The Childish Husband

The Childish Husband
Mimpi Panjang



Ben tak bergerak. Mimpi dalam tidurnya masih panjang. Walau selimut tebal tidak menutupi tubuhnya, tapi ia tidak kedinginan karena AC di kamar itu diatur suhu sedang.


"Beben, bangun!" Lestari masih terus mencoba membangunkan sang suami. "Kamu harus ketemu Papa buat minta pekerjaan." Perempuan itu terus mengguncang tubuh Ben.


Ben pun menggeliat seraya menguap. Kedua netranya mulai terbuka beberapa detik setelahnya. Tanpa menanggapi ucapan sang istri, laki-laki itu lantas meraih ponsel untuk kemudian membuka youtube.


Pada aplikasi itu, ia mulai menonton Spongebob Squarepants. Ponselnya diatur landscape agar lebih nyaman.


"Hei!" tegur Lestari. "Kamu dengerin aku nggak, sih?" Tatapannya fokus tertuju pada wajah sang suami.


"Denger," jawab Ben singkat dengan suara yang masih serak.


"Ya udah sana siap-siap terus ke kantor Papa," pintanya. Ben harus berubah. Dan Lestari akan berjuang sekuat tenaga agar Ben mau berubah menjadi sosok yang lebih dewasa.


Ben masih asyik menonton kartun yang tinggal di dasar laut itu. Sama sekali tak menggubris perkataan sang istri.


Kesal, Lestari pun merebut ponsel Ben. "Ayo mandi dulu, cepat!" perintah Lestari dengan nada yang serius.


"Nantii!" Ben bangkit dari kasur, hendak merebut ponsel yang kini dipegang Lestari sambil berdiri. "Mau nonton dulu," imbuhnya.


Ben yang sudah berusia 20 tahun, tidak ada bedanya dengan Ben 15 tahun lalu. Masih suka menonton kartun-kartun yang menurutnya lucu.


Lestari terus menahan ponsel itu dalam genggamannya. Ia terus memaksa sang suami agar menuruti perintahnya. "Kemarin janjinya apa? Bakal nurut kan?"


Ben menggaruk-garuk kepalanya, sesekali juga menguap. Namun tak mengurangi ketampanan yang terpancar dari wajahnya. "Ya udah, handuk di mana?" Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari kain warna putih itu.


"Udah aku siapin di kamar mandi, sana cepetan," ucap Lestari penuh wibawa.


Setelah tubuh Ben hilang dari pandangan, ia membuka isi ponsel sang suami yang masih ada dalam genggamannya. Sebagai seorang istri, tidak ada salahnya memeriksa ponsel suaminya itu walau ia tahu Ben tidak mungkin bertindak macam-macam.


Ia juga tergolong jarang memeriksa ponsel Ben karena cukup sulit merebut benda pipih itu dari dekapan sang suami. Ben sudah kecanduan ponsel, sangat sulit lepas dengan benda pipih yang kebanyakan digunakannya untuk bermain game online dan menonton youtube.


Lestari membuka galeri, tidak ada satupun foto manusia di sana. Yang ada hanya gambar-gambar kartun dan figure kesukaannya. Ada juga gambar tangkap layar yang menunjukkan hasil kemenangannya dalam bermain game online.


Sadar tidak ada foto dirinya dalam ponsel itu, ia pun lantas berpose untuk selfie. Cekrek 1, cekrek 2, cekrek 3. Hingga pada jepretan ke 10, Lestari menyudahi posenya.


Perempuan itu juga membuka aplikasi hijau pada ponsel sang suami, tidak ada pesan baru dari siapa-siapa. Yang ada hanya riwayat pesan dan panggilan dari Lestari, kedua orang tua, dan dua teman laki-laki Ben.


Selanjutnya, ia membuka aplikasi youtube. Di halaman awal, terlihat ada beragam konten. Mulai dari cara merakit gundam, beberapa kartun favoritnya, juga video game. Sementara itu, dalam riwayat pencarian, terlihat keyword 'Cara menyenangkan hati cewek'


Melihat pemandangan itu, Lestari langsung senyum-senyum sendiri. Siapa lagi cewek yang dimaksud Ben kalau tidak dirinya?


