
Tepukan tangan di bahunya menyadarkan Ciro bahwa dia harus pergi dengan tujuan yang berbeda. Ciro tidak tahu kapan lagi dia bisa bertemu Megan. Seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter dan telah membuatnya tertarik.
Ciro bukan pemuda lugu yang tidak pernah mengenal wanita lebih dalam tetapi bersama Megan, Ciro merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan.
"Kita berangkat, sekarang?" tanya Alex dari belakangnya.
"Oke."
Ciro berharap Megan berbalik walaupun hanya sekedar melambaikan tangan dan harapannya terwujud setelah nyaris putus asa.
Megan berbalik lalu menatap ke arah tempat dia meninggalkan Ciro. Suara Megan saat memanggil nama Ciro diikuti gerakan tangannya membuat Ciro bahagia.
Ciro begitu senang hingga dia berlari sampai jarak yang diijinkan.
"Aku akan menemui dirimu, tunggu aku!"
"Aku akan menunggumu. Berjanjilah bahwa kau akan mengingat semuanya," pinta Megan.
Perpisahan tersebut menjadi awal dari kedekatan Megan dan Ciro. Setiap akhir pekan Ciro selalu menghubunginya dan melakukan pembicaraan melalui video. Megan merasa terhibur karena dia berada di kampung orang. Sebagai seorang dokter di puskesmas, Megan begitu dihormati dan dia tidak pernah kekurangan teman tetapi saat dia sendirian, Megan berharap ada teman yang bisa menemaninya dan paham tentang profesinya.
Enam bulan sudah berlalu sejak Megan bertugas di puskesmas dan dia berniat pulang ke Jakarta. Megan bisa berlibur karena ada libur bersama dan ada rekan sejawat yang bisa menggantikannya.
Malam itu Megan sedang merapikan oleh-oleh yang akan dibawa ke Jakarta saat pintu rumahnya diketuk pelan.
Megan melihat jarum jam baru menunjukkan jam 9 malam tetapi lingkungan di sekitar rumahnya sudah sepi bahkan kendaraan sudah tidak ada yang lewat. Kesunyian benar-benar terasa.
Ragu-ragi Megan menghampiri pintu dengan tangan menggenggam gagang pel-an yang biasa dia gunakan.
"Siapa?" Suara Megan begitu lantang seolah tidak ada ketakutan.
"Aku, Ciro."
"Ciro? Tidak mungkin!" bentak Megan.
"Please, Megie. Kamu tidak lihat diluar sini hujan mulai turun."
Walaupun ragu, akhirnya Megan memutar kunci rumah dan menyaksikan seorang pria yang pernah dia kenal sebelumnya.
"Aku tidak salah lihat, kan?" tanyanya ragu.
"Matamu masih normal, kan? Kalau normal berarti tidak salah lihat," jawab Ciro kesal.
Ciro jengkel karena dia sudah berdiri lama di depan pintu rumah Megan dan memanggilnya tetapi Megan tidak terlihat batang hidungnya.
Megan bergeser agar tidak menutupi pintu sehingga Ciro bisa masuk ke dalam rumahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau membuatku takut,Ciro!"
"Maafkan aku."
Megan menggelengkan kepalanya cepat. Dia tidak tahu apa yang diinginkan Ciro dengan mendatanginya.
"Apakah kau sudah bisa mengingat semuanya?"
Megan khawatir dengan keadaan Ciro dan juga kemungkinan para penjahat yang pernah menyerangnya.
"Aku capek, Meg. Mereka semuanya orang asing bagiku. Aku capek dan memilih berhenti berpura-pura mengenal mereka. Bagiku, kau satu-satunya orang yang aku kenal dan perhatian padaku. Yang lainnya tidak penting."
Megan mengetuk meja di depannya untuk menarik perhatian Ciro tetapi yang dilakukan pria itu melihat sekeliling rumahnya.
"Di rumah ini ada berapa kamar?" tanya Ciro seolah tidak peduli dengan tindakan Megan.
"Apakah keluargamu tahu kamu kesini?"
Megan duduk di kursi yang ada di depan Ciro dengan tangan masih memegang gagang pel-an.
