
Setelah kamarnya disiapkan oleh pembantu yang ada di sana, Lestari pun bisa menempati kamarnya. Mama Rita dengan telaten menemaninya. Juga mengeluarkan baju dan celana yang baru dibeli, jumlahnya cukup banyak.
Saat Mama Rita hendak keluar dari kamar itu, Lestari mencegahnya. "Mama," panggilnya.
Mama Rita kembali membalikkan badan. "Iya, Sayang? Ada apa?"
"Tari boleh cerita sebentar?" raut wajah Lestari berubah menjadi mendung.
Mendengar ucapan Lestari, Mama Rita pun langsung duduk di tepi ranjang. Tepat di sebelah sang menantu. "Boleh dong, Sayang. Mama akan dengar semuanya."
Lestari pun mulai mencurahkan apa-apa yang mengganjal dalam hati dan pikirannya. "Aku ngerasa Ben sekarang berubah jadi lebih cuek, Ma. Bahkan cuek banget," ungkap Lestari. Pandangannya menunduk, ia meratapi nasibnya.
"Dan tadi, aku seperti lihat dia lagi jalan sama perempuan pas di mall." Kalau untuk bagian ini, sejujurnya Mama Rita juga sudah mengetahui.
Lestari menatap mata mertuanya. Ada harapan besar ia bisa menjalanj hari-hari bersama Ben seperti dulu. Walaupun Ben cenderung kekanak-kanakan, tapi setidaknya ia merasa kehadiran Ben ada di rumahnya. Tidak seperti saat ini.
"Kami yang tenang dulu, ya. Mama mengerti perasaan kamu." Mama Rita mencoba membuat sang menantu lebih tegar. Ia mengusap-usap pundak Lestari. "Lebih baik kamu tinggal di sini dulu sama Mama dan Papa. Mau, kan?"
Lestari mengangguk. Bagaimana pun juga, ia masih harus bersyukur karena diberi mertua yang sebaik Papa Darman dan Mama Rita. "Makasih ya, Ma."
Di tempat lain, Ben nampak sedang berada di tempat yang begitu gelap bersama Clara. Tangan mereka saling berpegangan seraya mengarahkan pandangannya pada layar yang besar. Mereka menikmati film bergenre romansa sembari menikmati popcorn.
Sekitar satu jam lebih, film itupun akhirnya selesai. Clara izin untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
Setelah kurang lebih lima menit, Clara pun menampakkan batang hidungnya. Ia keluar dari kamar mandi.
"Kita langsung pulang aja, Sayang," ucapnya. Entah mengapa ia merasa suhu badannya mulai meninggi. Entah karena kelelahan, cuaca, atau faktor yang lainnya. "Aku kayaknya lagi nggak enak badan deh."
"Oh ya?" Ben menempelkan punggung tangannya pada kening Clara. Mencoba memeriksa apakah suhu badan perempuan itu benar-benar tinggi atau tidak.
Rupanya benar. "Kita mampir apotek dulu, ya. Beli paracetamol." Sikap Ben pada Clara sungguh berbanding terbalik dengan apa yang selama ini ditunjukkan kepada Lestari.
Jika dengan Lestari, Ben cenderung bersikap manja dan kekanak-kanakan. Tapi, berbeda saat dengan Clara. Ia bersikap layaknya orang dewasa. Bahkan ia begitu perhatian pada perempuan yang belim lama dikenalnya itu.
"Iya, Ben sayang. Makasih, ya."
Mereka pun beranjak menuju mobil Ben. Ben akan mengantarkan Clara pulang, tapi sebelum itu, ia akan membelk obat di apotek terlebih dahulu.
Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, mereka pun tiba di rumah Clara. Ben mengantarkan hingga depan rumahnya. Laki-laki itu belum punya nyali untuk menghadapi kedua orang tua Clara.
"Hati-hati, Ben," ucap Clara setelah turun dari mobil. "See you." Ia melambaikan tangan.
"Iya, kamu obatnya jangan lupa diminum. Biar cepat sembuh," pesan Ben. Ia lantas menancap gas mobil untuk pulang ke rumah.
