
"Sehat semuanya, Bu. Bayinya sehat, ibunya juga sama," tutur dokter itu melegakan hati Lestari dan Mama Rita. Sementara itu, Papa Darman menunggu di luar ruangan.
Setelah diperiksa semuanya, mereka pun beranjak ke luar ruangan. Tidak disangka-sangka, ternyata di sebelah Papa Darman yang tengah duduk, ada Ben. Suaminya yang telah lama tak dijumpainya.
Lestari pun bingung. Dalam hati ia rindu sekali dengan suaminya itu. Namun, di sisi lain, ia tahu bahwa hati Ben sudah tidak untuknya lagi, melainkan untuk perempuan lain.
Ben dan Lestari saling bertatapan. Tapi, tidak ada sepatah katapun yang mereka keluarkan. Papa Darman memberi kode pada Mama Rita untuk pergi dari sana. Ia ingin memberi ruang pada Ben dan Lestari untuk menyelesaikan masalahnya.
"Ma, ayo," bisik Papa Darman, awalnya tidak dapat ditangkap oleh Mama Rita. Tapi, kemudian dapat dipahaminya.
"Kak?" sapa Ben seraya mendekat pada perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya itu.
Lestari hanya bisa terdiam. Air matanya sudah ingin jatuh, namun berhasil ia tahan. Mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil.
"Sorry ya, Kak," ucap Ben. Hanya itu kata-kata yang dikeluarkan. Membuat Lestari bertanya-tanya apa maksudnya.
"Untuk?" tanya Lestari. Ia tidak tahu Ben meminta maaf untuk apa. Entah untuk izin menceraikan dirinya, memoligami dirinya, atau justru berniat berbalik hati padanya. Tapi tidak, Lestari lekas menepis dugaan yang terakhir itu pikirannya. Ia tidak boleh ketergantungan dengan Ben. Ia harus bangkit. Apapun yang terjadi, ia harus kuat.
"Untuk semua yang telah aku lakukan sama kamu," tutur Ben. Tangan kanannya hendak meraih tangan kiri Lestari. Namun, dicegah oleh perempuan itu. Ia tidak mau disentuh oleh Ben.
"Udah aku maafkan, kok," ucap Lestari berusaha ikhlas. "Hp kamu bunyi tuh, ada yang telepon." Lestari melihat ponsel Ben tengah dihubungi oleh perempuan bernama Clara.
Kini Lestari tahu, jadi nama perempuan itu adalah Clara. Ia tak lagi bisa membendung air matanya. Langkahnya dipercepat saat Ben menghentikan langkah karena memeriksa ponsel.
Lestari menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rasanya begitu menyakitkan. Untuk apa Ben meminta maaf jika setelahnya kembali melakukan kesalahan?
Tiba di mobil Papa Darman, Lestari memeluk erat tubuh Mama Rita. Ia menangis sejadi-jadinya di sana.
Di sisi lain, Ben sedang mengangkat telepon dari Clara. "Kenapa?" tanya Ben dengan ketus.
"Kamu ke mana? Aku kangen," ucap Clara dengan nada yang manja. Ia tidak mengetahui jika sebenarnya Ben sudah mulai bosa padanya.
"Kita putus. Lupakan aku, lupakan semua tentang kita. Aku pergi." Hanya itu yang diucapkan oleh Ben. Ia lantas memblokir nomor Clara. Ia juga berencana untuk mengganti nomor agar Clara tidak lagi bisa menghubunginya.
Ben lantas bergegas mengejar Lestari. Namun, tak berhasil karena mobil Papa Darman sudah melaju sejak dua menit yang lalu.
Laki-laki itu mengacak pinggang. Ia berdecak kesal. Kenapa saat ia ingin mengembalikan hubungannya dengan Lestari seperti semula, Clara justru menggagalkan semuanya.
Ia jadi khawatir jika Lestari tidak mau bertemu dengannya. Tapi, ia lantas menepis pikiran itu karena Ben sudah mengetahui Lestari selama ini tinggal di rumah orang tuanya. Ben pun melaju dengan mobilnya menuju kediaman Papa Darman.
Di tempat lain, Clara nampak begitu frustasi karena nomornya diblok oleh Ben. Ia menggunakan nomor lain untuk mencoba menghubungi Ben. Namun, hasilnya nihil.
