The Forgetten Wife

The Forgetten Wife
Awal Cerita



Ciro memacu motornya dengan kecepatan penuh karena jalanan sangat lenggang. Jauh dari kemacetan yang seringkali terjadi di daerah pinggiran kota Jakarta.


Motor yang dikendarai oleh Ciro mulai memasuki area proyek pembangunan dan dia langsung menuju tempat dia bisa bertemu dengan temannya itu setelah bertanya pada satpam.


Irawan Teja Sasmita. Teman kuliah nya di London yang kini bekerja di perusahaan keluarganya di bidang pengembang rumah hunian menengah ke atas.


"Hay Ciro ... Apa kabar? gimana lancar ga?" sambut Irwan ketika melihat temannya berjalan menghampiri.


"Lancar Bro ... Tapi boleh aku tahu apa tujuan mu mengundang ku ke sini?"


"Hemm, apa aku boleh jujur?" tanya Irwan dengan berjalan di sisi Ciro.


"Silahkan, selama aku tidak dirugikan?" jawabnya tertawa.


"Aku ga bakalan merugikan mu kok. Terus terang aku memerlukan jasa mu untuk mempromosikan perumahan yang akan aku bangun ini. Dan proyek ini adalah proyek pertama ku yang diberikan keluarga ku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka."


"Berapa penghasilan yang kamu peroleh dari pekerjaan mu di proyek ini? Aku rasa lebih dari ratusan juta. Dan kamu mengeluh karena khawatir mengecewakan mereka?"


"Kamu ga ngerti Ciro. Kamu pasti tahu berapa besar biaya untuk proyek ini."


"Apakah kamu tidak mengerti hukum ekonomi atau yang berhubungan dengan marketing? Aku yakin Perusahaan keluargamu memiliki tim marketing yang handal. Jadi manfaatkan mereka. Kalau aku membantu mu, bukankah dianggap lancang?"


Mendengar penjelasan dari Ciro membuat wajah Irwan memerah karena malu.


"Aku minta maaf karena sudah bertindak bodoh. Jam segini kamu sudah pulang kerja? Tidak mendapat teguran dari Papa mu?" tanya Irwan memperhatikan Ciro.


"Tidak. Masa kerja ku sebagai ob sudah selesai dan ...."


"Aku tidak melihat ada yang salah dengan pekerjaan ku. Dan itu bedanya aku dengan mu. Kau langsung mendapatkan posisi yang nyaman sementara aku harus memulainya benar-benar dari awal."


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Silahkan!"


"Kenapa ayahmu menempatkan dirimu sebagai Ob? Aku rasa banyak tempat dan bagian di SCC selain Ob."


"Apakah kamu pernah melihat seorang Ob mendapatkan penghormatan selain di suruh-suruh? Kalaupun ada aku rasa tidak banyak. Aku rasa ayahku ingin aku tidak memandang rendah pada pegawai rendahan. Dengan membuat ku merasakan di posisi tersebut."


"Aku salut dengan pemikiran Tuan Sioulus. Dan aku sangat senang menjadi temanmu. Yang menerima bekerja sebagai Ob padahal kau seorang putra Presdir. Terima kasih sudah memberikan pelajaran yang berharga pada hari ini. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?"


"Sayang sekali aku tidak bisa menerima undangan mu. Nenek ku sedang ada di Jakarta dan aku tidak mau mengecewakan nya dengan tidak hadir saat makan malam. Saran ku untuk proyek yang sedang kamu kerjakan serahkan pada ahlinya untuk memasarkan nya."


"Tentu. Terima kasih untuk sarannya," jawab Irwan.


Irwan mengantar Ciro ke tempat kendaraan nya di parkir dan sekali lagi dia terkejut karena temannya itu menggunakan motor dan bukan mobil, walaupun harga motornya sendiri cukup membuat sebagian orang berpikir dua kali untuk membelinya.


"Hati-hati di jalan. Aku pikir kesukaan mu pada kendaraan roda dua hanya saat kuliah saja. Ternyata terus berlanjut sampai sekarang. Punya rencana memasarkan kendaraan roda dua juga?"


"Kalau hal tersebut menguntungkan, kenapa tidak. Tapi aku harus tunggu modal ku cukup dulu," jawab Ciro dengan tawanya yang keras.


Ciro memacu motornya cukup kencang dan ia tidak ingin terlambat kembali ke rumah keluarganya. Dan pada tikungan yang cukup tajam secara tiba-tiba motornya selip dan dia tidak dapat mengendalikan nya.


Tubuhnya terlempar walaupun dia berusaha untuk tetap berada di dekat motornya dan Ciro pun tidak sadarkan diri.