The Forgetten Wife

The Forgetten Wife
Perjalanan



Ciro memandang Meggie dengan tatapan penuh tanya. "Kau sungguh mau pergi?"


"Hm. Sebagai seorang dokter yang baru memulai tugasnya, aku harus mengabdi di daerah dulu. Dan aku akan bertugas di Propinsi Jambi."


"Kau serius menawari aku ikut?" tanyanya lagi.


"Kalau kau bersedia dan semua pihak mengijinkan," jawab Meggie.


"Baiklah. Kalau di perbolehkan aku akan ikut dengan mu."


"Ada satu hal yang aku harus tahu ... Kau sungguh tidak ingat siapa dirimu?" tanya Meggie. Dan Ciro hanya menggeleng.


"Tapi kenapa kau ... Ah sudahlah. Kamu sudah minum obatnya?" Akhirnya Meggie memutuskan untuk tidak mendesak Ciro untuk mengatakan namanya dan menjawab pertanyaan yang di ajukannya.


"Apa aku sudah boleh pergi?" tanya Ciro. "Maksudku,  apakah dokter sudah menyatakan kalau aku sudah sembuh?"


"Aku tidak tahu karena belum bertanya pada dokter yang menangani. Akan aku tanyakan nanti. Boleh aku bertanya lagi?"


"Silahkan."


"Kenapa kau kenal denganku, tapi lupa dengan namaku?"


"Aku juga tidak kenal denganmu. Aku hanya ingat wajahmu dan aku tidak tahu dimana kita pernah bertemu." jawabnya.


"Oh begitu. Hari ini aku sangat lelah dan aku memerlukan istirahat. Jadi aku pulang dulu. Dan aku berharap kau juga bisa manfaatkan waktu mu untuk istirahat sekaligus mencoba mengingat tentang dirimu."


"Terima kasih. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku kalau kau tidak datang pada waktu yang tepat. Profesor sudah mengatakan bahayanya obat yang sudah dipaksakan masuk ke dalam tubuhku bila sampai 24 jam tidak dilakukan pengobatan."


"Sudahlah. Aku permisi pulang dulu. Bye ...."


Meggie berjalan keluar kamar perawatan meninggalkan Ciro yang menatapnya tidak rela karena Meggie pergi meninggalkannya.


Tanpa terasa Ciro sudah berada di rumah sakit selama 30 hari dan ternyata keberangkatan Meggie untuk melaksanakan tugasnya tertunda.


Hari ini Meggie kembali mengunjungi Ciro di rumah sakit dan dia melihat wajah pria itu sudah semakin segar dan sehat. Dan Meggie juga melihat penutup luka di pelipis Ciro sudah di lepas.


Meggie mengamati wajah pria yang tengah duduk di tempat tidur.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Ciro dengan wajah heran.


"Hanya mengamati, apakah aku pernah bertemu denganmu atau kau hanya pengagum rahasia ku," jawab Meggie tanpa melepaskan pandangannya pada wajah Ciro.


"Terserah."


Dan Ciro kembali meletakkan kepalanya dibantal dalam posisi bersandar.


Meggie mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ciro tanpa menyadari kalau wajahnya begitu dekat sehingga nafasnya menyentuh kulit wajah Ciro, begitu juga nafas Ciro terasa hangat di wajahnya. Tetapi Meggie tidak memperhatikan dan memperdulikannya.


"Benar. Aku sepertinya pernah bertemu dengan mu," kata Meggie membuat Ciro membuka matanya cepat dan pandangan mereka terkunci satu sama lainnya.


Mata Ciro yang hitam dengan alis mata yang sama hitamnya serta hidungnya yang tinggi menatap wajah Meggie dengan intens. Dan Meggie seperti merasakan wajahnya merah merona dan dia tidak mampu berpikir untuk mengangkat wajahnya.


"Kau wanita yang cantik Nona. Apa yang membuatmu memandangku begitu lama?" tanya Ciro geli dengan senyum di bibirnya.


"Di mana kamu pernah bertemu Meg?" terdengar suara dari arah belakang nya dan Meggie segera memperbaiki posisi berdirinya masih dengan wajah merona. Dan dia melihat Profesor Wildan bersama Andrian dan seorang polisi lagi yang belum dikenal oleh Meggie.


"Iya."


"Meggie, beliau adalah atasan ku di kantor. Namanya Bapak Indra," kata Andrian memperkenalkan atasannya yang datang bersamanya.


Meggie hanya mengangguk hormat untuk menyapanya. Dan dia mulai menjawab pertanyaan dari Profesor Wildan.


"Aku pernah bertemu dengannya di salah satu restoran di Jakarta," jawab Meggie dan dia mulai bercerita dimana dia bertemu dengan Ciro.


Meggie melihat Andrian dan asisten Prof Wildan mencatat keterangan yang dia berikan.


"Terima kasih Meg, Kami akan menelusuri informasi yang kamu berikan," jawab Andrian. "Lalu kamu akan berangkat kapan? Aku dengar kamu akan bertugas di Provinsi Jambi," tanya Andrian.


"Lusa. Dan sebelumnya aku memang akan berbicara pada Prof maupun pada pihak Anda mengenai Dia. Tapi aku rasa karena sudah ada sedikit titik terang. Aku bisa pergi sendiri tanpa harus ada yang menemani bukan?"


"Kau benar. Dia adalah ... "


"Apakah tidak ada yang mempunyai keinginan untuk memberikan nama padaku?" tanya Ciro menyela ucapan Andrian.


"Kamu mau pakai nama apa? Wajahmu ini seperti orang Italia tau ga?" ucap Meggie dengan nada menggoda.


"Wajah Italia? Pak Andria, bukankah dari pusat ada laporan tentang kehilangan anggota keluarga dari keluarga yang cukup terkenal?" tanya atasan Andrian.


"Mohon ijin Pak. Akan saya cari informasinya."


Andrian segera membuka ponsel pintarnya dan mencari data seperti yang disampaikan oleh Atasannya dan dia memperhatikan wajah Ciro dengan seksama.


"Benar. Meskipun informasi ini adalah rahasia, tetapi wajahnya memang seperti yang di cari."


"Benarkah? Jadi apa aku boleh tahu?" tanya Meggie menaikkan sebelah alisnya.


"Maaf Nona, Ini adalah informasi rahasia jadi kami tidak dapat memberikannya pada Anda," jawab Polisi yang bernama Indra.


"Apakah Anda orang yang tidak mengerti ucapan terima kasih?" tanya Ciro dari arah tempat tidur.


"Maksud Anda?"


"Kalau Meggie tidak mengatakan dan tidak mau tahu, apakah kalian bisa mendapatkan informasi tentang diriku? Mengapa kalian tidak mengatakan apa informasi mengenai diriku? Bisa jadi mereka adalah pihak yang menyebabkan aku seperti ini."


Suara dingin Ciro membuat mereka terdiam dan berpikir bahwa kemungkinan seperti itu sudah pasti ada.