The Forgetten Wife

The Forgetten Wife
Kedatangan Paula.



Suara motor memasuki halaman rumah keluarga Alexander Andreakis yang sangat besar di terletak di selatan kota Jakarta dan tidak berapa lama pengendara motor itu turun dan dan membuka helm yang menutupi wajah tampan yang dimiliki oleh seorang pemuda. Dan dia adalah Ciro.


Dengan langkah kakinya yang lebar, dia berjalan memasuki beranda dan melihat dua orang wanita cantik meskipun usianya sudah tidak muda lagi sedang berbincang di ruang santai dan mereka adalah Khayrani ibunya dan Paula neneknya.


"Wow ... ada kabar gembira apa nih yang membuat Nonna datang ke sini? Apa Nonna sudah tidak kuat menahan rindu padaku?" sapa Ciro dengan wajah riang.


"Kamu naik motor atau mobil?" tanya Paula pada cucunya.


"Naik motor," jawab Ciro sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Kalau begitu, cepat ganti pakaian dan bersihkan tubuhmu. Aku sudah tidak sabar ingin memelukmu," ujar Paula dengan penuh sayang.


"Siap Nonna. Aku akan segera kembali untuk menerima pelukan Nonna ku yang tersayang," jawab Ciro.


"Dan kamu tidak menyapa Mommi?" tegur Khay.


"Hemm ... Aku pulang Mom, Aku sayang Mommi," jawabnya dan tanpa perduli dia segera memeluk Khay yang hanya tertawa dengan tingkah putra bungsunya.


"Sudah-sudah, cepat ganti pakaian dan bersihkan badan mu. Kami sudah menunggu mu untuk makan siang sejak tadi," tegur Khay dengan penuh sayang.


"Ada apa? Kamu sudah makan di luar?" tanya Khay ingin tahu saat Ciro hanya tertawa.


"Mommi tidak mau tahu, kamu harus menemani kami makan," kata Khay tidak mau di bantah.


"Iya Mom. Aku akan menemani. Tapi hanya sekedar menemani," jawab Ciro tertawa.


Menuruti perintah ibunya, Ciro berjalan menuju kamarnya dan di dalam perjalanannya dia bertemu dengan Jenny yang menatapnya ingin tahu.


"Ada apa?" tanya Jenny pelan saat Ciro memberi tanda untuk diam.


"La Zia bisa periksa motor ku tidak. Aku tadi mau mampir ke bengkel tapi belum sempat," katanya berbisik.


"Ada apa dengan motor mu?"


"Entahlah. Aku merasa ada sesuatu yang rasanya kurang pas. La Zia bisa membantu ku kan?"


"Mana kuncinya? Aku akan mengeceknya di bengkel. Kalau di rumah mereka pasti curiga," jawab Jenny mengikuti permintaan putra majikannya.


"Terima kasih La Zia. Aku sayang La Zia," katanya dengan senyum yang hanya membuat Jenny geleng kepala.


Setelah memberikan kunci motornya pada Jenny, Ciro melanjutkan langkahnya menuju kamar. Dan tidak berapa lama sudah terdengar suara air pancuran saat dia masuk ke dalam kamar mandi yang cukup besar.


Setelah menerima kunci dari Ciro, Jenny menuju pintu keluar dan dia menitip pesan pada Achen kalau dia akan keluar membawa motor Ciro.


"Ada apa dengan motornya?" tanya Achen heran.


"Masalah? Kau mencurigai sesuatu?" tanya Achen.


"Benar. Aku rasa dia harus melupakan motornya dan menggantinya dengan mobil," jawab Jenny.


"Apa kamu sudah mengatakan pada Tuan Alex?"


"Sudah. Dan Tuan sebenarnya sudah menyuruh Ciro memakai mobil. Tapi kau tahu sendiri bagaimana dia kalau sudah menyukai sesuatu. Baiklah, aku akan ke bengkel dan memasang alarm yang bisa terhubung ke sirkuit keamanan ku," kata Jenny.