"Ya Tuhan, Ciro...kau tidak bisa pergi begitu saja. Apa kau tidak peduli pada orang tuamu? Ibumu sangat menyayangimu. Apa kau tahu aku sangat iri karena keluargamu sangat peduli!"
"Bisakah aku menempati salah satu kamar di rumahmu? Aku sangat lelah. Besok kau bisa tanyakan apa pun padaku."
Ciro bangun dari duduknya lalu menuju salah satu kamar yang ada di rumah Megan. Kamar pertama yang dia buka adalah kamar Megan. Dia mengetahuinya karena melihat perlengkapan tempur Megan sehingga Ciro langsung berjalan menuju kamar satunya. Sebuah kamar yang cukup bersih dan rapi.
"Kau tidak keberatan aku tidur disini, kan? Kau tidak perlu khawatir, besok pagi aku akan pergi ke hotel. Tetapi, malam ini, ijinkan aku menginap disini, ya?"
Melihat tatapan Ciro yang memelas serta Megan yang mengetahui kesehatan Ciro membuatnya pasrah dengan mengijinkan Ciro menginap di rumahnya.
Namun, niat baik Megan tidak diketahui dan dianggap melanggar norma kesusilaan oleh beberapa orang yang tidak menyukai dirinya sebagai dokter di daerah mereka.
Tanpa Megan ketahui, orang yang tidak menyukainya mulai membuat rencana dengan mengumpulkan warga yang rumahnya justru berjauhan dengan tempat tinggal Megan.
Kepala Megan baru saja menyentuh bantal saat telinganya mendengar suara orang berteriak sementara malam semakin larut.
"Ada apa lagi, ini. Apa tidak ada yang berminat memberikan aku waktu istirahat," keluh Megan.
Setelah berpakaian lengkap dan mengenakan jaket, Megan berjalan menuju pintu dengan langkah diseret. Kalau memang ada warga yang membutuhkan pertolongan dia tinggal mengambil tas kerjanya.
Namun, yang dilihat Megan bukan warga yang membutuhkan kehadiran seorang dokter di rumahnya melainkan kumpulan orang-orang yang tidak dia kenal yang masih meneriakkan namanya.
"Ada apa, ini?"
"Kami ingin dokter suruh keluar lelaki itu!"
"Lelaki?"
"Benar. Kami lihat seorang lelaki masuk ke rumah dokter sementara dokter adalah seorang wanita yang belum bersuami."
"Benar. Kami ingin dokter suruh keluar mereka."
"Apakah kita bisa bicara baik-baik sehingga tidak perlu berteriak seperti ini?"
"Kami tidak perlu bicara baik-baik kalau dokter belum mengeluarkan lelaki itu."
"Begini, Pak. Dia adalah pasien saya waktu di Jakarta. Dia datang kesini karena berpikir di desa ini ada hotel. Karena sudah malam dan hujan hujan sangat deras, jadi dia menginap disini. Dia begitu lelah dan...."
"Kalau dokter tidak mau mengeluarkan lelaki itu, maka terpaksa kami akan memaksa dokter menikahinya sekarang, juga!"
"Apa? Menikah? Astaga, Pak. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan tidak mungkin pula saya menikahinya."
"Kenapa tidak? Dokter lebih memilih nama baik dokter tercemar atau menikahinya?"
Cuaca dingin karena hujan masih turun dengan deras sama sekali tidak dirasakan oleh mereka.
"Saya curiga, kenapa dokter tidak bisa melakukan permintaan kami, apakah lelaki itu masih menunggu dokter di ranjang!"
Mendengar kalimat yang diucapkan dengan nada menghina, beberapa orang langsung terprovokasi dan merangsak masuk ke dalam rumah Megan.
Di dalam, mereka menemukan Ciro yang masih berbaring tetapi dalam keadaan menggigil.
Mereka yang sebelumnya berniat menarik keluar Ciro tiba-tiba mengurungkan niatnya begitu menyentuh kulit Ciro yang panas.
"Bu dokter! Tamunya menggigil!"
Suara teriakan dari dalam rumah membuat Megan berlari dan langsung menghampiri Ciro.
"Ciro, ada apa?"
Tidak ada jawaban hingga Megan langsung mengeluarkan alat medisnya dan memeriksa keadaan Ciro di depan seorang warga yang disuruh mengawasi.