang narapidana yang kabur dari penjara karena perkataan tuduhan palsu tanpa alasan.


Menjalani kehidupan normal seperti orang-orang itu lakukan, tetapi sebuah kejadian menimpanya tak lama kemudian.


Sesaat sedang berkendara menuju ke sebuah bangunan tua tak jauh dari tempat restoran itu berada.


Di persimpangan gank kecil dikedua sisi, dirinya menemukan mayat yang tergeletak dengan kondisi perut menancapkan sebuah pisau tajam.


Berselang waktu selama beberapa menit, sebuah suara sirine polisi terdengar jelas tepat berada di belakangnya.


Polisi itu berteriak sambil menodongkan pistol didepannya.


Karena tidak tahu harus berbuat apa, dirinya terpaksa mengikuti polisi tersebut hingga sampai di sebuah pengadilan kota Seoul.


Sang hakim memutuskan kepada tersangka Jung Dae, menerima hukuman penjara seumur hidup sesuai perbuatannya.


Apakah ini hanya konspirasi saja? atau ada seseorang yang memiliki niat buruk terhadapnya.


Tatapan kosong tanpa harapan terlihat jelas dimatanya, membuat para saksi mata terlihat puas pada dirinya sendiri.


Waktu terus berjalan.


Jung Dae mengalami suatu insiden yang membuat kehidupannya berubah drastis seketika setelah menerima sebuah penawaran aneh terhadap dirinya.


Hingga sekarang, dia masih bersikap teguh mencari dalang dari kasus pembunuhan di masa lalunya.


Hyun Soyeon tersentuh dengan cerita kelam Jung Dae padanya, sedangkan Koris tidak mempercayai seratus persen padanya.


Setelah masalah tersebut berhasil teratasi dengan damai, mereka bertiga kembali melanjutkan makanannya sambil menjaga jarak satu sama lain.


Bersambung...