Ben berkendara dengan santai selama perjalanan. Berharap saat dirinya sampai rumah nanti, Lestari sudah teridur pulas. Ia juga berharap tidak ada makanan-makanan lagi di atas meja sehingga dirinya tidak perlu repot-repot makan lagi. Ia sudah kenyang setelah makan malam dengan Clara sebelum ke bioskop.
Sekarang jam menunjukkan pukul 00.15, Ben tiba di rumahnya. Ia mengetuk pintu berkali-kali. Namun, tak ada yang membukanya. Jika biasanya Lestari selalu menyambutnya di depan rumah, kini tak lagi ada.
Syukurlah. Ben berharap Lestari sudah terlelap dalam mimpinya. Lagipula ini sudah terlalu malam. Ia semakin yakin bahwa istrinya itu sudah tidur.
Lantas dibukanya pintu yang terkunci itu. Ben memegang kunci cadangannya, yang kemudian ia buka. Tapi, rumahnya gelap semua. Pikirnya, mungkin Lestari benar-benar sudah tidur. Dan mengira dirinya tidak pulang malam ini.
Tapi, saat tiba di kamar yang juga masih gelap. Ia tidak mendapati sang istri setelah menghidupkan lampu.
"Dia di mana?" tanya Ben pada diri sendiri. Di kamar mandi pun, Lestari tidak ada. Entah ke mana perempuan sahnya itu.
Ia panik, namun tidak terlalu panik. Dalam hatinya, tidak ada niat untuk mencari Lestari, atau sekedar menghubunginya melalui ponsel.
Ben sudah mengantuk. Dan yang ada dalam kepalanya hanya ada Clara. Laki-laki itu mencoba menghubungi Clara untuk memastikan apakah sudah meminum obat atau belum.
"Halo," sapa Ben setelah panggilan videonya tersambung dengan Clara. "Lagi apa?"
Clara nampak sudah berganti baju. Ia sudah ada di atas ranjang. "Ini mau tidur. Obatnya udah aku minum."
"Syukur deh. Ya udah tidur sekarang, ya. Besok bisa kerja, kan? Biar kita bisa bertemu," ucap Ben penuh antusias. Hatinya selalu menggebu-gebu jika berkaitan dengan Clara.
"Iya, Sayang. Kita kan baru aja berpisah. Emang udah kangen lagi, ya?" Clara tersenyum karena begitu diratukan Ben. "Oh ya, tumben video call. Memangnya nggak ada istrimu?" tanya Clara penasaran. Tidak biasanya Ben melakukan panggilan video call di rumah.
"Iya, nggak ada. Apa jangan-jangan dia keguguran dan sekarang ada di rumah sakit?" Tiba-tiba Ben mengatakan hal buruk itu. Ia berucap dengan nada tanpa iba. Ia seolah berharap anak dalam perut Lestari sirna. Padahal itu adalah darah dagingnya.
"Wah, bisa jadi itu, Sayang. Kalau dia keguguran, berarti kita langsung menikah, kan?" tanya Clara tanpa ragu.
"Iya, Sayang. Tapi aku harus ceraikan dia dulu," ungkap Ben. Teganya ia mengatakan hal itu di belakang Lestari. Diam-diam mereka berdua membuat rencana jahat.
"Iya, Sayangku. Aku boleh nanya sesuatu nggak?" ucap Clara mulai terdengar serius.
Ben mengernyit. "Tanya apa emangnya?"
"Boleh apa enggak? Kalau nggak boleh ya udah." Clara menanggapi dengan nada yang begitu manja.
Melihat wajah cantik dan suara lembut Clara, Ben pun seolah terlena. Ia pun tersenyum. "Boleh dong, Sayang. Apa sih yang enggak buat kamu."
"Kamu kan anaknya Pak Darman, Sayang. Nah, harta warisannya apa udah dibagi-bagi?" tanya Clara cukup berani. Ia memang sudah mulai berani dengan Ben karena laki-laki itu memang menunjukkan rasa sayangnya pada Clara.
Ben terkekeh. "Dibagi-bagi gimana? Aku kan anak satu-satunya. Sudah pasti harta warisan Papa Mama untuk aku semua," papar Ben penuh percaya diri.
Clara tersenyum bahagia. Rasa sakit karena suhu badannya yang meninggi, seolah sirna. Ia sudah mengkhayal perihal hal indah-indah bersama Ben. Laki-laki idamannya yang hidupnya bergelimang harta.