The Forgetten Wife

The Forgetten Wife
Hari terakhir jadi Ob.



Ciro baru saja melepaskan seragam kerjanya dan dia sedang bersiap untuk meninggalkan pantri ketika melihat Lastri memasuki pantri.


"Apakah Tuan muda akan segera pulang?" tanya Lastri setelah dia berada di sebelah Ciro.


"He eh. Tugas ku sudah selesai. Aku minta maaf tidak mengunjungi Kakak selama bekerja di sini," sahut Ciro dengan ceria.


"Kalau tuan yang mengunjungi ku, Kakak tidak tahu apa yang harus kakak katakan," jawab Lastri dengan senyumnya yang ramah.


"Kenapa tidak tahu apa yang akan kakak katakan? Kakak bisa saja mengatakan kalau honor yang akan aku terima mendapat tambahan karena mereka menilaiku sebagai karyawan yang sangat rajin," jawab Ciro geli.


"Apa itu tidak terlalu berlebihan dengan ucapan tuan muda? Apakah selama bekerja di sini, kamu mengalami gangguan?" tanya Lastri dengan wajah cemas.


"Tentu saja tidak Kak. Mereka kebanyakan menganggapku sebagai model yang sedang menyamar. Untung saja rambut dan jenggot palsuku ini bisa menipu mereka dan aku gembira kalau mereka semuanya menggangku sebagai karyawan asing yang super miskin," jawab Elang membuat Lastri mengikik g


"Kenapa kakak tertawa? Bukankah kenyataan? Mereka semuanya menyarankan diriku untuk mengikuti audisi sebagai modek di SCC karena wajahku cukup menjual. Menurut kakak berapa harga ku ini?" tanya Ciro menggoda Lastri dengan gayanya yang jenaka.


"Hentikan tuan. Anda tidak perlu mengikuti audisi dan kaka yakin Tuan dan Nyonya pasti akan berusaha keras untuk menceganya," jawab Khay menahan tawa.


"Yeah karena Papa tidak mau semua orang mengenal siapa diriku. Oh iya, Kak Lastri kok tiba-tiba datang ke sini? Bukankah tertalu jauh dari ruang kerja Kakak?"


"Kakak memang sengaja datang ke sini untuk menyapa mu. Setelah 3 bulan di sini, Tuan muda akan bekerja di mana? Maksud kaka di bagian apa?"


"Papa memintaku untuk bekerja di bidang pemasaran. Dan aku harus membantu bagian marketing," jawab Ciro datar.


 "Kalau boleh saya tahu, sebenarnya apa tujuan Tuan Alex menempatkan tuan di sini? Sementara dengan mudahnya tuan bisa membuat tuan muda berada di kursi dewan Direkti," jawab Ciro


 "Aku berusaha untuk menjadi baik dimana pun aku berada," jawab Ciro tertawa.


 "Kalau begitu aku permisi dulu ya Kak.  Rasaya aku sudah ingin cepat-cepat mandi agar tubuhku bersih dan saat ini benar-benar sudah tidak nyaman."


"Silahkan dan kalau tuan muda berkenan, apakah bisa saya titip salam untuk Nyonya Khay dan juga Nona Alessia."


"Untuk mama, akan aku sampaikan. Tetapi untuk Sorella? Aku tidak tahu kapan dia punya waktu untuk mengangkat telepon dari kami. Sampai papa mengeceknya langsung," jawab Ciro tertawa.


"Sekali lagi terma kasih ya Tuan Muda. Kalau begitu kakak tidak akan mencegah waktu tuan muda untuk pulang."


Ciro hanya menganggukan kepalanya dan dia masih tidak mengerti dengan sikap Lastri yang masih bersikap seperti dirinya masih sebagai pengasuhnya. Padahal sekarang Lastri sudah menikah dan mempunyai anak.


Dengan langkahnya yang lebar, Ciro meninggalkan tempat kerjanya dan belum sampai di parkiran ia mendapat telepon dari salah seorang temannya yang mengharapkan kehadirannya karena dia baru saja tiba di Indonesia.


"Di mana aku bisa bertemu denganmu?" tanya Ciro pada temannya.


"Aku ada rencana untuk membangun hunian untuk pasangan muda dan aku berharap kamu bisa melihatnya. Apakah kamu bisa?"


"Ya aku akan ke sana. Tapi alamatnya di mana?" jawab Ciro dengan suaranya yang mulai tidak sabar.


"Aku akan mengirimkan alamatnya padamu," sahutnya dan tidak berapa lama Ciro sudah memacu motornya menuju daerah pinggiran kota Jakarta.