
Hari sudah menjelang malam dan Khayrani berkali-kali melihat jam berharap dia mendengar suara motor yang memasuki halaman rumah sebagai tanda kalau putranya pulang.
"Tidak biasanya Ciro terlambat. Apakah dia ada janji? Tapi bukan kebiasaan dia untuk tidak memberi kabar," suara di dalam hati Khayrani bertanya-tanya.
Khay belum memberi kabar pada Alex yang sedang melakukan kunjungan ke negara tetangga. Tetapi Jenny sedang mencari tahu mengapa Ciro belum pulang.
"Selamat malam Nyonya," sapa Jenny pada Khay yang berdiri menatap keluar.
"Bagaimana? Apakah kau sudah bisa menghubungi nya?" tanya Khay khawatir.
"Saya sudah mencoba melacak dari GPS ponsel Tuan Ciro. Tetapi kami menemukan ponsel tersebut berada di pinggir sungai besar yang berada di kota Tanggerang."
"Apakah kau sudah bertanya pada warga? Mungkin mereka ada yang melihatnya?"
"Tidak ada yang melihatnya. Aku langsung mengecek lokasinya ketika ponsel tersebut aktif dan warga di sana tidak ada yang melihat pengemudi motor yang melintas."
"Jadi Ciro tidak mungkin jatuh ke sungai bukan?"
"Tidak mungkin. Aku berharap dari ponselnya dapat diketahui siapa yang menghubunginya terakhir. Tetapi semua datanya telah dihapus. Dan kami sedang berusaha mencari jejak sidik jari pada ponsel tersebut."
"Apakah kau sudah mengatakan pada Tuan?" tanya Khay gugup.
"Sudah. Tuan segera menghubungi ketika nyonya menelepon Tuan berkali-kali."
"Lalu?"
"Kami akan memeriksa parkiran. Tempat terakhir Tuan Ciro memarkir motornya. Dan kami masih mencari tahu," jawab Jenny lagi. "Dan Tuan Sioulus dalam perjalanan pulang ke rumah pada malam ini."
"Terima kasih Jen. Kau boleh pergi sekarang," kata Khay lirih. Dan Khay masih berdiri menunggu sampai Alex tiba di rumah.
"Sayang ... Kenapa masih berdiri di sini?" sapa Alex ketika dia keluar dari mobil dan melihat Khay yang berdiri menunggu.
"Aku sangat khawatir dengan Ciro. Aku yakin ada orang yang berusaha membuatnya celaka," katanya gugup sementara Alex memeluknya erat.
"Kita akan berusaha mencarinya."
Alex sudah akan mengatakan kalau Khay harus tenang, tetapi dia yakin kalau Jenny sudah menyampaikan hasil penemuannya pada Khay.
"Yah ... Aku pasti akan menemukannya," jawab Alex tegas.
Alex sangat terkejut saat dia bertanya apa yang menyebabkan Khay menelepon berkali-kali. Bukan kebiasaan Khay untuk melakukan hal tersebut.
Biasanya Khay hanya mengirim pesan dan dia yang akan menelepon balik. Akhirnya Alex menelepon Jenny untuk mencari tahu.
Dan jawaban Jenny hampir saja membuat lupa diri. Ciro memang mendapat pengawasan dari orang-orang pilihannya. Tetapi dengan sifat keras kepala putranya selalu membuat pengawalnya kehilangan jejak.
Dan untuk mengatasi hal tersebut Jenny memasang pelacak pada motor Ciro. Dan pada hari ini mereka kehilangan jejak putranya.
Jenny sebenarnya sudah melaporkan penemuannya pada Alex saat motor yang di bawa Ciro tidak beres dan Alex juga sudah memberi perintah pada Jenny untuk memberikan Ciro motor pengganti.
Tetapi ternyata ada pihak lain yang sengaja mengotak-atik motor Ciro di tempat parkir. Dan pusat pencarian mereka saat ini adalah orang yang terlihat mencurigakan yang berada di dekat motor Ciro.
Magie duduk di kursi di sisi sebelah kanan tempat tidur Ciro. Pandangan matanya seolah terkunci pada wajah dengan mata yang masih tertutup.
"Hai, kamu mau sampai kapan tidak sadar? Apa kamu tidak rindu dengan keluargamu?" Kamu tidak cape berbaring terus. Aku aja yang duduk berdiri cape," katanya dengan suara yang agak kencang.
Sudah lebih dari 24 jam berlalu, tetapi Ciro belum juga sadar. Dan Magie hari ini kembali mengunjungi nya setelah pulang dari Puskesmas.
"Suster, apakah pasien ini sama sekali belum menunjukkan reaksi positif?" tanya Magie pada suster yang baru masuk.
"Belum. Dan sampai saat ini kami masih terus memantaunya. Kenapa tertarik?" terdengar suara seorang pria yang menjawab pertanyaan Magie. Dan pria itu adalah Ivan Ardiansyah. Dokter ahli syaraf yang memantau perkembangan Ciro.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Magie dengan keheranan yang tidak disembunyikan.
"Tentang?"
"Menyapa Dokter Ivan yang menjadi dokternya? Apakah Prof yang menunjuk Dokter?"
"Hemm. Kau akan segera menjadi dokter yang sesungguhnya."
"Maksudnya?"
"Kau akan menemukan jawabannya Magie. Nanti."