The Childish Husband

The Childish Husband
Wanita Lain



Saat sedang asyik-asyiknya bermesraan. Tiba-tiba ada seseorang yang datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Seseorang itu datang dengan tatapan yang tajam, mengarah pada Ben dan Clara.


Seseorang itu adalah Papa Darman. "Ben!" tegurnya mengingatkan. Seolah menyadarkan putranya itu bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Ben memiliki istri yang selalu menantinya di rumah.


Mereka pun kembali ke posisi yang benar. Tidak lagi saling berangkulan.


"Ada apa, Pa?" tanya Ben seolah dengan perasaan tanpa bersalah.


"Kamu punya Lestari, ngapain rangkul-rangkulan dengan wanita lain seperti ini." Papa Darman menegaskan. Ungkapannya itu membuat Clara kebingungan. Pandangan perempuan itu beralih dari Ben menuju Papa Darman selama beberapa kali. Ia benar-benar terkejut mendengar ungkapan bosnya itu.


"Dan kamu Clara, kenapa tidak menjawab telepon saya. Dan justru bermesraan dengan suami orang seperti tadi?" ucap Papa Darman penuh penegasan.


Kerongkongan Clara seolah kering seketika. Ia begitu berat untuk mengeluarkan kata-kata. "Is-istri? Jadi kamu udah punya istri, Ben?" tanya Clara dengan mulai berkaca-kaca.


Ben tak menjawab. Ia hanya diam seribu bahasa, menunggu Papa Darman keluar untuk kemudian menjelaskan semuanya pada Clara.


Tak lama kemudian, Papa Darman beranjak pergi. Ia beralih ke ruangan yang lain, namun bukan pada ruangannya.


"Ben, jadi kamu udah punya istri?" tanya Clara dengan volume yang begitu pelan. Rasanya ia tidak kuasa untuk berkata-kata.


Perempuan itu memang selalu matrealistis dalam memilih laki-laki. Tapi, ia belum pernah merebut suami orang seperti ini. Di sisi lain, rasa sayang dan nyaman pada Ben, membuat Clara enggan melepaskan Ben begitu saja.


Ben mengangguk. "Ya, begitulah," ucapnya dengan santai. Ia kembali ingin memegang tangan Clara.


Namun, perempuan itu menolaknya. Ia harus mendengar penjelasan dari Ben sedetail-detailnya. "Tapi kamu bilang kamu nggak punya pacar kan, Ben? Iya, kan?" tanya Clara yang mulai meneteskan air matanya.


Ben pun kembali memeluk perempuan di depannya itu. "It's okay. Aku emang nggak punya pacar, tapi aku ada istri yang lagi hamil."


Mendengar penuturan Ben yang ternyata istrinya sedang hamil, membuat Clara seolah ditampar kenyataan. "Aku nggak bisa melanjutkan ini, Ben. Aku takut disebut pelakor," kata Clara. Walaupun tanpa ada yang menyebut dirinya adalah perebut lelaki orang, tapi apa yang ia lakukan selama ini bersama Ben adalah sudah merebut lelaki orang.


"Hei, dengar aku. Kita akan bersama-sama. Aku sudah jatuh cinta denganmu," ungkap Ben semakin membuat Clara kebingungan. Entah apa yang laki-laki itu inginkan.


"Apa maksudnya bersama-sama, Ben? Kamu sudah ada istri, hubungan kita pasti berakhir cepat atau lambat," lirih Clara. Ia mencoba melepaskan pelukan itu, namun Ben menahannya.


"Aku yakin istriku akan keguguran karena sehari-hari ia mengurus rumah sendiri. Ia pasti akan kecapekan lalu keguguran." Ben memaparkan. "Setelah keguguran, nanti kita menikah," ucap Ben sudah dibutakan oleh cinta barunya. Padahal ia belum lama kenal dengan Clara.


"Janji?"


"Janji."


Akhirnya Clara pun melanjutkan kemesraan mereka. Ia bersedia meneruskan hubungannya dengan Ben walau laki-laki itu sudah beristri.


Hatinya yang sempat tak karuan setelah mendengar pernyataan Papa Darman bahwa Ben sudah beristri, kini mulai reda karena Ben berhasil meyakinkannya.