Ia bergegas menyiapkan baju untuk Ben. Sementara itu, Ben nampak sedang mengeringkan rambut dengan handuk yang lain.


"Berhubung kamu mau ke kantor, jadi pakaiannya formal, ya," saran Lestari.


"Nggak. Pakai outfit kaya biasanya aja," tolak Ben. Ia merasa bahwa kantor yang ia tuju hanyalah kantor sang ayah. Tidak perlu menuruti aturan untuk berpenampilan formal. Lagipula, orang-orang di sana sudah pasti mengetahui dirinya.


"Yang bener aja kamu. Masa ke kantor pakai kaos, nggak sopan namanya." Lestari menarik celana kerja dan kemeja berwarna cream. Ia berpikir baju itu akan sangat cocok jika dipakai sang suami yang berparas tampan dan berkulit bening itu.


Tapi, Ben terus menolak. Ia merengek layaknya anak kecil. Lagi-lagi, untuk ke sekian kalinya, Lestari mengalah. Ia pun mengaminkan permintaan suaminya. Seperti biasa, Ben memilih mengenakan celana pendek, kaos, dan membubuhkan topi di atas kepalanya. Tidak lupa dengan jam tangan branded yang dikaitkan pada tangan kirinya.


Setelah semuanya siap, Ben pamit pergi. Lestari mengantar sang suami hingga depan.


"Hati-hati, ya. Good luck, semangat." Perempuan itu memberikan dukungan penuh pada sang suami. Tak lupa, ia mencium punggung tangan Ben walau suaminya itu sempat menolak.


Ben merasa aneh saat punggung tangannya dicium oleh sang istri. Hal yang hampir tak pernah dilakukan Lestari sebelumnya. Lagipula, keluarga Ben tidak membiasakan mencium punggung tangan dengan orang tersayang saat hendak pergi ataupun tiba di rumah.


Lestari menunggu hingga mobil Ben hilang dari pandangan. Setelah itu, ia melihat-lihat tanamannya yang ada di halaman depan. Ia memeriksa apakah ada yang kering atau tidak. Sesekali ia harus berjongkok walau mulai kesulitan karena perutnya yang buncit.


Tiba-tiba ada salah satu tetangganya yang menyapa, kemudian menghampiri Lestari.


"Ada apa ya, Bu?" tanya Lestari penuh santun. Sejenak ia menghentikan kegiatannya.


"Jadi, gini, Nak Tari. Sebenarnya Ibu lagi kesusahan. Anak Ibu sudah 3 hari di rumah sakit, dan biayanya banyak," ucap Ibu itu dengan wajah yang memelas.


Lestari merasa iba usai menyimak perkataan ibu itu. Tapi, ia juga jadi berpikir bahwa ibu itu memiliki maksud lain. Ia pun mengangguk agar ibu itu meneruskan ceritanya.


"Jadi, niat saya mau pinjam uang sama kamu, tidak banyak, Nak. Lima juta saja," ucap ibu itu enteng, dengan wajah yang dipaksa sedih.


Lestari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa ibu itu mau meminjam uang padanya? Sementara sang suami adalah pengangguran belaka. Ia tidak punya pemasukan selain dari pemberian mertuanya.


"Nak Lestari kan kaya, ya. Mertuanya juga kaya. Pasti uang segitu mah nggak ada apa-apanya. Iya, kan?"


Lestari tidak dapat membendung kekesalannya. "Aduh, Bu. Maaf, bukannya pelit. Tapi, saya juga butuh banyak biaya buat kehamilan dan persalinan saya nanti. Yang kaya itu hanya mertua saya, Bu. Bukan saya."


"Lagipula suami saya belum bekerja, Bu. Jadi, sekali lagi maaf, saya tidak bisa." Lestari mengucapkan kalimat itu dengan begitu hati-hati.


Ibu itu pun mengeluarkan kata umpatan. "Dasar pelit, bilang aja pelit," ucapnya berkali-kali seraya melangkahkan kaki untuk pergi.


Di tempat lain, Ben sudah tiba di suatu tempat. Bukan di kantor sang ayah, tapi ia justru memarkirkan mobilnya di sebuah mall yang tak jauh dari rumahnya.