The Forgetten Wife

The Forgetten Wife
Kembali ke rumah



Indra, Andrian dan Profesor Wildan memandang ke


arah Ciro yang berada di tempat tidur.


“Maksud Anda tidak masalah kalau berita


mengenai keluarga Sioulus di bicarakan di sini?” tanya Indra.


“Mengapa tidak? Meggie adalah orang yang


menemukan aku. Jadi tidak ada salahnya kalau dia juga mengetahuinya,” jawab


Ciro keras kepala.


“Baiklah. Akan saya sampaikan mengenai berita


atau informasi yang kami dapat dari pusat,” kata Indra memulai penjelasannya.


Mereka semua diam saat Indra menyampaikan


informasi mengenai putra Keluarga Sioulus yang menghilang sejak sebulan lalu.


“Jadi menurut Bapak, dia adalah putra keluarga


Sioulus?” tanya Meggie pelan.


“Kita belum mengetahuinya. Dan aku rasa kita


harus menghubungi pihak keluarganya dengan cepat. Aku yakin mereka sangat


menderita Karena sudah lama mencari anggota keluargnya,” Jawab Indra sambil


mengeluarkan ponselnya.


“Bapak mau ngapain?” tanya Ciro.


“Menghubungi keluarga Sioulus.”


“Bagaimana kalau ada pihak yang jahat dan


berada di rumah keluarga itu? Apakah Bapak menjamin diri ku?”


“Lalu, bagaimana kalau aku tidak


menghubunginya? Bagaimana kami bisa mengetahui kalau kau adalah bagian keluarga


itu.”


“Apakah Bapak tidak bisa melihat foto yang


dilaporkan hilang?” tanya Meggie pelan.


“Tidak. Keluarga Sioulus sangat berhati-hati.


Meskipun mereka melaporkan putra mereka yang belum pulang, Mereka tidak


memberikan foto apapun untuk mempermudah pencarian,” jawab Indra.


“Dengan kata lain, kita harus mendatanginya


langsung ke rumah keluarga Sioulus. Benarkah begitu?” tanya Prof membuka suara.


“Benar Prof. Dan kami harap korban sudah bisa


meninggalkan rumah sakit sehingga kami bisa mengantarnya kembali ke rumah


keluarganya.”


“Keadaan korban sudah sangat stabil. Dan dia


akan baik-baik saja. Dan aku yakin dengan berada di tengah keluarganya.


Keadaannya pasti akan membaik.” Jawab Profesor Wildan Optimis.


“Baiklah. Kalau memang keadaannya stabil.


Apakah kami hari ini bisa mengurus kepulangan pasien?” tanya Indra lagi.


“Tidak perlu. Aku yang bertanggung jawab atas


keadaan pasien.”


“Baiklah. Apakah kita bisa bersiap-siap


sekarang?” tanya Indra pada Ciro.


“Aku akan pergi bersama kalian bila Meggie juga


ikut denganku. Tidak ada yang aku kenal saat ini dan Meggie adalah orang yang


sangat berjasa. Jadi aku ingin Meggie ikut untuk memberikan penjelasan pada


mereka.”


“Tentu saja. Meggie akan ikut bersama kita,”


jawab Indra tegas.


Tidak memerlukan waktu lama untuk mereka


meninggalkan rumah sakit.


Bersama dengan 2 orang polisi yang datang atas


perintah Indra. Meggie dan Ciro berada semobil dengan Indra dan Andrian


sementara anggota yang di telepon oleh Indra mengawal mereka di belakang.


“Apa kau mengenal keluarga Sioulus Meg?” tanya


Indra melihat ke arah Meggie di kursi belakang.


“Mengenal secara pribadi tidak Pak. Siapalah


saya bisa mengenal mereka secara pribadi Pak. Tapi secara umum. Keluarga


Sioulus adalah keluarga yang sangat terkenal. Kehidupan keluarga mereka selalu


menjadi pujaan dan impian para pasangan muda,” jawab Meggie pelan.