Air matanya mulai berjatuhan tak dapat dibendung. "Sialan! Ben jahat!" teriaknya di tepi jalan. Kedua sepatu high heels-nya ditenteng dengan tangan kiri. Make up-nya sudah luntur. Clara benar-benar tertekan. "Awas aja kamu, Ben!"
***
Baru ia sadari, bahwa cinta sejatinya adalah Lestari. Sementara Clara, hanya sekedar tertarik sepintas saja. Lama-lama ia bosan menjalin hubungan dengan Clara.
"Sayang?" panggil Ben pada Lestari yang tengah makan malam bersama Papa Darman dan Mama Rita.
Tapi, Lestari tak menoleh sedikitpun. Ia asyik menikmati makan malamnya.
Tidak sabar, Ben lantas duduk tepat di samping Lestari. Ia memegang tangan perempuan sahnya itu. "Lestari sayang?" panggilnya dengan sebutan sayang. Tidak seperti sebelumnya yang lebih nyaman memanggil Lestari dengan sebutan kak.
"Apa, Ben?" lirih Lestari.
"Maafkan aku. Aku khilaf kemarin. Aku ingin kembali seperti semula. Kita satu rumah, saling sayang." Ben mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam. Wajahnya nampak begitu serius.
Lestari menelan salivanya. Apa yang diucapkan Ben sungguh-sungguh? Kalau iya, ini memang momen yang paling ia tunggu-tunggu. Hatinya selalu terbuka untuk Ben. Dengan catatan, mau meninggalkan Clara.
"Tapi, perempuan itu, Clara bagaimana?" tanya Lestari. Ia tidak mau jika harus dimadu. Lebih baik mengurus dirinya sendiri dengan bayinya nanti. Daripada harus berbagi hati kepada wanita lain.
"Aku sudah ninggalin dia. Aku cuma benar-benar khilaf kemarin, Sayang. Sekarang kita mulai semuanya dari awal lagi, ya." Ben menuturkan permintaannya. Berharap besar agar Lestari mau membuka hati.
"Selagi dalam rumah tangga ini hanya ada aku dan kamu, aku mau," balas Lestari. "Tapi, kalau ada wanita lain. Sorry, Ben. Aku lebih baik sendiri." Lagipula, wanita mana yang mau untuk dimadu.
Papa Darman yang sedari tadi hanya diam, kini mulai angkat bicara. "Dengar, Ben. Tari telah memberimu kesempatan. Jangan kamu sia-siakan lagi," pesan Papa Darman.
"Pasti, Pa. Aku kemarin benar-benar khilaf. Sekarang sudah sadar." Ben berkali-kali meyakinkan semua orang bahwa sekarang ia sudah kembali ke jalan yang benar.
"Papa dan Mama dulu juga pernah seperti kalian. Tapi kalau jodoh, ya seperti ini, balik lagi," kata Mama Rita. Ia memang pernah melewati masa-masa seperti apa yang dialami Tari.
Ben pun memeluk Lestari yang ada di sampingnya. Lestari memberikan balasan dengan meletakkan kepalanya di pundak Ben. Pun tangannya merangkul tubuh Ben.
***
Beberapa bulan berlalu. Ben dan Lestari kian romantis setiap hari. Terlebih, kini usia kandungan Lestari sudah di angka sembilan bulan.
Ia begitu bersyukur karena ternyata Ben juga bisa bersikap dewasa. Setelah kejadian waktu itu, Ben menjadi lebih perhatian kepada Tari. Tidak begitu kekanak-kanakan seperti awal-awal pernikahan.
Hari ini, mereka akan terbang menuju Singapura. Lestari akan melahirkan di salah satu rumah sakit yang ada di sana. Ben akan selalu menemaninya. Ia juga ingin melihat sang buah hati pertama kali melihat dunia.
"Pa, Ma. Kami berangkat dulu, ya," pamit Ben pada Papa Darman dan Mama Rita. Orang tuanya itu mengantar mereka hingga bandara.
Setelah cukup lama menunggu jadwal penerbangan, Lestari dan Ben akhirnya terbang ke Singapura.
Selang tiga hari setelah keberadaannya di Singapura, Lestari akhirnya melahirkan seorang putra. Wajahnya begitu mirip dengan Ben. Tapi, pipinya yang chubby sangat mirip dengan Lestari. Bayi itu diberi nama Divo Brian Bumantara.
-TAMAT-