The Childish Husband

The Childish Husband
Aroma Parfum



Kini jam tepat menunjukkan pukul 18.45, dan Ben belum kunjung pulang juga. Lestari menunggu sang suami dengan penuh khawatir dan gelisah.


"Aduh, Beben. Kok belum pulang-pulang juga," ucapnya dengan diri sendiri. Kini ia tengah menunggu Ben di teras rumahnya. Ia duduk di atas kursi yang terbuat dari rotan. Ada banyak tanaman dan bebungaan, tapi pandangannya tak tertarik ke sana. Ia sedang menanti-nanti sang suami.


Setelah lima belas menit kemudian, Ben akhirnya tiba di rumah.


"Beben!" ucap Lestari seraya merengkuh erat tubuh kekar sang suami. Ia sangat merindukan Ben. Biasanya, Ben akan membuat ulah sepanjang hari. Lalu membuat Lestari mengomel tiada henti.


Tapi sekarang, sudah tidak bisa lagi. Ben terlalu menurut dengannya. Entah mengapa Lestari menjadi rindu dengan sosok suaminya yang dulu. Sosok yang sering membuat kegaduhan, sosok yang kekanak-kanakan, ternyata semua itu kini hanya bisa Lestari rindukan.


"Bebenku sayang," lirih Lestari dalam dekapan Ben. Sedangkan Ben hanya terdiam sedari tadi. Ia juga membalas pelukan Lestari. Tapi, sepatah kata pun tidak keluar dari bibirnya. "Kamu lembur, ya, Sayang?" tanya Lestari.


Kini ia mulai memanggil Ben dengan sebutan sayang. Rasa sayangnya pada Ben kini berjuta-juta kali lipat dibanding sebelumnya. Bukan hanya karena sekarang lebih sering ditinggal, tapi juga karena hormon Lestari yang sedang hamil sehingga ingin lebih sering dimanja.


"Iya," ucap Ben singkat. "Aku mau mandi dulu." Ben berniat mengakhiri pelukan itu. Tapi, Lestari mencegahnya.


Saat itu juga, Lestari seolah menghirup aroma parfum yang mana bukan milik suaminya. Seketika ia mematung.


Deg.


Hatinya berdegup. Ia benar-benar takut jika apa yang dirasakan Bu Eni, akan dirasakan olehnya juga. Tapi, tidak boleh. Ia berusaha menepis keras pikiran buruknya itu. Ia harus selalu berpikir positif agar yang terjadi padanya juga hal-hal positif.


"Oh, iya mandi dulu, Sayang. Biar aku siapkan baju gantinya, ya. Habis itu langsung makan. Udah aku siapkan semuanya untuk kamu." Lestari memang seniat itu. Meski usia kandungannya tak lagi muda, tapi ia tetap ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya.


"Tapi, aku nanti mau pergi sama teman," ucap Ben membuat hati Lestari teriris. "Tapi, makan malam dulu, kan? Sama aku," tanya Lestari memastikan. Takutnya ia salah dalam mendengar.


Lagipula ia juga sudah sedari tadi menahan lapar untuk menanti Ben. Ia ingin menikmati makan malam bersama suami tercinta.


"Enggak. Aku ada meeting sama teman kantor, sekalian makan di sana," tutut Ben seraya melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia bergegas menuju kamar. Sementara itu, Lestari mengekor dari belakang.


"Beben sesibuk itu sekarang?" tanya Lestari dengan mata yang menggenang. Sebisa mungkin air matanya ia tahan.


"Iya, Kak. Maaf, ya," tutur Ben, membuat hati seorang Lestari tak karuan.


Teganya suaminya mengatakan hal itu pada dirinya. Lestari bahkan kelelahan karena memasak untuk Ben. Padahal ia bisa saja membeli makanan yang telah jadi. Tapi, ia rela memasak dengan susah payah agar sang suami senang menikmati makanan istrinya. Tapi, yang didapat Lestari justru seperti ini.


Perempuan itu jadi berpikir keras. Apa mungkin masakannya tidak enak?


Ben lekas masuk ke dalam kamar mandi. Ia meraih handuk terlebih dahulu. Sementara itu, Lestari masih melamun. Ia bercermin dan terus bercermin tentang masakannya.


