
"Kamu punya pacar, Ben?" tanya Clara usai menyeruput minumannya. Ia terus memandangi Ben. Pikirannya jauh mengkhayal tentang hal indah bersama Ben, laki-laki yang baru dikenalinya.
Ia merasa sangat tertarik dengan Ben. Akhirnya, laki-laki kaya raya seperti Ben, ia dapatkan. Walau sebenarnya belum ia dapatkan, namun ia sudah yakin Ben sangat menyukainya. Hampir dari semua laki-laki yang menyukainya, menawarkan lamaran.
Namun, karena tidak ada yang sekaya Ben, Clara pun menolak secara halus dengan alasan yang beragam.
Ben menggelengkan kepala. "Enggak." Entah apa maksud Ben mengatakan hal ini.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari jawaban Ben. Ia memang tidak memiliki pacar, tapi ia memiliki istri. Seharusnya ia menerangkan dengan jelas.
"Wah, sama dong," sahut Clara dengan hati yang berbunga-bunga. Seolah ada lampu hijau yang menyala.
"Kamu juga nggak punya pacar?" tanya Ben. Minumannya sisa setengah gelas. Laki-laki itu memesan jus alpukat.
Clara menggeleng. "Aku baru diputusin Ben." Clara berbohong. Sebenarnya ia lah yang mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih sebelumnya karena menurutnya belum mapan.
Setelah berbincang-bincang cukup panjang, mereka pun kembali ke kantor. Ben langsung ikut ke ruangan Clara agar mereka bisa terus bersama-sama.
Clara mengajari Ben tentang pekerjaannya. Sembari ia juga mengerjakan pekerjaannya.
Entah kenapa Ben langsung paham dengan apa yang diajarkan Clara. Padahal biasanya ia paling malas untuk belajar. Mungkin karena diajari oleh perempuan cantik, hingga membuatnya lebih cepat mencerna apa yang diajarkan.
Tiba-tiba Clara dipanggil Papa Darman melalui gagang telepon. "Halo, Pak, selamat siang," sapa Clara pada Papa Darman.
"Clara, tolong bawa laporan keuangan bulan ini ke ruangan saya." Papa Darman meminta tolong Clara, ia ingin memeriksa laporan keuangan di hotel ini selama satu bula terakhir.
"Baik, Pak," jawab Clara. Ia lantas membawa berkas-berkas ke ruangan Papa Darman.
Clara mengetuk pintu. Setelah disuruh Papa Darman untuk masuk, Clara pun memasuki ruangan itu.
"Ini, Pak, berkas laporannya." Clara menyerahkan berkas-berkas yang dimaksud.
Papa Darman menoleh pada Clara. "Ya, terima kasih, Clara." Setelah memeriksa laporan keuangan, ia akan pulang karena sudah merasa lelah.
"Oh ya, Pak. Ben ada di ruangan saya," ucap Clara. Ia juga mengatakan bahwa dirinya mengajari Ben tentang pekerjaannya. Clara memang orang yang seperti itu, terkesan mencari perhatian.
"Benarkah?" Papa Darman mengerutkan dahi.
Clara mengangguk. Setelah tidak ada urusan maupun obrolan, Clara pun izin kembali ke ruangan.
Tak berselang lama, ponsel Papa Darman berdering. Ada nama Lestari yang muncul dalam layar ponsel laki-laki bertubuh tinggi itu.
"Halo, Pa?" sapa Lestari dari ujung telepon.
"Iya, Lestari. Ada apa?" balas Papa Darman sembari meregangkan otot-ototnya yang pegal karena duduk terlalu lama.
"Beben beneran kerja apa enggak ya, Pa?" tanya Lestari pelan-pelan. Sejujurnya ia sangat penasaran.
"Oh, iya. Dia sekarang sedang kerja sama salah satu akuntan di sini. Kebetulan temannya juga, mungkin akan betah bekerja, Tari." Papa Darman berkata apa yang diketahuinya. Ia juga tidak tahu jika sebenarnya Ben dan Clara bukanlan saling berteman sebelumnya.
"Apa benar seperti itu, Pa?" tanya Lestari memastikan dengan mata yang berbinar-binar. Ia tidak menyangka suaminya yang kekanak-kanakan itu akhirnya mau bekerja. Walaupun sebenarnya entah apa tujuan Ben mau bekerja. Terlebih, ia seolah ingin mendekati perempuan lain.
