
Panggilan video itu pun berakhir karena Clara pamit untuk tidur. Ia sangat puas setelah mendengar pemaparan dari Ben tadi. Motivasinya untuk hidup adalah uang dan uang.
Ben pun turut terlelap tanpa rasa khawatir karena tidak ditemani sang istri.
Di kediaman Papa Darman, Lestari yang justru khawatir dengan Ben. Suaminya sedang apa sekarang? Apakah sudah tidur atau belum? Apakah memikirkan dirinya atau tidak?
Pikirannya begitu berkecamuk. Ia berusaha memejamkan matanya untuk tidur.
Keesokan harinya, Lestari bangun dari tidur. Ia bergegas beranjak menuju kamar mandi. Setelah itu, ia berencana untuk turun ke dapur. Rasanya ingin membantu memasak para pembantu di rumah ini.
Bukan untuk mencari perhatian dari orang-orang di rumah itu termasuk Papa Darman dan Mama Rita, melainkan untuk menghilangkan kebosanan. Pun untuk menghilangkan nama Ben dari pikirannya. Karena kalau tidak melakukan kegiatan, ia justru berpikir macam-macam tentang Ben. Meskipun bsia dipastikan bahwa semua dugaannya adalah benar.
"Nona Lestari, kenapa ke dapur? Ingin dimasakkan apa, Non?" tanya salah satu pembantu yang ada di sana.
"Saya mau masak, Bi. Ada ayam, nggak?" Bukan lancang. Tapi Lestari adalah menantu di rumah ini. Ia berhak melakukan apa saja, selagi tidak merugikan siapapun.
"Ayam? Selalu ada, Non. Mau masak apa memangnya?" tanya pembantu yang lain. "Atau kalau boleh biar saya saja yang memasak untuk Non Lestari. Nanti Non yang bagian tes rasa saja." Pembantu itu memberikan saran. Lagipula, rasanya tidak pantas membiarkan majikannya repot-repot memasak.
"Saya ingin memasak, Bi. Bisa tolong siapkan bahan-bahannya aja?" Lestari meminta tolong seraya dudik di kursi yang ada di sana.
"Siap, Non."
Mereka pun menyiapkan semuanya. Setelah semua siap, Lestari baru mulai memasak. Ia cukup percaya diri memasak di hadapan para pembantu karena ia merasa masakannya sudah cukup enak. Lagipula ia hanya masak dengan porsi sedikit untuk ia nikamati sendiri. Ataua kalau ada lebih, boleh untuk mertuanya.
Setelah masakannya jadi, ia menyiapkan di atas piring. Sebelum itu, ia meminta orang-orang di dapur untuk mencicipinya.
"Rasanya enak pisan, Non," puji salah satu pembantu.
Disusul dengan pujian- pujian dari keempat pembantu yang ada di sana. "Benar, Non. Enak banget ini."
"Iya, enak sekali."
Saat hendak menikmati hidangan ayam kecapnya di meja dapur, tiba-tiba Mama Rita datang.
"Tari, ngapain di sini?" tanya Mama Rita penuh khawatir. Ibu hamil seperti Lestari tidak seharusnya repot-repot ada di dapur.
"Ini, Ma. Masak ayam kecap. Mama mau coba?" tawar Lestari seraya menunjukkan hasil makanannya. Ia lantas menyuapkan hidangan itu ke dalam mulutny. "Mmm ... enak loh, Ma. Mau coba nggak?"
Mama Rita mendekat. "Mana coba." Ia pun mengambil garpu untuk mencicipi masakan Lestari. "Emm ... enak, Sayang. Mama mau dong." Mama Rita sangat suka dengan masakan menantunya itu. Apalagi, ayam adalah salah satu makanan kesukaannya.
"Boleh, Ma. Ayo kita makan bareng." Lestari bahagia. Ia mendapatkan kebahagiaan di rumah ini. Tekanan perihak masalah rumah tangganya sejenak menghilanh dari pikirannya.
