
Sudah lebih dari 48 jam dan keluarga Sioulus sudah melaporkan kepolisian perihal tidak ditemukan nya Ciro. Hal tersebut dilakukan karena Khayrani sangat khawatir.
Jenny dibantu dengan Andre sejak awal sudah melakukan pencarian tetapi belum juga mendapatkan hasil yang memuaskan.
Sementara itu di rumah sakit Ciro sudah mulai sadar, tetapi seperti dugaan Prof Wildan ... Dia mengalami gangguan ingatan. Dan dia hanya mengingat wajah Magie tanpa mengenal atau ingat namanya sehingga membuat semuanya terkejut. Tetapi dari semuanya ada juga yang menggembirakan, yaitu Ciro tidak mengalami keterbelakangan mental.
"Suster, apakah Dokter Magie sudah datang?" tanya Dokter Ivan.
"Belum dok. Kemarin juga Dokter Magie tidak datang. Dia hanya telepon tanya perkembangan pasien," jawab Suster Rani.
"Kalau hari ini dia datang atau telepon, sampaikan kalau saya ingin bicara."
"Selamat pagi ... Saya sudah sampai di sini."
Terdengar suara dari arah pintu sebelum Suster Rani menjawab pesan dari Dokter Ivan.
"Bagus. Magie, kamu ikut saya sebentar. Ada yang perlu saya sampaikan!"
"Baik Dok."
Magie segera mengikuti langkah Dokter Ivan yang berjalan menuju ruangannya.
"Duduklah ...."
Dengan sikap takjim Magie mengikuti dan dia duduk di kursi yang berada di depan Dokter Ivan. Hanya dipisahkan oleh meja kerja besar yang sebelah kanannya terlihat penuh.
Dokter Ivan segera menjelaskan masalah yang terjadi pada Ciro dan apa yang harus dia lakukan.
"Mengapa tidak ditempatkan di rumah khusus Dok? atau di rumah sakit?" tanya Magie tidak mengerti.
"Pasien ini harus melakukan sosialisasi dan juga harus bergaul. Kalau dia hanya mendapatkan perawatan hal tersebut tidak akan membantunya."
"Jadi?"
"Aku berharap kamu bisa membantu Magie."
"Tapi ... Bagaimana caranya? Lusa saya harus pergi ke Tempino. Apa mungkin saya harus pergi bersamanya?" tanya Magie bimbang.
"Tempino? Ada apa ke sana?"
"Saya mendapat surat tugas di PKM sana Dok," jawab Magie. "Dan kenapa kemarin saya tidak ke sini ya, karena mengurus kepindahan saya."
"Kalau begitu akan saya diskusikan dengan Prof Wildan. Tapi menurutku tidak masalah kalau dia ikut."
Dan Dokter Ivan tergelak melihat juniornya yang merupakan putri dari pemilik rumah sakit tempat dia praktek mendelik kesal.
"Eh, pasiennya ganteng loh Magie..
menurutku serasi sama kamu," goda Dokter Ivan.
"Ga tau ah. Ini udah selesaikan Dok?"
"Hem."
Magie segera berjalan keluar sebelum Dokter Ivan menggodanya lagi. Buat Magie, Dokter Ivan sudah seperti ayahnya sendiri karena memang ayahnya dan Dokter Ivan merupakan sahabat dekat.
Magie membuka pintu kamar perawatan dengan pelan-pelan. Dia tidak mau mengganggu Ciro.
"Hai ... Aku gembira akhirnya kamu sadar," sapa Magie pada Ciro.
"Kenapa baru datang?" sahut Ciro jengkel.
"Hah?" Magie begitu terkejut mendengar sahutan bernada kesal.
"Kenapa kamu baru datang?" tanya Ciro lagi.
"Aku ... Aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan lebih dulu. Dan ... Aku minta maaf aku harus mengatakan padamu bahwa aku akan pindah dari pulau Jawa."
"Maksud mu?"
"Yaelah ... Masa aku harus jelaskan dengan detail sih? Dia kan bukan siapa-siapa aku juga," katanya menggerutu.
"Jadi kemana kamu akan pindah?" Suara Ciro terdengar pelan.
"Tempino. Apa kamu tahu?" tanya Magie.
"Bagaimana aku tahu. Nama ku saja aku ga tahu," gumam Ciro pelan.
"Maaf. Tapi bagaimana kamu kenal aku?" tanya Magie mencoba mencari tahu.
"Aku ga kenal sama kamu. Tapi entah mengapa, aku ingat wajah kamu."
"Oooh ...."
"Kok tumben?"
"Apanya?"
"Biasanya kamu akan mengatakan 'Hah'."
"Ga jelas. Eh serius, kamu beneran ga ingat apa-apa?"
Ciro tidak mengerti mengapa Magie masih terus bertanya. Dan dia merasa bosan harus mendengar pertanyaan yang sama sementara dirinya juga pasti akan mengatakan yang sama.
"Kalau saja aku tahu siapa diriku. Aku akan secara jelas mengatakannya. Siapa keluargaku? Apakah mereka tidak khawatir ketika aku tidak pulang?" suara Ciro pelan sehingga Magie harus mendekatkan telinganya agar bisa mendengar.
"Aku minta maaf. Aku belum bicara pada ayahku maupun polisi kalau aku akan pindah. Kalau mereka semua mengijinkan, apa kamu mau ikut bersama denganku?"
"Ikut denganmu?"