The Great Hunter Was Actually A Farmer

The Great Hunter Was Actually A Farmer
Chapter 17: Sebuah Pesan



Di suatu tempat lain.


Sebuah Kelompok misterius bernama Hornimus bersembunyi dibalik kota.


Lucifer selaku ketua dari kelompok tersebut, memerintahkan 6 eksekutif lain untuk segera menjalankan rencana utama miliknya.


Mammon, Asmodeus, Leviathan, Beelzebub, Amon, dan Belphegor undur diri dari ruangan tersebut.


Tujuan pertama mereka saat ini terletak di Korea Selatan, tepatnya di ibu kota Anyang.


Sementara itu.


Saat ini Hyun Soyeon hendak melakukan perjalanan menuju pinggiran kota Anyang, yang dimana nenek dan kakeknya tinggal.


Sebelum melakukan hal tersebut, ia segera membabat habis seluruh lahan ladang miliknya, kemudian menanam kembali dengan bibit barunya.


Penghasilan yang didapat setelah menjual seluruh hasil panen miliknya sebesar 3 juta won, dan ia tukarkan 2 juta won itu kedalam poin shop, dan saat ini ia memiliki 200 poin dalam sistem shop miliknya.


Sekarang dirinya memiliki uang sebesar 1 juta won untuk kebutuhannya saat dalam perjalanan nanti.


Suara telepon berdering nyaring didalam saku celana miliknya, terlihat panggilan tersebut dari neneknya Hyun Soyeon.


Seketika dirinya mengangkat telepon tersebut, suara nenek terdengar begitu lemah ke telinganya.


Hyun Soyeon mendengarkan apa yang nenek itu katakan selama beberapa menit ke depan, hingga dirinya merasa tidak sadar akan waktu berlalu.


Hyun Soyeon menarik nafas lega setelah mengakhiri panggilan teleponnya.


Ding...!


Sebuah pesan masuk dengan atas nama tidak diketahui.


Pesan tersebut tidak begitu panjang, sampai-sampai Hyun Soyeon tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya.


[Tolong]


Itulah yang ia lihat dari pesan sistem miliknya, dan lagi-lagi sebuah gempa menggema kembali di permukaan tanah.


Tak lama kemudian getaran dari gempa berhenti, beruntung sebuah kejadian lain tidak tampak terlihat di kawasan tersebut.


Waktu terus berlalu.


Hyun Soyeon bergegas berangkat menuju kediaman kakek neneknya, tidak lupa ia mengajak Koris untuk pergi bersamanya.


Wajah Koris sedikit memerah serta tersipu malu atas tindakan yang dilakukan Hyun Soyeon saat ini.


Hal itu membuat suasana sekitar tampak sunyi seketika.


Suatu tempat setelah mereka berdua turun dari kereta api ke station lain.


Beberapa orang menyapa dirinya yang hendak menaiki bus.


Lambaian tangan dari seorang pemuda yang seumurannya, terlihat jelas seakan mereka sahabat dekatnya.


"Hei, Hyun!" melambaikan tangan sambil berlari mengejar dirinya.


Ternyata orang itu adalah teman kelasnya sewaktu masih duduk di sekolah menengah atas Seoul.


Dia adalah Park Tae, dan Sung Kim Je adalah orang yang cukup populer di masa lalunya.


Kedua orang itu meminta Hyun Soyeon untuk mengajak dirinya ikut kedalam rombongan bus yang dinaiki olehnya.


Tentu Hyun Soyeon mengizinkannya, akan tetapi ia dan Koris menjaga jarak terhadap mereka.


Perjalanan kembali berlanjut.


Didalam perjalanan, Park Tae terus berbicara tanpa henti tentang karir yang dijalani olehnya.


Sung Kim Je bersorak keras mendukungnya tanpa henti, sehingga penumpang lain kesal terhadap perilaku mereka.


Hyun Soyeon yang merasa jenuh bertanya dengan nada polosnya.


"Memangnya karir apa yang kamu jalani?"


Park Tae semakin bersemangat menjelaskan kepada Hyun Soyeon sembari menyindir kehidupannya.


Oleh sebab itu, beberapa guild lain yang tertarik dengan bakat dan stat yang dimiliki oleh Park Tae.


Pantas saja Hyun Soyeon curiga dengan perilaku keras kepala, terlebih dengan sikap angkuhnya membuat cita dirinya semakin buruk di mata masyarakat.


