The Childish Husband

The Childish Husband
Dedek



Ben mengucek kedua matanya. Wajahnya masih bau bantal. Tanpa basa-basi, ia langsung menyendok nasi goreng dari piring anak kecil itu.


"Beben!" pekik Lestari. Ia sudah menyajikan yang terbaik, tapi justru dihancurkan oleh sang suami karena Ben menyendok pada bagian mata.


"Itu kan buat si dedek. Nggak boleh gitu dong," imbuhnya.


"Aku kan juga dedekmu," ucap Ben seraya menyendok lagi pada bagian mata yang satunya.


Sontak anak kecil itupun menangis hingga sesegukan, membuat Lestari tak henti menyalahkan Ben. "Ja-jahat!" ucapnya tersedu-sedu.


"Hah aha," tawa Ben pecah. Selain karena cemburu Lestari membuatkan nasi goreng karakter hanya untuk anak kecil itu, Ben juga suka usil pada anak kecil. Tangis anak kecil itu membuat qx Ben bahagia.


"Aduh, gimana dong, Beben. Si dedek nangis," ucap Lestari kebingungan. "Ututu Sayang, nanti Tante buatkan lagi, ya."


"Hu ... huu ... hikss." Anak kecil itu terus meneteskan air matanya.


"Lebay amat," cibir Beben. Bukan membantu sang istri untuk menenangkan anak kecil itu, Ben justru semakin memporak-porandakan nasi goreng berkarakter buatan sang istri.


Lestari tak henti mengomeli Ben, suaminya itu sungguh tega pada anak Bu Eni yang tak berdosa. Perempuan berbadan dua itu mendekap tubuh anak kecil yang dititipkan padanya, sesekali mengusap-usap punggungnya. Namun, tak berhasil tenang.


Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar. Lestari meminta tolong Ben untuk membukanya, tapi suaminya itu menolak mentah-mentah. Ia pun menghampiri sumber suara ketukan dengan menggendong anak kecil yang masih berderai air mata itu.


Rupanya, yang datang adalah Bu Eni. Lestari menjadi gelisah, takut diomeli tetangganya itu karena tidak becus mengurus anak.


Ceklek.


"Pagi, Bu Eni," sapa Lestari penuh basa-basi. Ia berusaha bersikap seramah mungkin.


"Aduhh, ini kenapa anak saya menangis begini, Nak Tari?" Sontak Bu Eni merebut sang anak dari dekapan Lestari. "Nggak amanah banget dititipin anak." Perempuan itu terus mengomel dengan nada selayaknya emak-emak pada umumnya.


Lestari hanya bisa terdiam. Semua memang salah dirinya, tidak pandai mengurus anak. Walau sebenarnya, ia sudah melakukan yang terbaik. Hanya saja, digagalkan oleh sang suami.


Bu Eni lantas pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Lestari menutup pintu dengan perasaan berkabut.


"Beben, kenapa kamu jahat banget sih," lirihnya saat tiba di hadapan Beben yang tengah memainkan PlayStation.


"Tega banget kamu," bubuh perempuan itu seraya duduk.


"Salah sendiri merebut kamu dari aku," ucap Ben seraya menyatukan alis. Ia membela dirinya sendiri.


Lestari hanya bisa mengelus dada. Ternyata itu penyebabnya. "Merebut apa, sih? Orang cuma satu malam."


Ben tak menjawab.


Pusing, Lestari pun memijit pelipisnya. "Oh iya, kamu nanti ke kantor Papa lagi, kan? Kerja, kan?" tenya perempuan itu mengenai kewajiban sang suami untuk mencari nafkah.


"Gampang," enteng Ben. Ia selalu mengucapkan kata yang sama, seolah tak peduli dengan kewajiban seorang suami.


"Gampang gimana?" tanya Lestari lagi, namun tak dijawab oleh sang suami.


Karena Ben memberikan penjelasan yang tidak jelas, Lestari memutuskan untuk menghubungi mertuanya, Papa Darman.


"Halo, Pa?" sapa Lestari. Walau sebenarnya tidak cukup akrab dengan mertua laki-lakinya itu, namun ia berusaha bersikap tidak canggung.


"Ya, ada apa, Tari?" balas Papa Darman yang tengah menikmati sarapan bersama Mama Rita di hadapannya.


