The Childish Husband

The Childish Husband
Terlalu Ambisius



Laki-laki paruh baya itu memang selalu mengatakan hal itu kepada Ben. Bukan tanpa alasan, tapi Papa Darman telah kehilangan masa mudanya karena terlalu ambisius dalam bekerja. Karena pengalaman itulah, ia selalu meminta Ben untuk menikmati masa mudanya.


"Tapi aku kan udah punya istri, Pa. Bentar lagi juga punya anak," ucap Ben dengan nada cukup serius.


Papa Darman membetulkan kaca matanya. "Kamu yakin? Masa mudamu nggak akan bisa diputar lagi, Ben."


"Iya, tau. Tapi aku udah bosan main-main terus, Pa." Ben yang tadinya duduk, kini berdiri. Ia mendekatkan dirinya pada sang ayah agar bisa melihat layar laptop itu.


Ia mencoba memahami apa yang dikerjakan Papa Darman. Tapi, sepertinya nihil, karena ia tidak paham apa-apa.


"Kamu ngerti?" tanya Papa Darman pada Ben yang terlihat begitu serius memahami isi layar laptopnya.


Ben melipat kedua tangannya. Ia masih berusaha memahaminya, namun apa daya, laki-laki itu tidak pernah belajar sungguh-sungguh. Kalau bukan karena sekolah di sekolah internasional, ia juga tidak akan bisa bahasa Inggris.


Ia kemudian menggeleng. "Enggak," jawabnya. "Aku coba lihat yang lain dulu deh, Pa." Ben izin untuk melihat pekerjaan karyawan yang lain.


Laki-laki muda itu bergegas menuju ruangan yang lain. Kantor ini memang menyatu dengan hotelnya agar lebih mudah mengelolanya.


Tiba-tiba mata Ben terbelalak saat melihat seorang perempuan tengah membawa berkas-berkas ke sebuah ruangan. Ben dapat mengenali bahwa perempuan itu adalah perempuan yang dilihatnya hari lalu saat di parkiran mall.


Ia mematung sejenak. Rasa penasarannya kian bergejolak. Ia pun menunggu perempuan itu hingga keluar dari ruangan.


"Hei?" celetuk Ben, menyapa perempuan yang bahkan tak dikenalnya. Tidak seperti biasanya, Ben begitu mudahnya berkenalan dengan perempuan.


Jika diingat, saat ia ingin berkenalan dengan Lestari, laki-laki itu bahkan membutuhkan waktu dua bulan hingga akhirnya memberanikan diri berbicara dengan perempuan yang kini sudah menjadi istrinya itu.


"Saya?" tanya perempuan itu seraya menunjuk dirinya sendiri. Semua orang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hanya ada Ben dan dirinya di sana.


"Iya." Jantung Ben mendadak berdetak kencang. "Na-nama kamu siapa?" Wajah cool yang biasanya terpampang pada wajah Ben, kini seolah hilang termakan rasa gugup.


"Saya Clara, akuntan di sini. Ada yang bisa saya bantu?" tanya perempuan yang ternyata bernama Clara itu dengan penuh santun. Ia tidak mengetahui bahwa laki-laki yang kini diajaknya berbicara adalah anak dari bosnya.


"Ng-nggak ada. Saya cuma ingin kenalan sama kamu." Ben masih gugup, ia mengeluarkan kata-kata dari bibirnya dengan seadanya. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Oh, saya? Ada apa memangnya?" Clara sedikit ragu, untuk apa ada pemuda yang ingin berkenalan dengan dirinya. "Boleh duduk dulu di sini," ajak perempuan bertubuh seperti gitar Spanyol itu.


Ia menganggap Ben adalah tamu yang harus dilayani dengan baik. Ben mengiyakan. Mereka lantas duduk di atas sofa yang tersedia di luar ruangan.


"Kalau boleh tahu, untuk apa ingin berkenalan dengan saya, ya?" Clara tak henti penasaran.


"Pengen aja," jawab Ben singkat. Bibirnya mendadak tak bisa bergerak. Mulutnya tak dapat mengeluarkan suara karena begitu gugupnya.