"Syukurlah, Pa. Tari sangat bersyukur." Setelah dirasa cukup, Lestari pun menutup sambungan telepon dengan mertuanya.
Seketika pikiran Lestari berubah. Kini ia ingin menyiapkan makan malam yang istimewa untuk Ben karena telah bekerja seharian. Suaminya itu pasti lelah. Apalagi ini hari pertama Ben bekerja. Sebagai seorang istri, sudah pasti ia ingin melakukan yang terbaik untuk sang suami.
Rasa lelah yang sedari tadi dipikul Lestari, kini ia coba untuk hilangkan. Ia akan berbelanja, membuatkan makanan yang istimewa untuk suami tercinta.
Rencananya ia mau membuat rendang. Ben sangat suka rendang buatan Mama Rita. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau ia juga akan menyukai rendang buatan Lestari setelah mencicipinya nanti.
Karena tidak ada stok daging, Lestari pun memesan melalui aplikasi ojek. Ia ingin membeli daging kualitas terbaik. Sembari menunggu pesanannya tiba, Lestari pun menyiapkan alat dan bahan.
Mentari perlahan mulai tenggelam. Di kantor Papa Darman, Ben dan Clara nampak begitu akrab walau baru kenal satu hari.
"Udah jam segini, Ben. Kita siap-siap pulang." Jam menunjukkan pukul empat sore. Clara mengajak Ben pulang. Sebenarnya, itu adalah kode untuk Ben agar laki-laki itu mau mengantarnya pulang.
"Oh pulangnya jam segini?" Ben pun berdiri mengikuti Clara yang mulai berdiri untuk bersiap-siap pulang.
"Iya, Ben."
"Kamu bawa mobil?" tanya Ben. Jiwa laki-lakinya keluar, ia menawarkan diri untuk mengantarkan perempuan cantik.
"Enggak, Ben. Mobilku lagi di bengkel. Tadi pagi aku naik taksi," jelas Clara seraya meraih tasnya.
"Ya udah, bareng aku aja, ya."
Clara pun mengiyakan tawaran Ben dengan hati bahagia. Harapannya pun berjalan sesuai rencana.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Ben rela mengantar perempuan itu meski rumah mereka tidaklah searah.
"Kamu nggak apa-apa nganterin aku sejauh ini, Ben?" tanya Clara berpura-pura merasa keberatan. Padahal dalam hatinya, ia seolah merayakan kemenangan.
"Nggak lah. Deket kok ini," pungkas Ben.
Jarak rumah Clara dari kantor sekitar satu jam. Itu artinya Ben membutuhkan waktu 2 jam lebih 15 menit untuk sampai di rumahnya.
Di rumah, Lestari nampak sedang menyiapkan makan malam. Rendang buatannya sudah jadi dan sudah ia cicipi. Rasanya enak. Berbekal dari tutorial di youtube, ia berhasil membuat rendang.
Sebenarnya Lestari bukanlah perempuan yang pandai memasak. Hanya saja, ia ingin menjadi perempuan yang pandai memasak agar bisa menyenangkan hati suaminya.
Pukul 18.30, Ben tiba di rumahnya. Lestari menyambut suaminya itu dari depan pintu.
"Bebenku sayang, kok baru pulang?" Lestari menabrakkan dirinya ke pelukan Ben. Satu hari terasa seperti satu minggu. Biasanya ia menghabiskan banyak waktu bersama Ben di rumah. Tapi, kini rasanya sudah berbeda. Mungkin karena ini baru hari pertama.
"Iya, pijitin aku, ya. Capek semua badanku," ucap Ben penuh manja. Seolah tidak terjadi apa-apa selama seharian ini.
Ia berdekatan dengan perempuan lain, bahkan mengantarnya pulang. Hal yang tak pantas dilakukan oleh seorang suami. Karena kalau sang istri mengetahui, sudah pasti hatinya akan teriris-iris.
Dengan senang hati, Lestari mengiyakan permintaan suaminya. "Ya udah nanti aku pijitin ya. Sekarang makan dulu terus mandi."
Mereka pun masuk ke dalam rumah, beranjak menuju ruang makan. Sudah ada sepiring rendang buatan Lestari. Ia juga telah menyiapkan segelas teh hangat dan air putih untuk Ben.