Mereka menikmati ayam kecap sembari bersendau gurau. Tapi, mereka tidak membahas Ben sama sekali karena takut menyinggung hati Lestari. Mama Rita tidak mau membuat sang menantu kepikiran.
Perlahan kasih sayang Mama Rita yang tadinya diberikan penuh kepada Ben, kini terbagi banyak untuk Lestari. Awalnya ia iba dengan apa yang dialami Lestari, apalagi penyebabnya adalah sang anak.
Tapi, lama-lama ia menjadi senang dan bahagia saat bersama sang menantu. Mama Rita menjadi kian akrab dengan Lestari dari hari demi hari.
Tidak lama kemudian, Papa Darman pun bergabung untuk menikmati ayam kecap buatan Lestari. Tidak banyak memang, namun cukup untuk dimakan bertiga. Meski bagian Papa Darman hanya sedikit karena baru datang.
"Wah, enak ini, Tar." Papa Darman juga ketagihan. Tapi, karena belum kenyang memakan ayam kecap buatan Lestari, Papa Darman pun mengambil nasi dan lauk lain untuk dinikmati.
Sementara itu, Mama Rita memilih melanjutkan sarapannya dengan sehelai roti tawar beserta selai stroberi. Tidak lupa, ia meminta tolong pembantunya untuk dibuatkan susu putih.
Lestari tidak melanjutkan sarapan karena merasa sudah kenyang. Ia hanya minum susu untuk ibu hamil yang baru dibelinya tadi malam saat berada di mall.
Siang harinya, Mama Rita tidak pergi ke mana-mana. Ia ingin menemani Lestari, tidak ingin meninggalkan sang menantu walau satu detik saja.
"Kita nonton film yuk, Tar," ajak Mama Rita saat melihat wajah Tari kembali mendung. Ia duduk di halaman depan menikmati bebungaan dan berbagai macam tanaman.
"Ben sekarang lagi apa ya, Ma?" tanya Lestari saat menyadari kehadiran sang mertua.
Mama Rita duduk di samping Lestari. Ia menghela napas sejenak. "Kamu rindu dia, Nak?" tanya Mama Rita. Karena sebenarnya ia juga sangat merindukan Ben.
"Rindu sekali, Ma. Tapi, dia pasti nggak rindu aku," lirih Lestari dengan frustasi.
Mama Rita menyandarkan kepala Lestari di pundaknya. "Maaf ya, Sayang. Gara-gara Ben kamu jadi seperti ini. Harusnya saat hamil seperti ini kamu ditemani Ben penuh."
"Ini salah Mama karena tidak becus mendidik dia." Mama Rita justru menyalahkan dirinya sendiri. Ia baru menyadari bahwa didikannya selama ini kurang maksimal. Ia terlalu memanjakan putra semata wayangnya itu.
"Bukan, Ma. Mungkin ini sudah jalannya. Lagipula ini kesalahan Lestari karena tidak bisa menjaga kehormatan saat bersama Ben. Tari harus menjadi ibu mau tidak mau, siap tidak siap. Padahal mimpi Tari sebenarnya masih panjang sekali, Ma."
Mama Rita mendengarkan semua keluh kesah Tari. Ia tak henti memberikan dukungan kepada sang menantu.
Setelah dirasa cukup, Mama Rita izin untuk pergi ke dalam rumah megahnya. Ia beralasan ingin menghubungi temannya. Padahal sebenarnya, Ben lah yang akan ia hubungi.
Entah sudah berapa hari dirinya tidak berkomunikasi dengan Ben. Bahkan saat Lestari menginap di sini pun Ben tidak mengubunginya. Pun dirinya sengaja tidak menghubungi Ben terlebih dahulu, ia ingin memastikan apakah Ben masih peduli dengan Lestari atau tidak. Tapi, ternyata putranya itu tidak peduli.
Mama Rita mencoba menghubungi Ben, tapi tak diangkat. Berkali-kali menghubungi, tapi tak ada jawaban lagi dan lagi. "Dasar anak kurang ajar," kesalnya.
"Ada apa, Ma?" tanya Papa Darman yang melihat istrinya terlihat kesal. Ia pun menghampiri Mama Rita.