The Great Hunter Was Actually A Farmer

The Great Hunter Was Actually A Farmer
Chapter 10: Perselisihan



Gedung asosiasi Hunter tepat di dalam ruangan penjualan item Hunter.


Hyun Soyeon yang berjalan menuju tempat penjualan item yang berdekatan dengan ruang pendaftaran Hunter.


Ia menggendong pedang besar yang didapatkan sebelumnya dibagian bahu sebelah kanan.


Tatapan para Hunter lain tertuju pada dirinya yang hendak menunggu antrian miliknya.


Waktu terus berjalan selama beberapa saat, beberapa Hunter lain dengan tampang yang tidak begitu menyakinkan datang menghampiri Hyun Soyeon.


Hyun Soyeon tampak mengabaikan perilaku mereka, dan hanya fokus menunggu antrian yang sedang berlangsung.


"Hei, coba lihat pencuri ini. sepertinya dia mau menjual barang hasil curiannya." tegas salah satu Hunter yang mencoba menyinggungnya.


Hyun Soyeon yang tidak terima atas tuduhan palsunya, ia dengan tegas berbicara kepadanya, akan tetapi situasi semakin tidak terkendali untuknya.


Seorang petugas keamanan datang menghampiri mereka yang sedang berdebat.


Dengan tegas dia membawa orang-orang yang bermasalah ke dalam ruangan khusus untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.


Meja yang sudah terisi oleh beberapa kursi di sampingnya, membuat mereka menempatinya masing-masing satu orang satu kursi.


Beberapa menit berlalu.


Hyun Soyeon yang terus berdebat dengannya membuat petugas keamanan tersebut pusing tujuh keliling.


Lantaran apa yang mereka ucapkan dari kepemilikan barang yang sedang dipegang oleh Hyun Soyeon saat ini.


Setiap kali mereka berbicara dengan berbagai macam alasan yang beragam kebohongan untuk menjatuhkan hak kepemilikan barang miliknya.


Hyun Soyeon membalas kembali apa yang mereka lontarkan, tetapi argumen mereka sudah dipastikan benar oleh petugas keamanan.


Disaat penyerahan barang miliknya, sebuah suara dobrakan pintu terdengar keras sehingga proses tersebut terhenti.


"Kenapa kita tidak menentukan kepemilikan itu lewat duel saja?" tegas orang yang baru saja tiba.


Hyun Soyeon mendapat secercah harapan, ia langsung menerima saran yang diberikan olehnya.


Kekecewaan mereka yang hendak mendapatkannya, berhasil digagalkan olehnya sesaat menengok ke arahnya, ternyata dirinya adalah orang yang sangat penting di dalam ruangan ini.


Mereka mau tidak mau harus mengikuti apa yang orang itu katakan, tidak ada lagi argumen yang dilontarkan.


Dengan sopan petugas keamanan itu meminta izin untuk undur diri dari tempat ia berdiri.


Dalam satu kata dari orang itu, Hyun Soyeon serta mereka mengikuti langkah kakinya menuju ke suatu ruangan khusus.


Tidak membutuhkan waktu lama hingga mereka sampai di suatu ruangan khusus yang dibuat dari material berkualitas tinggi.


Bahan yang bisa menahan berbagai macam serangan besar ataupun sebuah ledakan yang cukup besar.


Mereka yang tidak memiliki sangkut paut akan masalah tersebut, pergi ke belakang tempat yang sudah disiapkan oleh pemilik tersebut.


Sekarang mereka bisa menonton tanpa perlu terkena sisa serangan yang akan terjadi nanti.


Hunter itu mengeluarkan senjatanya dibalik punggungnya, sebuah pedang yang cukup besar hampir mirip yang dibawa oleh Hyun Soyeon.


Kali ini Hyun Soyeon tidak menggunakan pedang besar yang baru saja didapatkan sebelumnya, ia hanya memakai dua dagger dari balik saku celana miliknya.


Pertarungan dimulai tanpa memberikan ancang-ancang pada hyun Soyeon.


Ia terkejut dengan serangan dadakan miliknya tetapi itu tidak membuat dirinya mengalami kesulitan sedikitpun.


Mungkin karena status milik Hunter tersebut berada di bawah Hyun Soyeon, yang berarti pertarungan tersebut sudah dipastikan siapa pemenangnya.


Serangan masih terus dilancarkan secara sembarangan, dia mengayunkan pedang miliknya dengan membabi buta tanpa memperkirakan jarak dari pedang tersebut.


Hyun Soyeon terus menghindar berulang kali hingga Hunter itu menjadi sangat kesal kepadanya.


