The Childish Husband

The Childish Husband
Demi Buah Hati



"Gimana tadi kerjaannya, Ben?" tanya Lestari seraya memijit pundak suaminya.


Ben sangat nyaman dengan pijitan Lestari. "Capek, tapi senang," ungkapnya. Ia mulai memejamkan mata karena terlalu menikmati pijitan sang istri. Entah senang yang dimaksud di bagian mana. Barangkali pada bagian berduaan bersama Clara.


"Syukurlah kalau senang," ucap Lestari merasa lega. Jika Ben senang, pasti suaminya itu bisa bertahan dalam menjalankan pekerjaan. Perempuan itu tidak sempat bertanya apakah teman Ben yang dimaksud Papa Darman adalah laki-laki atau perempuan.


Lestari memang hampir tidak pernah cemburu pada Ben, karena suaminya itu hampir tidak pernah membuatnya cemburu. Selama ini, Ben selalu setia padanya, tidak pernah berpaling. Ben selalu bermanja-manja pada Lestari sehingga perempuan itu tidak pernah berpikir macam-macam mengenai suaminya. Ia percaya penuh dengan kesetiaan Ben.


Setelah Ben nampak benar-benar sudah tertidur, Lestari pun menghentikan pijitannya. Sesekali ia mengusap-usap perutnya yang buncit.


Saat Lestari hendak pergi ke kamar mandi, ia melihat ponsel Ben yang tergeletak di atas nakas. Layarnya berkedip-kedip, pertanda ada telepon yang masuk. Rasa penasaran Lestari muncul seketika. Namun, karena terlanjur kebelet buang air seni, ia pun mengabaikan ponsel sang suami itu.


Lagipula, mungkin yang menelepon adalah teman Ben. Hanya membuang-buang waktu jika ditanggapi. Pasti tujuan menghubungi Ben adalah untuk mengajak pergi main bareng. Jadi, lebih baik Lestari mengabaikan telepon itu saja.


Usai kembali dari kamar mandi, ia pun merebahkan tubuhnya di samping Ben. Ia memandangi wajah suaminya itu dengan seulas senyum. Lestari sangat bangga pada Ben yang biasanya bersikap kekanak-kanakan, akhirnya kini perlahan mau melakukan tanggung jawabnya untuk mencari nafkah.


Lestari membelai rambut Ben perlahan, hingga ia pun ketiduran.


***


Sudah beberapa hari Ben menyenangkan hati sang istri karena rajin berangkat kerja. Lestari senang bukan kepalang. Ia juga sering mengucap syukur. Pun berbicara dengan janin yang ada dalam perutnya.


"Ibu di rumah sendirian nih, Sayang. Biasanya ada Ayah kamu. Tapi, sekarang Ayah udah kerja." Lestari terus mengajak berbicara buah hatinya yang masih ada di dalam perut. Ia memilih dipanggil Ibu oleh sang anak kelak, karena ibu adalah segalanya. Ia ingin menjadi segala-galanya bagi sang anak kelak.


"Sebenarnya Ibu kesepian. Tapi, nggak apa-apa, yang penting Ayah mau kerja. Sekarang Ibu ditemani kamu, ya," lanjutnya seraya mengelus-elus perut buncitnya. Kini ka berada di ruang tamu. Ada beberapa camilan yang tersaji di atas meja.


Saat tengah asyik berbicara dengan bayi dalam perutnya, tiba-tiba terdengar dering suara bel, pertanda ada tamu yang datang untuk bertandang. Perempuan itu bergegas membukakan pintu.


"Bu Eni? Ada apa Bu, kenapa menangis?" Lestari lantas menghujani tetangganya itu dengan pertanyaan-pertanyaan lantara Bu Eni datang dengan keadaan tak karuan.


Air matanya mengalir deras, mimik wajahnya tak mengenakan. Sudah pasti suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Songak Lestari langsung memeluk tubuh Bu Eni walah tetangganya itu belum menjawab pertanyaan Lestari. Tanpa berkata apa-apa, ia tahu bahwa Bu Eni sedang memiliki masalah yang berat.