“Begitu ….”


Mereka akhirnya tidak berbicara lagi karena


tersakiti.


Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Andrian


sampai di depan lobi yang langsung terbuka dan bertanya heran.’


“Halo, apakah ada yang bisa aku bantu?” sapa


seorang wanita yang memiliki tubuh tegap.


“Kami ingin bertemu dengan Tuan Sioulus. Ada


yang perlu kami sampaikan pada beliau,” jawab Indra.


“Sayang sekali Tuan kami masih berada di


kantor. Apakah Bapak-bapak tidak bisa mengatakannya langsung?” tanya Jenny


lagi.


“Kami mohon maaf. Kalau kami boleh tahu apakah


Nyonya rumahnya ada? Dan maaf kami sedang bicara dengan siapa?”


“Aku Jenny. Orang kepercayaan keluarga ini.


Sementara Nyonya kami ….”


“Jenny … Siapa tamu yang datang?” terdengar


suara dari dalam rumah memotong ucapan Jenny.


Dan tidak berapa lama keluar seorang wanita


yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.


“Ada apa? Apakah kalian sudah menemukan Ciro


ku?” tanya wanita yang ternyata Khayrani.


“Mohon maaf Nyonya. Kami tidak tahu apakah


korban kejahatan yang kami temukan adalah anggota keluarga Nyonya atau bukan.


Kami tidak dapat memastikan karena kami tidak dapat melihat rupa putra Nyonya.”


“Lalu? Apakah kalian tidak bisa bertanya


padanya? Sudah berapa lama kalian menemukan putraku?” tanya Khay tajam dan


tidak sabaran.


“Kami mohon maaf Nyonya. Kami tidak bisa


bertanya dengannya karena dia sendiri lupa dan tidak mengenal dirinya sendiri,”


jawab Andrian.


“Apa? Apa maksud Anda Ciro ku tidak ingat apa


pun?” tanya Khay dengan wajah pucat.


“Kami mohon maaf Nyonya. Karena sampai sekarang


kami tidak bisa mengetahuinya. Dan kami hanya menduganya saja setelah mendengar


ucapan Dokter Meggie. Dokter Meggie adalah orang yang menemukannya pertama


kali,” beritahu Andrian menjelaskan.


“Lalu di mana Putraku dan juga Dokter Meggie


itu?” tanya Khay tidak sabar.


“Dokter Meggie, Anda sudah bisa keluar bersama


dengan korban,” ucap Andrian sambil membukakan pintu mobil dan keluarlah Meggie


dan Ciro.


Khay sangat terkejut dan dia langsung berlari


menuju Ciro yang berdiri mematung saat menerima pelukan dari seorang wanita.


“Siapa wanita ini? Mengapa aku merasa nyaman di


dalam pelukannya?” pertanyaan Ciro bergema di kepala nya saat Khay memeluknya


erat.


“Jenny! Cepat kau hubungi Alex! Katakan padanya


kalau Ciro sudah pulang. Katakan padanya agar segera pulang!” perintah Khay


pada Jenny dengan tegas.


“Baik Nyonya.”


Bapak-bapak dan Dokter Meggie. Bagaimana kalau


kita masuk ke dalam. Anda semua tidak keberatan bukan menunggu suami saya


pulang. Aku yakin suamiku pasti ingin bertanya secara detail,” kata Khay pada


mereka semua.


“Baik Nyonya. Kami akan menunggu beliau. Karena


bagaimana pun banyak yang harus kami sampaikan. Karena dalam minggu ini Dokter


Meggie akan pergi untuk melakukan tugasnya sebagai dokter di luar Pulau Jawa.


“Terima kasih Pak. Ayo Ciro kita masuk ke


dalam. Mom sangat rindu padamu,” kata Khay pelan dan Ciro membalas pelukannya


dan mereka beriringan masuk ke dalam ruang tamu yang sangat besar dan di tata


secara elegan dan mewah.