Anehnya Hunter itu hanya mengeluarkan satu skill miliknya di satu waktu, tidak ada skill lain yang di perlihatkan olehnya.


Skill penguatan tubuh, adalah skill milik Hunter tersebut, dia yang penuh dengan kebanggaan tentang skill miliknya, membuat dirinya menjadi begitu sombong dan angkuh.


Hari ini adalah hari di mana Hunter itu tersadarkan, bahwa orang yang berada di depannya saat ini adalah orang yang memiliki kekuatan di atas miliknya.


"Dunia ini tidak begitu adil. Hahaha...!" tawa Hunter itu menggema di seluruh ruangan.


Penglihatan Hunter itu melihat sebuah siluet di depan matanya, yang ternyata adalah Hyun Soyeon dalam posisi siap menebas.


Hyun Soyeon mengaktifkan skill shadow stap, bergerak cepat memasuki bayangan Hunter tersebut, kemudian keluar ke atas dalam posisi siap melancarkan serangan.


Ia tidak perlu menggunakan martial art dagger untuk mengalahkannya, hanya cukup satu skill saja mampu meruntuhkan tubuhnya.


Sesaat bilah dari dagger menyentuh lehernya tiba-tiba bagian tubuh bawahnya mengeluarkan sejumlah air yang mengalir begitu indahnya.


Membuat seluruh orang yang melihatnya begitu takjub akan seni yang ditampilkannya.


Pedang besar miliknya terlepas dari genggamannya, dia hanya berdiri diam tanpa memberikan perlawanan.


"Sepertinya aku yang menang!" ucap Hyun Soyeon.


Mereka yang menonton dari kejauhan, datang menghampirinya.


Teman dari Hunter yang kalah itu, pergi membawanya dengan perasaan malu pada dirinya sendiri.


Orang tersebut menepuk bahu Hyun Soyeon dengan begitu santainya.


"Kau sungguh luar biasa, tidak ku sangka bisa mengalahkan orang itu dengan sangat mudah!" ucap orang itu.


Hyun Soyeon tertawa tanpa memberikan respon pujian darinya.


Sekertaris datang sembari memberikan dokumen kertas berisikan rencana-rencana yang akan segera di laksanakan.


Dia tertawa, dan langsung menyuruh sekertaris tersebut untuk menunggu di ruangan kantor miliknya.


"Hohoho... kenapa kau tidak ikut aku sebentar nak?" ucap orang itu padanya.


Tanpa pikir panjang ia mengikuti apa yang diperintahkan olehnya.


Tak berlangsung lama mereka berdua sampai di ruangan pribadi miliknya.


Sekertaris yang sudah lama menunggu mengeluh kepadanya, menghentakkan dokumen kertas di atas meja.


Sampai menimbulkan bunyi yang sedikit tidak nyaman didengar.


Obrolan dilanjutkan kembali, kali ini orang itu meminta Hyun Soyeon untuk item tersebut secara pribadi kepadanya.


Tentu dengan cepat Hyun Soyeon menerima tawaran yang diberikan olehnya.


Setumpuk uang terlihat di depan matanya, kemungkinan besar jumlah yang berada di atas meja sekitar 2 juta won.


Orang itu hanya terdiam menampilkan senyuman di mulutnya, Hyun Soyeon yang sudah membulatkan tekadnya.


Ia segera mengambil uang tersebut dan menghitung ulang jumlah dalam beberapa menit ke depan.


Kini pedang besar sudah di serahkan kepada dirinya secara sah.


Sekertaris itu kembali datang, dan dia membawa pedang milik orang itu ke dalam suatu ruangan di belakangnya.


Orang itu akhirnya memperkenalkan dirinya kepada Hyun Soyeon.


Ia bernama Kim Yeong, seorang ketua asosiasi sekaligus kepala departemen bagian pengawasan Hunter.


Kim Yeong menjelaskan bahwa yang dilawan oleh Hyun Soyeon adalah anggota dari guild black snake yang memiliki kesan buruk terhadap Hunter lain.


Akhir-akhir ini banyak kasus yang sedang terjadi, dan secara kebetulan guild black snake adalah dalang dari semua ini.


Kim Yeong memperingatkan kepada Hyun Soyeon akan datangnya balas dendam dari salah satu anggota guild black snake.


Hyun Soyeon menelan ludahnya karena sudah membuat nama dari guild tersebut menjadi malu.


Setelah informasi yang diberikan oleh Kim Yeong terhadapnya.


Secara tidak terduga, sebuah kejutan listrik dari bagian leher Hyun Soyeon terasa begitu menyakitkan, dan pada akhirnya ia pingsan tanpa bisa memberikan perlawanan kepadanya.


Bersambung....