Walau tak jarang Bu Eni bersikap seolah memusuhinya, sering mengomel, dan pernah menyalahkan Lestari karena tidak becus dalam merawat anaknya yang Dititipkan semalaman dengan Lestari dan Ben. Namun, Lestari tetap iba melihat Bu Eni dalam kondisi seperti ini.


Ia merengkuh erat-erat tubuh tetangganya itu. "Menangis yang banyak nggak apa-apa, Bu. Biar lega," ucap Lestari berusaha menenangkan Bu Eni. Ia mengusap-usap punggungnya. "Nanti kalau udah lega, baru cerita, ya. Biar makin lega," imbuh perempuan itu.


"Ini, Bu. Pakai tissu," ucap Lestari.


"Ma-makasih, ya, Nak Tari," sahut Bu Tari masih dengan terbata-bata. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya terkejut bukan kepalang.


"Iya, Bu. Kalau sudah siap cerita, cerita aja ya, Bu." Lestari tak henti mengarahkan pandangannya pada wajah sayu Bu Eni. Sesekali ia mengusap-usap pundak Bu Eni untuk sekedar menguatkan.


"Iya, Nak. Mungkin memang semua salah saya," ucapnya kembali menititkkan air mata. Wanita memang seperti itu. Ia merasa dirinya begitu tegar, tapi saat menjelaskan masalahnya, tidak dapat membendung air mata.


"Memangnya salah kenapa, Bu? Ada apa sebenarnya?" tanya Lestari pelan-pelan.


"Suami saya selingkuh, Nak. Katanya gara-gara saya sering marah-marah." Air matanya kembali bercucuran. Lestari kembali memberinya tissu, sesekali secara langsung membasuh air mata Bu Eni dengan tissu yang dipegangnya.


Sejujurnya, hati Lestari juga ikut geram saat mendengar kata selingkuh seperti yang diungkapkan Bu Eni. Tapi, perempuan itu lebih memilih diam sejenak. Ia tidak akan memaksa tetangganya itu untuk langsung bercerita. Ia membiarkan Bu Eni bercerita sesuka hatinya.


"Saya emang sering marah-marah. Saya suka marah-marah, dengan siapa saja. Dengan Nak Tari pun saya sering marah. Tapi, itu tanda saya sayang sama kalian semua." Bu Eni tak henti menjatuhkan air matanya hingga sesegukan. "Tapi, kenapa suami saya sendiri tidak terima. Kenapa seperti tak terima pemberian kasih sayang dari saya?"


Lestari terus mengusap-usap pundak Bu Eni. Raut wajahnya juga kini turut mendung setelah mendengar curahan hati tetangganya itu. Hatinya juga ikut sesak. Sebagai sesama perempuan, ia paham betul apa yang dirasakan Bu Eni.


"Saya juga sudah jelek banget, ya, Nak? Tapi, saya juga pernah cantik dulu pas masih muda," ungkap Bu Eni. Tangisannya mulai terhenti.


"Bi Eni masih cantik, tubuhnya masih bagus. Pandai merawat rumah, merawat anak juga. Bahkan merawat suami Ibu. Kalau suami Ibu selingkuh, berarti masalah sebenarnya terletak pada dia, Bu. Saya lihat Bu Eni sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga, kok." Lestari memberikan dukungan mental agar Bu Eni kuat menghadapi masalahnya yang tak mudah ini.


Setelah dirasa cukup lebih baik, Lestari pun pergi ke dapur untuk membuatkan Bu Eni secangkir teh hangat.


Mendengar permasalahan Bu Eni, Lestari menjadi khawatir dengan suaminya sendiri. Ben sudha mulai sibuk bekerja akhir-akhir ini. Itu berarti bertemu banyak perempuan di luar sana. Seketika ia menjadi turut berpikiran ke mana-mana. Takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


Ia pun kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh, kemudian disuguhkan pada tetangganya itu.


"Terima kasih ya, Nak Tari. Maafkan kalau saya sering marah-marah sama Nak Tari. Suaminya dijaga ya, Nak. Jangan sampai kamu merasakan apa yang saya rasakan." Bu Eni memberikan pesan pada Lestari.


Pandangan Lestari kini seolah kosong entah ke mana. Pikirannya juga menjadi jauh mengembara. Tapi, seketika ia buang. Ia tidak boleh berpikir macam-macam, demi kesehatan buah hatinya.