"Oh seperti itu. Kalau ingin bertemu pemilik perusahaan ini, ruangannya ada di sebelah sana." Clara menunjukkan tangannya ke arah ruangan Papa Darman.


"Udah tau, saya anaknya," terangnya singkat, padat, dan jelas. Membuat Clara menelan ludah.


"Oh, jadi Anda anaknya Papa Darman, ya?" tanya Clara memastikan dengan penuh antusias.


"Ya, benar." Sedari tadi, pandangan Ben tak jelas ke arah mana karena gugup. Namun, kini, ia mencoba mengarahkan pandangannya tepat pada wajah Clara.


"Oh ya, nama kamu siapa?" tanya Clara. Mata mereka kini saling menatap.


"Aku Ben."


Clara lantas mengulurkan tangannya sebagai bentuk perkenalan yang resmi. Ia juga kembali menyebutkan namanya, disusul dengan Ben yang kembali menyebutkan namanya juga.


Perempuan cantik dan berhidung mancung itu kini mencoba mencerna tujuan Ben ingin berkenalan dengan dirinya. Ia pun merasa Ben tertarik pada dirinya. Terlebih, Ben nampak masih begitu muda. Tidak terlihat jika laki-laki itu sebenarnya sudah memiliki istri.


"Aduh, aku harus melanjutkan pekerjaanku, nih." Sadar telah menghabiskan cukup banyak waktu dengan Ben, ia pun paham harus melanjutkan pekerjaannya, walaupun yang ia ajak obrol adalah pewaris tahta perusahaan ini.


Clara meraih sebuah kart dari dalam sakunya bagian atas. "Ini kartu namaku. Nanti hubungi aku, ya."


Perempuan mana yang menolak jika diajak berkenalan dengan anak pemilik perusahaan. Terlebih, perempuan seperti Clara yang gila harta. Pun kini ia sedang sendirian, tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Walaupun, laki-laki lain yang mendekatinya sudah pasti ada. Dan banyak juga.


"Eh, jangan. Kita ke luar aja yuk, ke kafe," usul Ben. Ia adalah anak pemilik perusahaan ini, artinya ia juga berhak berbuat seenaknya.


"Duh, aku nggak berani, Ben," tolak Clara pura-pura. Ia sebenarnya sangat ingin meninggalkan pekerjaannya. Ia sangat ingin berkenalan lebih jauh dengan Ben. "Gimana, ya?" Ia mulai memberikan kode pada laki-laki yang baru saja dikenalinya itu.


"Bentar aku izin ke Papa," ucap Ben, melegakan hati Clara. Ben lantas ke ruang Papa Darman.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ben masuk ruangan. "Pa, aku izin ke kafe sama Clara, ya. Itu teman Ben dulu," ucap Ben dengan mengarang cerita. Padahal ia dan Clara sama sekali tidak kenal sebelumnya.


Ia bahkan baru bertemu Clara satu hari sebelumnya. Dan betapa mengejutkan, bahwa ternyata perempuan itu bekerja di tempat ini. Ben sangat bersyukur. Entah setan apa yang merasukinya. Kini ia sama sekali tidak ingat Lestari.


"Oke, Ben," jawab Papa Darman seadanya. Ia masih fokus menatap layar laptopnya.


Ben lantas ke luar ruangan Papa Darman dan langsung mengajak Clara untuk pergi ke coffee shop terdekat.


"Kita ke sana aja, jalan kaki," ajak Clara mengarahkan. Mereka pun berjalan kaki ke tempat tujuan.


Tiba di coffe shop, mereka memesan minuman yang sama. Awalnya, Ben menawari Clara, namun perempuan itu menjawab ingin minuman yang sama dengan dirinya agar lebih romantis. Ben pun mengiyakan.


Sementara itu, Lestari nampak begitu kelelahan di rumah. Perutnya sudah semakin terasa berat. Ia enggan berbelanja. Selain karena lelah untuk berjalan, ia juga masih menyimpan stock di dalam kulkas.


Perempuan itu tidak lagi antusias mendengar Ben ingin bekerja. Tidak lagi menyiapkan makanan istimewa untuk suaminya. Ia akan menyiapkan apa yang ada saja.


"Capek banget jadi ibu hamil," keluh Lestari. Ia membasuh keringat yang merembah di keningnya.