
#Betemu petapa tua
Gunung Junji adalah sebuah gunung besar yang berada di tengah-tengah wilayah Iblis dan Manusia. Gunung ini terkenal dengan keindahannya dan juga sebagai tempat bertapa bagi para petapa dan pendaki gunung. Gunung Junji memiliki beberapa jalur pendakian yang sangat sulit dan membahayakan, hanya petapa yang berpengalaman dan memiliki kemampuan fisik yang baik yang dapat mencapai puncak gunung ini.
Menjelang sore, sinar matahari menyinari puncak gunung yang membuat suasana gunung semakin tenang dan damai. Di sekitar puncak gunung, terdapat sebuah gua yang digunakan sebagai tempat bertapa bagi para petapa. Di dalam gua itu, Lara yang sedang berlatih bertemu dengan seorang petapa yang sangat tua yang sedang bertapa.
Suasana di gunung Junji sangat sederhana dan tenang, seolah-olah seluruh masalah dunia terasa jauh. Lara merasa sangat nyaman berada di gunung Junji, dia merasa seolah-olah dapat menemukan jawaban atas semua pertanyaannya di sana. Lara sangat terkesan dengan keindahan dan kedamaian di gunung Junji, dia merasa seolah-olah dia sedang berada di dunia lain.
Lara memutuskan untuk mendekat dan berbicara dengan petapa itu. Petapa itu membuka matanya dan tersenyum saat melihat Lara.
"Hai, gadis muda. Apa yang membawamu ke sini?" Tanya petapa itu.
"Aku sedang berlatih. Saya Lara," jawab Lara dengan hormat. "Apakah Aku bisa bertanya beberapa hal tentang sesuatu?"
"Tentu saja, adik muda. Saya bersedia menjawab pertanyaanmu," jawab petapa dengan senyum.
Lara bertanya kepada petapa tentang konsep keadilan, Petapa menjelaskan bahwa untuk mencapai keadilan sejati, seseorang harus mampu memahami dan menerima perbedaan dan melihat setiap individu sebagai sama. Petapa menceritakan pengalamannya sendiri saat bertapa di gunung dan menemukan pemahaman akan hal ini. Lara terkesan dan terinspirasi oleh cerita Petapa dan mulai memikirkan tentang bagaimana dia bisa memahami dan menerima perbedaan orang lain.
Petapa memberikan beberapa nasihat dan teknik meditasi kepada Lara untuk membantunya memahami hal tersebut dan menjadi pribadi yang lebih baik. Lara sangat berterima kasih dan mengikuti nasihat Petapa dengan sungguh-sungguh. Setelah berbicara dengan Petapa selama beberapa jam, Lara merasa lebih tenang dan memahami bahwa untuk mencapai keadilan, dia harus memulai dari dalam dirinya sendiri.
Petapa memberikan beberapa nasihat lain kepada Lara dan berpesan bahwa perjalanan untuk mencapai keadilan sejati adalah perjalanan yang panjang dan menantang, tetapi jika seseorang mau berusaha dan tidak menyerah, maka akan tercapai. Lara mengucapkan terima kasih dan berpamitan dengan Petapa dan pergi meninggalkan gunung dengan pikiran yang tenang dan terinspirasi.
#Propaganda
Lara pergi dari gunung Junji, Lara singgah di sebuah desa yang dikabarkan pemerintah dijarah Iblis. Langit biru dan matahari bersinar terik membuatnya merasa nyaman. Saat melihat keadaan desa, dia terkejut melihat desa yang tenang dan damai. Warga yang tinggal di sana terlihat sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, beberapa sedang bekerja di sawah, yang lain sedang memanen padi.
Lara berjalan menyusuri desa dan bertemu dengan seorang warga yang sedang memperbaiki jembatan. "Permisi" sapa Lara sambil tersenyum.
"ada yang bisa saya bantu?" Tanya warga itu.
"Aku hanya ingin melihat keadaan desa ini, apakah benar sering diserang oleh Iblis?" Tanya Lara.
Warga itu terlihat sedikit heran. "Tidak, kami tidak pernah mengalami serangan dari Iblis, kami hidup damai di sini."
"Mereka takut kami menjadi sasaran Iblis jika terlalu dekat dengan dunia luar. Namun kami tidak keberatan, kami memiliki sumber makan dan air yang cukup. Kami hidup sederhana dan damai disini," jelas warga itu.
Lara terkesima. Dialog dengan warga itu membuatnya berpikir, apakah pada dasarnya manusia dan Iblis memang tidak perlu berperang, kalau saja mereka saling memahami dan menghormati satu sama lain. Lara berpamitan dan melanjutkan perjalanannya. Suasana desa yang damai dan rasa syukur warga terhadap apa yang mereka miliki membekas dalam pikirannya. Lara berpikir bahwa ada yang salah tentang pemerintah yang mengisolasi desa itu dan mengatakan desa itu sering di jarah iblis padahal tidak, tapi Lara tidak tahu apa alasan dibalik semua itu.
#Iblis Baik
Lara sedang berkeliling melalui hutan, dia melihat seorang iblis sedang melindungi sekelompok manusia dari serangan iblis lain yang mengejar mereka. Lara terkejut melihat tindakan itu dan segera bergegas untuk menyelamatkan manusia tersebut.
Lara berlari ke arah iblis dan manusia itu, dia memegang pedangnya dan siap untuk melawan iblis jahat tersebut. Namun, iblis itu membuat tindakan yang tidak terduga dan membela manusia itu dari serangan iblis lain, membuat Lara terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lara kepada iblis itu.
"Aku melindungi mereka," jawab iblis itu sambil memandang Lara. "Mereka tidak bersalah dan tidak perlu terlibat dalam perang ini."
Lara memandang iblis itu dengan tatapan penuh tanya. "Ada iblis baik?"
Iblis itu tersenyum. "Tentu saja, tidak semua kita berniat jahat."
Lara membantu iblis itu untuk melindungi manusia itu dan membawanya ke desa terdekat. Saat tiba di sana, Lara berbicara dengan warga desa dan meminta mereka untuk memberikan perlindungan kepada manusia yang diselamatkannya.
"Lihatlah, bahkan iblis bisa menunjukkan kebaikan hati mereka," ucap Lara sambil memandang iblis itu dengan tatapan penuh terima kasih.
"Tidak semua orang bisa dikategorikan baik atau buruk," kata iblis itu. "Semuanya tergantung pada situasi dan keadaan."
Lara terdiam, dia tidak pernah berpikir bahwa ada iblis baik. Dialog itu membuka pandangannya dan membuat dia belajar bahwa tidak semua hal harus dikategorikan dengan hitam atau putih.
"Terima kasih sudah membantu saya dan manusia lainnya," ucap Lara sambil membungkuk.
Iblis itu tersenyum dan pergi tanpa banyak bicara. Lara menatap kepergian iblis itu dan merasa terkejut akan apa yang baru saja terjadi. Dia tidak pernah berpikir bahwa akan ada iblis baik, tapi sekarang dia tahu bahwa semuanya bisa berubah dan tidak ada yang pasti dalam hidup.