The Forgetten Wife

The Forgetten Wife
Melacak



Wajah Alex menggelap ketika telinganya mendengar ucapan Bilora. Dan berlahan dia mendekati


wanita itu yang masih berdiri di samping akuarium dengan dipegangi oleh orang-orangnya.


“Putra Maura? Kamu mengenalnya?” Tanya Alex dengan tatapan tajam yang lebih mirip seperti tatapan pemangsa.


“Benar. Aku banyak berhutang budi padanya. Sebelum aku tahu apa tujuan sebenarnya,” jawab Bilora dengan wajah gugup dan takut.


“Dan apa tujuannya?”


“Membuat Anda hancur. Pedro yakin dengan menyingkirkan putra Anda, maka Anda akan


merasakan betapa hancur dan sedihnya Anda sebagai orang tua. Seperti ketika dia kehilangan ibunya.”


“Anak itu tidak tahu apa yang sudah dilakukan ibunya. Harusnya dia bersyukur aku sudah


membuat hidupnya nyaman,” kata Alex menatap ikan piranha yang berada di akuarium.


“Tapi dendam Pedro sangat besar pada Anda, Tuan. Dan dia tidak akan membiarkan hidup


Anda sekeluarga tenang,” beritahu Bilora. “Pedro sudah menyelidiki semua keluarga Anda. Dan apa saja yang dilakukan oleh keluarga Anda sehari-hari.”


“Dengan apa dia mengetahuinya. Dan berapa orang yang bersamanya?” Tanya Alex.


“Dia bekerja sendiri. Sementara aku. Aku baru datang ke Indonesia setelah dia meneleponku seminggu lalu,” jawab Bilora pelan.


“Dan apa keahlian mu sehingga kamu harus datang membantunya. Bukankah hidup mu sudah nyaman di Napoli?”


“Aku seorang ahli IT. Hidupku sudah nyaman sebelum Pedro membuat jebakan.”


“Jebakan?”


“Ya. Dia menjebak ku seolah-olah aku melakukan kejahatan yang sebenarnya tidak aku lakukan,” jawab Bilora pelan.


“Hm. Kau tahu bahwa hari ini keluarga ku sudah berangkat ke Italia?” Tanya Alex tiba-tiba.


“Kembali ke Italia? Bukankah istri Anda orang Indonesia?” Tanya Bilora heran.


“Benar. Tapi kami juga sering kali menetap di sana. Kadang sampai beberapa bulan. Dan saat ini aku memutuskan untuk mengirim keluarga ku ke Italia. Bagaimanapun aku harus membuat putraku sadar kembali,” gumam Alex pelan.


Dengan langkahnya yang pelan. Dia menuju sebuah meja dan duduk di salah satu kursinya.


“Duduk! Masih ada pertanyaan yang harus kau jawab!” perintah Alex keras.


Dengan wajah ketakutan Bilora mengikuti pengawal Alex yang menyuruhnya untuk mendekati Alex.


“Sudah berapa kalian mengamati keluargaku?” Tanya Alex dengan suara dingin.


“Aku tidak tahu Tuan,” jawab Bilora pelan.


“Benarkah? Tapi bagaimana kalian bias mengetahui mengenai Profesor Wildan?” Tanya Alex curiga.


“Aha. Jadi Prof Wildan menyelidiki asal obat tersebut dan kamu  langsung  mengeksekusi Prof Wildan?” Tanya Alex dengan suara yang membuat Bilora tidak bisa mengatakan apapun.


“Pedro tidak akan membiarkan siapapun mengganggu rencananya. Dan aku yakin dia akan segera memburu keluarga Anda.”


“Mengapa dia tidak langsung menghadapi ku? Bukankah dia dendam padaku?” Tanya Alex mendesak Bilora.


“Aku tidak tahu Tuan. Tapi yang aku tahu, Pedro sangat memuji Anda dan mengagumi gerakan Anda saat meringkus musuh,” kata Bilora membuat Alex tertawa.


“Bagaimana kamu tahu?”


“Karena di ruangannya dia banyak sekali menyimpan foto Anda dan menganggap Anda sebagai gurunya.”


“Dan sayangnya aku tidak percaya dengan ucapanmu. Pengawal kalian kencangkan ikatannya,” kata Alex pada pengawalnya sebelum dia pergi.


Bilora tidak menyangka kalau Alex bisa begitu saja menerima semua ucapan dari seorang pembunuh.


Berjalan dengan langkah kakinya yang tenang dan meminta Jennye mengendari pergi mobilnya.


“Apa kamu sudah menemukan titik keberadaannya?” Tanya Alex sambil memejamkan matanya.


“Sudah Tuan.”


“Bagus. Minta anak buahnya Achen bertindak.”


“Baik Tuan. Mereka sudah meluncur dan sedang menunggu perintah dari Anda.”


“Bagus. Katakan pada anak buahnya Erick untuk bertindak hati-hati. Bagaimanapun aku tidak ingin melakukannya di sini,” gumam Alex pelan.


“Baik Tuan.”


Alex menyadari sebagai Warga Negara Asing dia tidak bisa bebas melakukan apapun. Sangat berbeda bila dia melakukannya di negaranya. Di Indonesia, Alex tidak ingin aparat hukum terlibat pada kegiatannya.


Mobil yang dikemudikan Jenny berhenti di sebuah gang dan mereka menunggu siapa pun yang akan keluar dari gang tersebut.


“Kamu yakin tidak ada jalan lain untuk keluar kecuali melewati gang ini?” Tanya Alex pada Jenny.


“Saya sudah melakukannya Tuan,” Jenny yakin.


Alex dan Jenny menyiapkan senjata untuk di tembakkan pada Pedro bila dia keluar dari Gang. Dan senjata tersebut bukanlah senjata yang berisi peluru api, melainkan berisi cairan yang dapat langsung masuk ke dalam jaringan sel tubuh.


Dan efeknya sudah pasti sangat mengganggu. Apalagi bila dilakukan oleh dua buah senjata dengan carian yang berbeda dan memiliki reaksi yang berbeda. Dan Alex akan membuat Pedro merasakan apa yang sudah dia lakukan pada putranya Ciro.


“Bagaimana kamu mengetahui kalau di tubuh wanita itu ada alat penyadap nya?” Tanya Alex pada Jenny.


“Ketika saya menggeledah tubuhnya. Dan tanpa setahunya saya sudah melakukan input pada jaringannya sehingga kami dapat melacak signal dan mendapatkan titik koordinatnya,” jawab Jenny.


“Terima kasih Jen. Aku sangat bersyukur selama ini kamu selalu setia membantuku. Walaupun seharusnya Erick yang melakukan tugas tersebut untukku,” kata Alex.


“Sudah kewajiban saya untuk membantu Anda Tuan. Meskipun biasanya Erick yang selalu berada di samping Tuan.”