***


Di sebuah mall, Papa Darman tengah menemani sang istri dan menantunya untuk berbelanja. Mama Rita akhirnya berhasil membujuk Lestari untuk membeli apa saja yang menantunya suka.


Lestari dan Mama Rita berjalan lebih dulu di depan Papa Darman. Sementara itu, pandangan Papa Darman nampak kosong, entah apa yang kini sedang berkerumun dalam kepalanya.


"Papa, ini cocok banget buat Mama, kan?" tanya Lestari memastikan agar Mama Rita percaya diri karena memang masih pantas menggunakan baju untuk anak muda itu.


Tapi, Papa Darman tidak merespon. Laki-laki itu masih bergelut dengan pikirannya yang kalut. Rupanya kini pikirannya tertuju pada anak semata wayangnya. Anaknya itu telah mengkhianati Lestari yang sebaik dan setulus ini.


Ia menjadi merasa bersalah karena selama ini cenderung mendiidk Ben dengan begitu manja. Hingga tidak memedulikan perasaan orang lain seperti ini, bahkan dengan perasaan istrinya sendiri pun ia tidak peduli.


"Papa?" panggil Lestari yang menyadari kalau sang mertua sedang tidak baik-baik saja. "Papa kenapa?" tanya Lestari pelan. Sementara itu, Mama Rita sudah asyik memilihkan baju untuk sang menantu.


"Eh, Papa baik-baik saja, Tari. Kamu pilih-pilih baju sama Mama dulu, ya. Papa mau beli minuman." Papa Darman pamit, Lestari mengiyakan begitu saja. Ia lantas menyusul Mama Rita.


Saat sedang memilih-milih pakaian, tiba-tiba Lestari seperti melihat laki-laki yang sangat ia kenal. Laki-laki itu seperti suaminya, outfit-nya juga serupa. Tapi, ia hanya diam saja, tak mengatakaan apa-apa pada Mama Rita.


Mama Rita yang peka pun turut mengarahkan pandangannya pada objek yang sedang dipandang Lestari. Hati Mama Rita berdegup karena ia melihat jelas anak semata wayangnya yang sudah beristri, kini jalan-jalan dengan perempuan lain.


Sontak Mama Rita mengajak Lestari untuk pergi dari sana. Kini ia sedang hamil, tidak boleh berpikir terlalu keras. "Kita nyusul Papa aja, yuk. Kita minum dulu," ajak Mama Rita seraya menarik pelan lengan Lestari.


Lestari menelan salivanya. Dalam kepalanya masih terbayang-bayang Ben yang tengah menggandeng wanita lain.


Hari sudah malam, mereka pun pulang. Di dalam mobil, pandangan Lestari ke arah luar jendela. Batinnya kembali tak karuan. Rasanya sudah tidak ingin bertemu Ben lagi, walaupun memang belum pasti yang tadi dilihatnya adalah Ben atau bukan.


Mama Rita terus memperhatikan gerak-gerik dan wajah Lestari. Ia yakin Lestari kini sedang tidak baik-baik saja.


"Tari, mau nginap di rumah Mama dulu, nggak?" tawar Mama Rita. Ia mengerti betul apa yang dirasakan Lestari. Dulu, Papa Darman juga sempat kepincut perempuan lain. Tapi untungnya, laki-laki itu akhirnya bisa kembali dalam pelukannya hingga saat ini.


Tari bengong sejenak, kemudian mengiyakan tawaran Mama Rita setelah diyakinkan oleh Papa Darman juga. "Iya, Ma. Tari mau, kok."


"Makasih ya, Ma. Tari sayang banget sama Mama," ungkapnya seraya bersandar di pundak sang mertua yang duduk di sebelahnya.


"Mama juga sayang sekali sama Tari. Ya, Pa?" Mama Rita memberi kode pada suaminya agar turut mengungkapkan rasa sayang dan pedulinya oada Lestari. Itu dilakukan agar sang menantu tidak merasa sendirian lagi.


Mereka pun tiba di rumah yang begitu besar dan megah. Lestari mengedarkan pandangannya. Ia merasa tempat ini terlalu megah untuknya. Mama Rita mengarahkan Lestari untuk naik ke lantai dua. Kamarnya berada di sana.