Hyun Soyeon hanya terdiam sembari memberikan sedikit respon padanya.


Di saat pemberhentian halte selanjutnya.


Sekelompok orang dengan penutup kepala berwarna hitam masuk ke dalam bus yang ditumpangi oleh Hyun Soyeon.


Para penumpang panik melihat sebuah senjata berupa pistol menodong kearahnya.


Park Tae dengan gagah beraninya, segera berlari ke depan dengan penuh percaya dirinya.


Menghabisi satu demi satu perampok yang hendak menembakan peluru kepadanya, tetapi aksi tersebut berhasil digagalkan olehnya.


Dua perampok lain yang telat masuk sebelumnya, melihat rekan mereka terkapar tidak sadarkan diri didepan matanya.


Membuat matanya tertuju pada Park Tae dengan senyuman menakutkannya.


Dia tertawa, dan menawarkan Park Tae untuk bergabung kedalam kelompoknya, akan tetapi dengan tekad Park Tae yang dimiliki, ia tolak mentah-mentah tawaran yang diberikan olehnya.


Tanpa membuang waktu perampok itu datang tepat didepan matanya, pukulan kuat yang kuat hendak dilepaskan.


Park Tae terkejut dan segera mengambil langkah bertahan dengan postur kedua tangan menutupi tubuhnya, tapi sayangnya sebuah pukulan tersebut sangat kuat hingga terlempar jauh dibagian belakang bus.


Sung Kim Je terkejut selepas melihat serangan pukulan yang begitu kuat didepan matanya, membuat tubuhnya semakin berat sehingga sulit digerakkan sesuka hatinya.


Rasa ketakutan menghampiri Sung Kim Je beserta penumpang lainnya.


Koris hanya diam menunggu perintah Hyun Soyeon, sedangkan Hyun Soyeon menunggu waktu yang tepat dirinya bertindak.


Emosi perampok yang masih belum mereda, dia lampiaskan kekesalannya terhadap Park Tae.


Perlahan harga diri serta rasa malu bersatu sesaat tubuhnya terinjak-injak oleh kaki sang perampok tersebut.


Sesaat penjagaannya menurun, Hyun Soyeon bergegas berlari ke arah perampok, ia memusatkan kepalan tangannya dengan mana hingga pukulan tersebut setara dengan besi seberat 10 kilogram.


Pukulan yang diberikan oleh Hyun Soyeon membekas pada bagian belakang tubuhnya, secara tiba-tiba rasa sakit muncul begitu kuat sehingga pikiran dan mental miliknya jatuh kebawah.


Para penumpang bersorak keras setelah melihat aksi Hyun Soyeon.


Park Tae terdiam menahan rasa sakit serta rasa malu terhadap dirinya, tetapi rasa terima kasih dari para penumpang tidak hanya tertuju pada Hyun Soyeon.


Ungkapan rasa terima kasih itu membuat perjuangannya tidak begitu sia-sia.


Hyun Soyeon serta Koris menghilang dari pandangan mereka.


Tim penyelamat datang tak lama setelah kepergian Hyun soyeon.


Mereka mengatakan kepada salah satu korban tentang peristiwa yang sedang terjadi.


Korban itu menjelaskan bahwa ada dua pemuda yang berhasil menggagalkan aksi perampokan tersebut.


Seluruh penumpang menunjuk pemuda yang tergeletak dibelakang bus, dan mereka mengatakan bahwa anak itu adalah penolongnya.


Sung Kim Je selaku temannya meminta tim penyelamat untuk membawanya bersama Park Tae ke rumah sakit terdekat, dan permintaan itu dia terima begitu mudahnya.


Satu jam setelah kejadian perampokan bus.


Sebuah berita aksi heroik yang dilakukan oleh Hunter Park Tae yang melindungi para penumpang dari tindakan perampokan terhadapnya.


Status Park Tae secara tiba-tiba naik dengan cepat hingga para eksekutif guild datang kembali dengan proposal barunya.


Kini masa depan Park Tae sebagai hunter semakin terjamin kian harinya.


Sekarang dirinya bergabung kedalam sebuah guild lotus, dan masuk ke dalam tim Raid kesepuluh yang di pimpin oleh Hunter rank D.


Sementara itu.


Hyun Soyeon berjalan bersama Koris menuju kediaman kakek neneknya, karena tidak ada hal yang membuatnya tertarik, pada akhirnya mereka berdua berbincang satu sama lain.


Bersambung...