"Bisakah?"


"Akan aku usahakan. AKu pergi dulu. Kalau Nyonya mencariku katakan saja aku ke bengkel."


"Oke."


Jenny segera pergi dengan motor Ciro menuju bengkel yang merupakan bengkel pribadi keluarga Alexander Siolus.


Jenny dan Achen, mereka berdua sudah memiliki keluarga dan mereka tinggal di kir dan kanan rumah besar keluarga Siolus setelah keduanya memutuskan untuk tetap bekerja dengan keluarga Sioulus sementara Lastri sudah menjadi pegawai tetap di SCC dan ibunya sendiri tinggal di kampung.


Untuk Lastri sendiri dia sudah menikah dengan teman kampusnya dan suaminya bekerja sebagai manager hotel yang merupakan milik Sioulus. Tetapi atas permintaan suaminya, Lastri tinggal cukup jauh dari rumah Khay, karena suaminya tidak ingin mendapatkan perhatian secara berlebihan dan keluarga Alex.


Tubuh segar setelah mandi di bawah pancuran air, Ciro menemui Khay dan Paula yang masih duduk di ruang santai dan dia, tidak perduli dengan usianya yang sudah bukan anak-anak lagi segera duduk menyandar pada Khay yang hanya tertawa dengan sikapnya.


"Bagaimana di tempat kerja mu?" tanya Paula pada Ciro.


"Seperti biasa Nonna. Aku beruntung memang serius bekerja, dan hanya menganggap aku hanya sebagai pemuda blasteran yang miskin. Jadi mereka hanya menganggap ku bule nyasar," jawab Ciro tertawa.


"Alex itu keterlaluan Khay. Mengapa dia malah meminta Ciro sebagai Ob. apa tidak ada pekerjaan yang lainnya. Sayang bukan gelar sarjana tapi kerja sebagai Ob," sungut Paula yang dibalas dengan senyuman yang berasal dari menantu dan cucu nya.


"Alex hanya menawarkan saja Mom. Tapi Ciro setuju karena menrutunya pekerjaan tersebut adalah tantangan yang harus dia terima. Dan Alex juga akan segera memindahkan Ciro ke bagian lain. Kemungkinan di bawah pimpinan Lastri," jawab Paula.


"Bagus lah. Kalau ALex belum juga bertindak, aku akan katakan langsung siapa Ciro. Berapa lama kamu sudah bekerja sebagai Ob sayang?"


"Aku baru sebentar Nonna. Tepatnya 3 bulan kurang seminggu lagi. Dan itu adalah batas waktu apakah aku akan terus bekerja di sana atau tidak," jawab Ciro sambil memaninkan ponselnya. "Eh Mom dan Nonna sudah makan?"


"Sudah. Menunggu kamu juga percuma, kamu sudah makan," sahut Khay dengan wajah cemberut yang membuat Ciro mendaaratkan kecupan di tangan Khay.


"Hey, kamu sudah punya kekasih belum?" tanya Paula tiba-tiba.


"Kekasih? Kalau aku jawab tidak Nonna percaya?" tanya Ciro tertawa.


"Nonna heran kenapa kamu tidak seperti Papa dan Lo Zio mu. Mereka itu terkenal dengan para wanita yang selalu mengikuti. Cari pengalaman untuk mendapatkan yang terbaik seperti orang tua mu sayang. Jangan baru mencari setelah kamu sudah terikat," saran Paula yang lagi-;agi hanya di jawan dengan senyum dari Ciro dan Khayrani.


"Aku masih menyukai keadaanku saat ini Nonna. Dan saat ini hanya wanita yang benar-benar tulus yang mau bergaul dengan bule miskin seperti ku. Mereka tidak mau di anggap melindungi WNA yang hanya mencari aman dan menumpang hidup," jawab Ciro tertawa.