Setelah beberapa detik masuk ke dalam kamar mandi, Ben kembali ke luar namun dalam keadaan belum mandi. Ia masih mengenakan handuk, tubuhnya pun masih kering. Lestari hanya memandanginya.


Ben kemudian meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas ranjang. Lestari masih terus memandangi gerak-gerik suaminya itu.


"Beben?" panggil Lestari cukup keras ke arah kamar mandi, namun Ben tak menyahuti sama sekali.


Sontak Lestari berdecak kesal. Perubahan sikap Ben membuat perempuan itu menjadi uring-uringan. Memang, biasanya Ben juga cuek dan dingin. Hanya saja kali ini berbeda dari sebelumnya. Entah bagaimana pastinya, tapi semua dapat dirasakan oleh Lestari.


Saat Ben telah pergi untuk meeting dengan rekan kerjanya, Lestari sengaja menghubungi Papa Darman. Ia menanyakan perihal meeting bersama rekan kantor, apakah benar atau hanya alasan Ben semata.


"Kurang tau, Tari. Papa seharian tadi di rumah, kurang enak badan." Jawaban Papa Darman sama sekali tidak memuaskan. Lestari kini bingung harus bertanya kepada siapa. Rasanya sekarang menjadi sulit untuk percaya kepada suaminya.


Setelah mendengar curahatan hati bu Eni, ditambah aroma parfum asing pada baju Ben, membuat Lestari tak bisa berpikir positif lagi. Meski buktinya masih kurang, tapi sudah sewajarnya Lestari sebagai istri mulai curiga.


Lelah berpikir keras, Lestari pun memilih tidur. Ia hanya bisa memeluk guling, walau sebenarnya pelukan Ben sangat dibutuhkan oleh dirinya saat ini.


***


Mentari telah menampakkan wajahnya dari ufuk timur. Seperti biasa, Ben bersiap-siap menuju ke kantor. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia menjadi begitu semangat. Tidak seperti sebelumnya, saat sebelum bekerja.


Sementara itu, Lestari masih tidur-tiduran. Rasa malasnya kini terus meningkat. Selain faktor usia kandungan yang semakin menua, tapi juga karena sikap Ben yang kian berubah seolah-olah menganggap Lestari tidak ada.


"Aku berangkat dulu," ucap Ben tanpa berbasa-basi. Tadi, ia yang menyiapkan pakaiannya sendiri. Lestari sudah malas melakukan kewajibannya untuk melayani sang suami.


"Ya, sarapan di luar, kan?" tanya Lestari dengan sedikit ketus. Lama-lama ia sebal melihat wajah suaminya.


"Iya," jelas Ben singkat. Ia lantas bergegas berangkat menuju kantor.


Di perjalanan, Ben tidak langsung mengarahkan mobilnya menuju kantor. Ia akan menjemput Clara terlebih dahulu. Walau membutuhkan waktu lama, dan akan telat pastinya. Tapi, tidak apa-apa. Ia berhak melakukan apa saja karena ia adalah anak dari pemilik tempat ia bekerja.


Clara semakin senang karena Ben dan dirinya kian akrab setiap harinya. Meski tidak ada status apa-apa, namun perlakuan Ben padanya akhir-akhir ini, sudah jelas menunjukkan bahwa Ben sangat menyukak dirinya. Ia bahkan sudah menunggu kapan Ben akan mengungkapkan perasaannya.


"Morning, baby," sapa Clara saat masuk ke dalam mobil Ben.


Ben mengulas senyum. "Morning too," balasnya. Mobilnya melaju kencang selama beberapa saat, sebelum akhirnya terjebak macet.


"Yah, macet," ucap Clara dengan spontan karena melihat jalanan yang begitu padat dengan kendaraan. "Nanti telat, dong," imbuhnya.


"Udah nggak apa-apa. Nanti aku bilangin ke Papa," sahut Ben dengan santai. Tanpa ragu, ia justru meraih tangan perempuan itu. "Yang penting kita bisa berdua."


Mendengat perkataan Ben yang begitu manis, hati Clara pun seolah melayang-layang. Ia membalasnya dengan seuntai senyuman. "Iya, Ben."


Senbari menunggu jalanan memungkinkan untuk dilalui, mereka memilih memutar lagu My Heart Will Go On.