
Bu Eni pun meninggalkan sang anak yang berusia 3 tahun itu di rumah Ben dan Lestari. Ben berdecak kesal saat mengetahui kehadiran anak kecil itu. Ia tidak suka anak kecil. Padahal, mau tidak mau, beberapa bulan lagi juga dia akan mempunyai seorang anak.
"Itu si bocil nanti tidurnya di mana?" tanya Ben dengan nada kesal. Apalagi anak kecil itu mulai merengek ini dan itu padahal baru beberapa menit bersama mereka.
"Ya tidur sama kita lah, Beben." Lestari nampak sedang berusaha menghibur anak kecil itu agar tidak rewel.
"Tuh kan, aku nggak mau tidur bertiga bareng bocil itu." Ben mulai merengek. Ia dan anak kecil itu, sepertinya tak ada bedanya.
"Ya masa anak sekecil ini mau dibiarin tidur sendiri sih, Ben. Apa kamu tega?" Lestari jadi bingung.
"Tega," sahut Ben enteng. Ia masih memainkan PlayStation yang baru dibelinya. Pandangannya fokus pada layar pipih di depannya.
"Nggak boleh gitu, dong, Beben. Sebentar lagi kan kita juga punya anak." Memang sedari awal, tujuan ia mau menjaga buah hati tetangganya itu tak lain dan tak bukan adalah karena ingin belajar mengurus anak.
"Tapi anak kita nanti kan lucu, lah anak ini nggak ada lucu-lucunya sama sekali," cibir Ben. Anak kecil itu memang nampak kurus dengan rambut keriting dan berkulit hitam. Tak ada lucu-lucunya sama sekali di mata Ben.
"Hus!" tegas Lestari mengingatkan. "Beben nggak boleh gitu! Semua anak itu sama aja, harus disayangi, harus dipedulikan, okay?"
"P-pipis," celetuk si kecil dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia nampak seolah tidak nyaman. Barangkali karena mendengar perkataan dari Ben. Anak dengan usia 3 tahun sudah paham dengan apa yang orang dewasa bicarakan.
"Pipis? Mau pipis?" tanya Lestari hati-hati. Dalam hatinya, ia juga berpikir bagaimana cara menghadapi anak kecil yang ingin membuang air seni.
Anak kecik itu mengangguk. Sorot matanya seperti ketakutan. Selain karena mendengar ucapan Ben yang seolah tidak menerima dirinya, ia juga sangat asing dengan Ben dan Lestari.
"Aduh, Beben. Gimana ini?" keluh Lestari. Ia benar-benar tidak tahu menghadapi situasi seperti ini.
"Lagian kamu sih, Kak, kenapa mau-mau aja disuruh jaga anak?" Bukan membantu sang istri, Ben justru menyudutkan perempuan yang telah ia hamili itu.
"Mau pipis," ucap anak itu sekali lagi. Ia seolah sudah menahannya sedari tadi.
"Sayang, kamu sudah bisa pipis sendiri?" Lestari memastikan terlebih dahulu, dengan harapan yang besar anak itu mengatakan 'ya'.
Namun, tak seperti yang diinginkan, anak kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Lestari kebingungan setengah mati.
"Beben! Bantuin, dong," pinta Lestari. Ia butuh kekompakan bersama sang suami.
"Nggak mau, Kakak aja sendiri," ucapnya seraya masih terus memainkan mainan barunya.
Lestari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terus memandang anak kecil tak berdosa itu. "Ya sudah, sayang, ayo kita ke kamar mandi."
Tiba di kamar, anak kecil itu lantas menutul pintu sehingga memisahkan dirinya dengan Lestari. Membuat Lestari semakin menerka-nerka dan khawatir.
"Sayang? Kok ditutup?" tanya Lestari dengan perasaan cemas. Ia terus mengetuk pintu kamar mandi.
Tak lama kemudian, anak itu keluar dengan perasaan lega karena telah mengeluarkan apa yang sempat ia tahan. "Sudah," ucapnya pelan. Membuat Lestari juga lega mendengarnya.
Sekarang, anak kecil itu minta tidur. Matanya memang nampak sudah mengantuk. Lantas Lestari mengajak anak itu naik ke atas ranjang.
