The DEMON KING'S Love

The DEMON KING'S Love
Chapter 6 : Aku dan Raja Iblis



#Pembicaraan masa lalu dunia iblis


Sebuah taman indah dengan pohon-pohon hijau dan bunga-bunga yang bermekaran adalah tempat di mana Miya dan Raja Iblis bertemu. Mereka duduk di atas sebuah batu yang membentang seperti bangku dan menikmati pemandangan yang indah. Raja Iblis memulai pembicaraan dengan menanyakan tentang masa lalu dunia iblis yang hancur karena perang saudara antara ras iblis kuat.


"Kau tahu, Miya, dunia iblis dulunya adalah tempat yang indah dan kuat. Namun, karena adanya perselisihan antara ras iblis, dunia kita hancur dan terpecah belah. Seseorang harus memimpin dan membawa dunia kita kembali ke masa kejayaannya." ujar Raja Iblis.


Miya menatap Raja Iblis dan berkata, "Tapi perang saudara hanya akan menyebabkan kehancuran lebih banyak lagi. Bagaimana jika kita bisa membicarakan masalah ini dengan cara damai?"


Raja Iblis mengangguk dan tersenyum penuh arti. "Kau memiliki ide yang baik, Miya. Namun, seseorang harus memimpin dan membawa kebijakan. Seseorang harus memegang kekuasaan untuk memastikan dunia kita kembali ke jalurnya."


Miya mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan itu. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Raja Iblis. "Apa yang kau maksudkan?" Tanya Miya dengan nada takut.


Raja Iblis berdiri dan berjalan mendekati Miya. "Aku maksudkan bahwa seseorang harus menjadi pemimpin yang kuat dan tegas, dan aku yakin itu adalah diriku. Dan aku ingin kau menjadi istriku dan membantu memimpin dunia iblis bersamaku." ujarnya dengan nada menggoda.


Miya merasa takut dan tegang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa terjebak dan tidak bisa bergerak. Raja Iblis mengulurkan tangannya dan menyuruh Miya untuk masuk ke kamarnya malam ini. Miya tidak bisa berbicara, hanya bisa mengangguk dan berjalan perlahan menuju kamar Raja Iblis.


#Momen yang tidak tepat


Miya berdiri diam-diam dalam kamar Raja Iblis, matanya terus bergerak untuk mencari jalan keluar dari situ. Dia sangat takut dan tegang, karena di sekitarnya banyak wanita iblis dan manusia yang berpakaian setengah telanjang, mereka sedang melihat Raja Iblis dan Miya. Miya merasa tidak nyaman dengan situasi ini, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena dia sendirian di sini.


Raja Iblis berdiri di depannya dan berusaha untuk mengelus kepalanya dengan lembut. "Tidak usah takut, saya tidak akan menyakitimu," katanya dengan nada yang menenangkan.


Tapi Miya tidak akan mudah terpengaruh dengan rayuan lembut Raja Iblis. "Sebelum Anda menyentuh saya, Anda harus membebaskan kakak saya," tegas Miya.


Raja Iblis terlihat terkejut dengan tegasnya Miya. "Kakakmu? Oh, dia adalah salah satu tawanan terbaikku. Saya tidak akan membebaskannya begitu saja," ujarnya.


Miya merasa tidak tahan dengan sikap Raja Iblis. "Sudahlah, tolong bebaskan dia. Aku akan melakukan apapun untuk membebaskannya," ujar Miya dengan tegas.


Miya merasa sangat lega dan bersyukur karena Leon datang tepat waktu. Dia berlari ke arah Leon dan memeluknya. "Terima kasih sudah datang, kakak," ujarnya dengan suara bergetar.


Leon memegang Miya erat. "Tidak perlu terima kasih, karena aku selalu ada untukmu," katanya dengan lembut.


Leon berdiri tegap di hadapan Raja Iblis, pedang keadilan siap digunakan jika Raja Iblis melakukan hal yang merugikan. "Apa yang sedang terjadi disini? Mengapa Miya harus menjadi istrimu?" tanya Leon dengan suara tegas.


Raja Iblis memandang Leon dengan sinis. "Miya harus menjadi istriku untuk membebaskanmu. Tapi, aku sangat ingin memilikinya, dia sangat cantik dan kuat."


Miya merasa sangat takut dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Leon, apa yang sedang terjadi? Mengapa kau bergabung dengan pihak iblis? Aku tidak mengerti!" ia meminta penjelasan.


Leon memandang kakaknya dengan sedih. "Aku harus melakukan ini demi menyelamatkanmu, adikku. Aku harus menjadi bagian dari pihak iblis karena suatu alasan. Tapi aku tidak tahu kau akan menjadi istri Raja Iblis."


Miya merasa sangat sedih dan terluka. Ia pergi dari kamar dengan air mata yang mengalir dari matanya. Raja Iblis dan Leon hanya bisa memandangi Miya yang pergi dengan tidak bisa berkata apa-apa.


Miya terus menangis di taman, merasa terluka dan takut akan masa depannya. Tiba-tiba Leon muncul dan melihatnya. Leon memulai percakapan dengan Miya dan menjelaskan alasan mengapa dia bergabung dengan pihak iblis.


"Miya, aku bergabung dengan pihak iblis bukan karena mereka memaksa atau mencuci otakku, tapi karena ini adalah keinginanku sendiri," ujar Leon.


Miya terkejut dengan penjelasan Leon, "Apa yang kau maksud dengan keinginanmu sendiri? Mengapa kau bisa memilih untuk bergabung dengan mereka?" tanya Miya dengan suara tergetar.


Namun, Leon tidak memberikan jawaban lebih lanjut mengenai alasannya bergabung ke pihak iblis. Miya merasa kesal dan kecewa karena kakaknya tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan.


"Lalu, mengapa kau tidak memberitahuku alasanmu bergabung dengan pihak iblis?" tanya Miya lagi, namun Leon hanya diam.


Miya merasa kecewa dan memutuskan untuk pergi dari taman dengan tetap menangis. Dia merasa kehilangan kakaknya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.