
Ciro masih berdiri menatap kepergian Meggie bersama 2 orang perwira polisi.
Hatinya merasa bimbang dan juga ragu saat dia ditinggalkan di rumah keluarga kaya. Keluarga yang menurut Indra adalah keluarganya sendiri.
"Ciro ...."
Terdengar suara wanita memanggil. Nadanya yang lembut membuat Ciro menoleh dan dia sangat terpesona dengan kecantikan seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi.
"Apakah Anda memanggil saya. Nyonya?"
"Tentu. Mama memanggil kamu sayang."
Khayrani tidak menduga bahwa putranya yang tampan memanggil dia Nyonya. Air mata membayang di pelupuk matanya.
"Ciro ... kamu adalah anak Mami dan Papi," kata Khay sedih.
"Saya minta maaf sudah membuat Nyonya bersedih."
"Maukah kamu memanggil Mami?"
"Baiklah. Saya akan memanggil Mami," jawab Ciro membuat air mata Khay menetes.
"Tidak Mom. Mom tidak perlu menangis. Aku akan berusaha untuk mengingat semuanya," ucap Ciro lembut.
Tangan Ciro terulur untuk menghapus air mata Khay. Sementara dari sudut matanya dia melihat laki-laki menghampiri mereka.
"Bagaimana kalau kamu istirahat dulu. Nanti kami akan memperlihatkan album foto mu," Alex ikut berbicara untuk mengatasi kebingungan Ciro.
"Bisakah aku melihat sekarang? Aku tidak mau terlihat bodoh karena tidak mengenal kalian semua," katanya pada Alex.
"Tentu saja. Ayo kita kedalam...."
Dengan penuh semangat Khay menggandeng lengan Ciro dan membawanya ke ruang keluarga.
"Duduk di sini, Nanti Achen akan mengambil album foto untuk mu."
"Achen? Siapa dia?" tanya Ciro.
"Achen salah satu orang yang banyak membantu keluarga kita," kata Alex.
Tidak berapa lama, seorang wanita bermata sipit datang menemui mereka dan di tangannya terdapat beberapa album foto serta beberapa fd.
"Sekarang kamu lihat di album foto ini ... Mammi yakin kamu bisa mengingat nya," kata Khay bersemangat.
"Terima kasih Mom."
Alex dan Khay banyak memberikan penjelasan tentang siapa-siapa saja yang ada di foto serta hubungan mereka.
"Jadi kita mempunyai keluarga besar?" tanya Ciro menutup album fotonya.
"Benar."
"Lalu siapa wanita itu?" tanya Ciro menunjuk lukisan wanita cantik yang dipasang di dinding.
"Dia adalah kakak mu. Namanya Alessia. Dan lusa dia akan datang. Als sangat bahagia mendengar kamu sudah pulang ke rumah," jawab Alex.
"Oh."
"Mengenal? Aku tidak tahu."
"Bukankah aneh, kamu ingat dengannya sementara kamu tidak ingat siapa kami?" tanya Alex dengan tatapan curiga.
"Aku tidak tahu. Aku hanya tahu kalau dokter Meggie yang menemukan aku," jawab Ciro cepat.
"Papi ... please," tegur Khay dengan menatap Alex.
"Menurut Mommi, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya. Pelan-pelan saja. Mommi yakin kamu pasti akan mengingat semuanya."
"Ya," jawab Ciro singkat.
"Bagaimana kalau kita makan siang?" tanya Khay lagi.
Dan Ciro hanya mengangguk setuju
Alex seringkali memperhatikan Ciro. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Sementara Khay sangat bahagia karena putra bungsunya sudah kembali.
Tidak banyak yang dibicarakan di meja makan. Ciro hanya menjawab singkat setiap pertanyaan yang diucapkan oleh Khay. Dan terkadang Alex melihat Ciro merasa bosan dengan pertanyaan tersebut.
"Papi rasa sekarang biarkan Ciro istirahat. Dan ingat yang tadi Mommi katakan. Jangan paksakan diri. Oke?"
"Hm ... Kalau begitu, ayo Mom antar kamu ke kamar!" kata Khay setelah mereka sudah selesai.
"Sayang ... Papi dan Jenny akan keluar sebentar," beritahu Alex ketika Khay mulai berjalan ke arah kamar Ciro.
"Bersama Jenny? Mau kemana?"
"Ada yang harus Papi cari," jawab Alex tersenyum.
"Baiklah. Hati-hati!"
Alex segera keluar dan memanggil Jenny agar menemani nya.
"Kita ke rumah sakit tempat Ciro menjalani perawatan!" suara Alex terdengar tajam saat dia mengatakan tujuannya pada Jenny.
"Baik Tuan."
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Alex mencari tahu informasi tentang Profesor Wildan melalui internet dan dia tersenyum dengan prestasi yang mencengangkan dari Profesor Wildan. Dan membuat janji untuk bertemu.
Kedatangan seorang Alexander Sioulus di salah satu rumah sakit swasta yang mempunyai nama cukup menarik perhatian. Apalagi Alex selalu di kawal oleh beberapa pria kekar dan juga. gagah selain Jenny.
"Selamat siang. Aku sudah membuat janji dengan Prof Wildan. Aku bisa menemuinya di mana?" tanya Alex pada resepsionis rumah sakit.
"Selamat siang. Maaf apa saya boleh tahu nama Tuan?"
"Alex. Alexandre Sioulus," jawab Alex singkat tetapi bisa membuat resepsionis itu gugup.
"Oh. Maaf Tuan. Saya akan panggilkan sekuriti untuk mengantarkan Anda."
"Tidak perlu. Katakan saja di mana aku bisa menemuinya."
Dengan gugup akhirnya resepsionis itu mengatakan dimana dapat bertemu dengan Profesor Wildan.