"Jangan pakai bantalku!" tegur Ben saat melihat anak kecil itu mendaratkan kepalanya di atas bantal Ben. Memang hanya ada dua bantal di sana. Satu milik Ben, satu milik Lestari.
Karena ucapan sang suami, Lestari pun mencari satu bantal lagi khusus anak kecil itu. Ia mencari-cari di kamar lain, kebetulan ada yang ukurannya lebih kecil. Pasti akan membuat anak itu lebih nyaman dengan bantal ini. Ia pun meletakkan bantal itu di tengah-tengah bantalnya dan bantal sang suami.
"Nah, ini bantalnya. Sini Sayangku, kita tidur, ya." Lestari begitu ramah dengan anak itu. Ia pun memeluk dan menepuk-nepuk dengan pelan paha anak itu agar membuatnya nyaman.
Ben melirik. Sejenak menghentikan aktivitasnya. "Kak?" panggilnya pada sang istri. "Aku juga mau," ucapnya seraya mematikan PlayStation yang tadi dimainkan.
"Ya udah sini," balas Lestari. Kini anak kecil itu diapit oleh Ben dan Lestari. Mereka sudah seperti satu keluarga yang lengkap.
Pandangan Lestari tak beralih dari wajah anak kecil itu. Ia membayangkan kelak jika sudah mempunyai anak. Sementara Ben dari tadi masih menampakkan wajah yang cemberut.
"Kak?" panggilnya. "Mau peluk juga," ucap Ben dengan nada yang begitu manja.
"Ya gimana, nggak bisa, Beben," ucap Lestari dengan suara pelan, khawatir mata anak kecil itu kembali terbuka.
"Aku mau di sebelahmu aja." Tanpa menunggu lama, Ben lantas beralih ke sebelah sang istri. Membuat anak kecil itu ada di sisi pinggir.
Lestari khawatir. "Si dedek jadi di pinggir kalau begini, nanti kalau jatuh gimana?"
Tanpa menjawab apa-apa, Ben lantas memeluk tubuh Lestari dengan erat. Rasa-rasanya, Ben tengah dilanda cemburu dengan anak kecil itu. Ia tidak rela jika perhatian Lestari ditujukan kepada selain dirinya.
Sesekali, Ben juga mencium pipi chubby sang istri. Ben merasa begitu nyaman sekali dengan posisi seperti ini. Mereka bertiga pun akhirnya terlelap walaupun sebenarnya ini belum begitu larut untuk tidur.
***
Pagi-pagi sekali, Lestari sudah beranjak dari ranjang. Tubuh anak kecil perempuan yang dititipkan padanya sejak semalam, dirapatkan lebih dekat dengan Ben. Agar anak kecil itu tidak bergerak hingga melampaui tepi ranjang. Walau tidak begitu luwes, tapi Lestari melakukannya dengan sepenuh hati, seperti anak sendiri.
Perempuan itu lantas mencuci muka dan menggosok gigi, untuk kemudian melangkahkan kaki menuju dapur. Hendak memasak dengan bahan-bahan seadanya di dalam kulkas. Hanya ada sosis, nugget, dan telur. Tapi, menurutnya, anak kecil pasti suka. Tidak lupa, ia juga membuat nasi goreng.
Ia menyajikan makanan itu membentuk sebuah karakter wajah, dengan wajah dasar yang berasal dari putih telur, mata dari sosis yang diiris melingkar, dan mulut dari nugget yang diukir menjadi senyuman.
Setelah selesai, ia mendapati anak kecil itu sudah duduk di atas ranjang dengan tatapan murung. Sudah jelas ia teringat dengan orang tuanya. Lestari memeluk sejenak untuk menenangkan, lantas diajaknya anak kecil itu menuju meja makan.
"Makan dulu, ya, Sayang." Lestari mendudukkan anak kecil itu. Ia mulai menyuapinya.
"Saya bisa makan sendiri, Tante." Anak kecil itu sudah mulai mau berbicara. Mungkin karena usai dipeluk Lestari semalaman, menjadi sudah nyaman.
Tiba-tiba Ben datang.