The Forgetten Wife

The Forgetten Wife
Siapa



Magie dan Andrian berjalan memasuki kamar perawatan VIP yang diberikan oleh Profesor Wildan.


"Kenapa prof memberikan kamar seperti ini pada orang yang tidak dikenal? Apa maksudnya?" benak Magie bertanya-tanya.


"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan sama dengan yang aku pikirkan?" tanya Andrian melirik Magie.


"Maksud Anda?"


"Apakah prof mengenal korban itu?" tanya Andrian.


Magie tidak tahu harus mengatakan apa sehingga dia hanya mengangkat bahu.


"Aneh bukan?" terdengar suara Andrian lagi saat mereka berjalan mendekat.


Magie dan Andrian menatap wajah yang berbaring tidak berdaya. Wajah tampan yang mereka lihat sangat berbeda dari pria lainnya.


"Dia pria keturunan. Wajahnya bukanlah asli pribumi." gumam Andrian.


"Benar. Dia mempunyai kewarganegaraan apa, hanya bisa menunggu dia sadar," jawab Magie pelan.


Andrian menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya dan dia menatap Magie dengan mengerutkan dahinya.


"Ada apa?" tanya Magie menaikkan sebelah alisnya.


"Waktu kamu sampai di tempat kejadian, apakah kamu melihat sesuatu?" tanya Andrian dengan tatapan menyelidik.


"Tidak. Jujur aku sebelumnya hanya berpikir kecelakaan lalulintas biasa dan hanya bermaksud menunggu api nya tidak terlalu membahayakan. Dan saat aku melihat sekeliling aku melihat ada yang tergeletak diluar jalan."


"Lalu darimana kamu menemukan botol obat tersebut?" tanya Andrian dengan nada mendesak.


"Saat aku melihat luka di kepalanya dan aku mencari tahu apa yang membuatnya terluka. Kalau hanya terlempar dari motor, aku rasa lukanya tidak akan seperti itu. Dan botol tersebut karena aku merasa aneh saja. Jadi aku mendokumentasikan. Siapa tahu perlu sebagai barang bukti. Anda tidak bermaksud menjadikan aku sebagai tersangka bukan?"


"Tentu saja bukan. Aku hanya berharap kamu bersedia sebagai saksi bila kami perlukan," jawab Andrian.


"Oh seperti itu," jawab Magie terlihat tidak tertarik.


"Aku harap aku bisa. Tentu saja selama aku mampu," jawabnya.


Pandangan Magie kembali pada tubuh Ciro dan tanpa dia sadari tangannya terulur ke wajah Ciro membuat Andrian tersenyum.


"Dia tampan bukan? Apakah dia menjadi salah satu korban dari wanita yang dikecewakan?" ucap Andrian.


"Hemm.. Aku berpikir bagaimana saat dia sadar nanti dan menderita keterbelakangan mental. Lupa ingatan, tidak tahu siapa dirinya dan harus menderita." gumam Magie.


"Aku yakin dia akan mampu melewatinya. Bukankah Prof tadi mengatakan kalau kamu yang merawatnya?"


"Prof itu kalau bicara kadang tidak berpikir lagi. Bagaimana mungkin kami yang tidak mempunyai ikatan apa pun bisa tinggal bersama," dengus Magie.


"Menurut mu kapan kira-kira dia sadar?" tanya Andrian kembali.


Magie meliriknya dan dia menghela nafas.


"Aku tidak tahu karena aku belum sempat bertanya pada Prof atau pun dokter yang nanti akan menanganinya. Kalau Anda ada kepentingan lain ... Silahkan, aku tidak akan menahan Anda," kata Magie.


"Benar. Aku masih ada kepentingan yang harus aku selesaikan. Apakah aku bisa tahu nomor Anda. Agar aku bisa menghubungi kalau aku memerlukan informasi lanjutan," ucap Andrian yang mendapatkan kerutan dahi dari Magie.


"Baiklah ... Bisa pinjam ponsel Anda?" katanya.


Dengan senyum di sudut bibirnya, Andrian memberikan ponselnya dan tidak berapa lama Magie memberikan kembali ponselnya.


"Aku sudah menyimpan nomor ku. Kalau Anda mau meneleponku, sebaiknya kirim pesan dulu," beritahu Magie.


"Baiklah. Aku akan mengirim pesan bila nanti akan menghubungi mu. Kalau begitu aku permisi dulu. Selamat sore menjelang malam."


"Malam ... Aku rasa lebih tepat kalau aku jawab malam," jawab Magie dengan senyumnya.


Dengan langkahnya yang lebar, Andrian meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kantor untuk melaporkan bahwa korban belum bisa diketahui identitasnya.