"Nggak ada, Tar. Tapi, dia cuma telpon Papa, katanya mau kerja," papar Papa Darman sambil mengunyah makanan. "Tapi, itu nanti dulu lah, dia masih muda. Biar melakukan sesuka hati dia dulu."


Kata demi kata yang diucapkan sang mertua, membuat dada Lestari begitu sakit seperti ditusuk jarum. Ternyata seperti ini rasanya menjadi menantu orang kaya.


Memang, semua kebutuhan tercukupi. Tapi, tidak ada yang tahu ke depannya seperti apa. Lestari takut jika terus mengandalkan orang tua Ben, dan umur mereka tidak panjang. Sedangkan Ben belum bisa apa-apa. Harta sebanyak apapun akan lenyap jika tidak diatur dengan baik.


Seketika Lestari ingin mengomeli Ben habis-habisan. Tapi, hatinya terlalu sakit untuk sekedar berbicara.


Ia membelai perut buncitnya. Rasanya begitu khawatir dengan masa depan sang anak, jika memiliki ayah semalas Ben.


"Oh, begitu ya, Pa. Ya sudah, Lestari cuma tanya itu aja." Sambungan telepon itu pun berakhir.


Selesai memainkan PlayStation-nya, Ben beranjak menghampiri Lestari yang berwajah mendung. Ia tengah duduk di ruang televisi.


"Kakak sayang," sapa Ben seraya memeluk perempuannya. Walau tubuhnya lebih pendek darinya, namun tempat ternyaman adalah pada dada istrinya itu.


Lestari hanya diam. Ia hanya bisa menghela napas kecewa.


"Aku nggak ke kantor dulu, ya. Lagi pengen peluk Kakak yang banyak." Tanpa rasa dosa, Ben terus bermanja-manja di pelukan istrinya.


Lestari hanya bisa membelai kepala Ben. "Aku udah tau," lirihnya. "Ya udahlah, mau gimana lagi."


"Hehehe, maaf ya, nggak bermaksud."


Entah apa yang ada dalam benak Ben. Lestari pusing tujuh keliling. Suaminya sudah berbohong, tapi bisa-bisanya bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Ada rasa penyesalan dalam hatinya karena telah menikah dengan laki-laki seperti Ben. Tapi, apalah daya, cinta itu buta dan tuli. Ia sudah terlanjur cinta dengan Ben. Apalagi, Ben telah menodainya terlebih dahulu.


Bagaimanapun, ia harus tetap bersyukur karena Ben bersedia untuk tanggung jawab menjadi suaminya. Walaupun tidak dapat menjalankan tugas seperti suami pada umumnya.


***


Sore harinya, Ben tengah menonton Spongebob Squarepants sambil makan nasi padang. Saat sedang menikmati makanan, tiba-tiba pikirannya terlintas perempuan tinggi dengan tubuh body goals yang ia temui hari lalu.


Ia terus membayangkan lekuk tubuhnya, kulit putihnya, pun indah matanya yang ia tangkap dari kejauhan. Lama-lama, Ben senyum-senyum sendiri.


Lestari yang juga sedang makan di depannya, dipandangnya sejenak. Lalu ia bandingkan dengan perempuan yang dilihatnya kemarin. Ada banyak perbedaan dari tubuh mereka, terlebih sekarang Lestari tengah mengandung. Tubuhnya lebih berisi dari sebelumnya.


Jika sebelumnya, tubuh Lestari berisi namun menggoda, kini tubuh perempuan itu sudah seperti ibu-ibu hamil pada umumnya. Bahkan sudah bisa dikatakan gemuk karena tubuhnya yang pendek.


Sepertinya Ben merasa bosan, walau nama Lestari sudah terpahat dalam hatinya.


"Ada apa, Ben?" tanya Lestari seraya menyuapkan satu sendok nasi dengan lauk-pauk. Pandangannya lurus ke arah Ben. "Kenapa tiba-tiba senyum-senyum?"


Melihat suaminya yang cenderung cuek dan dingin itu tiba-tiba tersenyum mekar, Lestari pun heran. Ini tak seperti Ben yang biasanya.


"Nggak, nggak papa," jawab Ben seraya mengubah mimik wajah menjadi seperti sedia kala.


"Jujur, ada apa?" Lestari mulai curiga. Perempuan memang bisa jauh lebih peka.


"Ini Patrick lucu banget."